Dinginnya udara pegunungan malam ini seolah meresap hingga ke sumsum tulang, namun rasa dingin yang paling tajam justru berasal dari benda logam di pinggangku. Aku menatap layar monitor di ruang kendali sementara resort ini, memerhatikan sosok Anya yang meringkuk di sudut tempat tidur melalui kamera pengawas. Dia tampak rapuh, jauh dari gadis provokatif yang dulu menggoda kesabaranku di kursi belakang limosin.
Suara statis dari *earpiece* di telingaku memecah keheningan. "Liam, pembeli sudah bergerak. Lima menit lagi, bawa aset ke titik penjemputan. Jika dia melawan, kau tahu prosedurnya."
Itu suara Markus, komandanku. Pria yang mengajariku bahwa emosi adalah c**** produksi dalam diri seorang prajurit. Aku menarik napas panjang, aroma mesiu dan kayu tua memenuhi paru-paruku. Seharusnya ini mudah. Serahkan Anya, ambil bagianku, dan menghilang. Tapi bayangan tangan Anya yang gemetar saat ia memohon penjelasan pagi tadi terus menghantuiku. Si****. Gairah itu bukan sekadar akting, dan pengkhianatan ini terasa seperti pisau yang kuputar di dadaku sendiri.
Aku mematikan saluran komunikasi. Dengan langkah tenang yang terlatih, aku berjalan menyusuri koridor sunyi menuju kamar Anya. Dua penjaga di depan pintu berdiri tegak saat melihatku.
"Markus ingin dia dipindahkan sekarang," ucapku datar. Suaraku tidak bergetar, meski jantungku berdegup kencang melawan logika.
"Instruksinya adalah menunggu tim Charlie, Liam," salah satu dari mereka mengernyit, tangannya turun ke arah sarung pistol.
Aku tidak memberi mereka kesempatan untuk bertanya lebih lanjut. Dalam satu gerakan halus, aku menghantam jakun pria di sebelah kiri dan memutar lengan pria lainnya hingga terdengar bunyi retakan yang memuakkan. Sebelum mereka sempat berteriak, aku memastikan keduanya pingsan di lant**. Tanganku sedikit gemetar saat mema**kkan kunci elektronik ke pintu Anya.
Begitu pintu terbuka, Anya tersentak. Matanya yang sembab melebar melihatku, kilatan kebencian dan ketakutan terpancar dari sana.
"Pergi! Jangan sentuh aku lagi, kau i****!" teriaknya, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.
"Anya, diam dan dengarkan aku," aku mendekat, mencoba meraih bahunya, tapi dia menepis tanganku dengan kasar. "Aku akan membawamu keluar dari sini. Sekarang."
"Kenapa? Supaya kau bisa menjualku ke orang lain? Berapa harga yang mereka tawarkan, Liam? Apakah sebanding dengan semua kebohongan yang kau berikan padaku?"
"Anya, tidak ada waktu untuk ini!" Aku mencengkeram lengannya, memaksanya menatap mataku. Aku ingin dia melihat kejujuran yang terlambat ini. "Jika kau tetap di sini, kau akan mati. Mereka tidak akan membiarkan saksi hidup setelah transaksi selesai. Pilihannya hanya satu: ikut denganku atau mati di tangan mereka."
Anya terdiam, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Matanya mencari-cari kebohongan di wajahku, namun yang ia temukan hanyalah keputusasaan yang sama besarnya dengan miliknya. Akhirnya, dia mengangguk pelan, meski tubuhnya masih gemetar hebat.
Kami baru saja mencapai ujung koridor saat alarm mulai melolong, membelah kesunyian malam dengan suara melengking yang menyakitkan telinga.
"Target melarikan diri! Liam berkhianat! Tembak di tempat!" Suara Markus menggelegar dari pengeras suara gedung.
"Lari, Anya! Jangan lepaskan tanganku!" teriakku.
Kami berlari menuju lobi utama, tempat satu-satunya akses menuju kendaraan pelarian yang sudah kupersiapkan di balik semak-semak. Tiba-tiba, kaca jendela di samping kami pecah berkeping-keping. Rentetan peluru menghantam dinding kayu, menyebarkan serpihan tajam ke segala arah.
Aku menarik Anya ke balik pilar marmer besar. "Tetap di belakangku! Jangan menengok!"
Aku mencabut Glock-17 dari pinggangku. Dua orang pria bersenjata muncul dari balik bar. Aku melepaskan tiga tembakan presisi. Dua tepat di dada, satu di kepala. Mereka tumbang seketika, tapi lebih banyak lagi yang berdatangan dari arah dapur. Suasana resort yang mewah itu kini berubah menjadi medan jagal yang bising oleh suara tembakan dan bau belerang.
"Liam, aku takut..." bisik Anya di belakang punggungku. Aku bisa merasakan jemarinya mencengkeram jaketku dengan sangat erat.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu, Anya. Aku janji," kataku, lebih kepada diriku sendiri.
Kami bergerak maju, memanfaatkan setiap celah perlindungan. Aku harus mengosongkan jalan menuju pintu keluar samping. Setiap kali aku menarik pelatuk, aku merasa sebagian dari diriku yang lama mati. Aku mengkhianati organisasiku, saudaraku, demi seorang wanita yang seharusnya hanya menjadi mangsaku.
Saat kami hampir mencapai pintu keluar yang menuju area parkir belakang, sebuah bayangan muncul dari lant** mezanin di atas kami. Itu Markus. Dia mengarahkan senapan laras panjangnya tepat ke arah Anya.
"Kau lemah, Liam! Kau membiarkan pe***** ini merusak kepalamu!" teriak Markus sebelum menarik pelatuk.
Waktu seolah melambat. Aku melihat moncong senjata itu mengeluarkan api. Tanpa berpikir, aku memutar tubuhku, memeluk Anya sepenuhnya, dan menggunakan punggungku sebagai perisai manusia.
*PLAK!*
Rasa panas yang luar biasa menghantam bahu kiriku, menembus otot dan syaraf. Aku mengerang keras, rasa sakitnya seperti disiram cairan timah mendidih. Tubuhku terdorong ke depan, menyeret Anya jatuh bersamaku ke lant** yang dingin.
"Liam!" Anya menjerit, tangannya yang halus kini terasa basah oleh cairan hangat yang merembes dari jaketku. "Kau berdarah!"
"Jalan... terus ke bawah..." aku terbatuk, rasa anyir darah mulai terasa di pangkal tenggorokanku. Aku membalas tembakan ke arah mezanin dengan tangan kanan yang masih stabil, memaksa Markus untuk berlindung sejenak.
Aku memaksa kakiku untuk berdiri meski pandanganku mulai kabur di tepiannya. Aku merangkul pinggang Anya, menyeret tubuhku sendiri yang mulai terasa berat. Kami berhasil keluar menembus pintu samping, menuju kegelapan hutan yang dingin. Di kejauhan, aku bisa mendengar suara mesin mobil dan gonggongan an**** pelacak yang mulai mendekat.
Aku menyandarkan tubuh di sebuah pohon besar, napas kami berdua tersengal-sengal di tengah kabut malam. Aku menatap Anya; wajahnya pucat pasi, matanya terpaku pada luka di bahuku yang terus mengalirkan darah segar ke atas salju tipis di bawah kaki kami.
"Kenapa?" bisiknya, suaranya pecah. "Kenapa kau menyelamatkanku setelah semua yang kau lakukan?"
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang penuh rasa sakit. "Karena ternyata... aku adalah aktor yang sangat buruk, Anya. Aku mulai mempercayai kebohonganku sendiri."
Suara langkah kaki berat yang menginjak ranting kering terdengar semakin dekat. Mereka tidak jauh di belakang kami. Aku memeriksa sisa peluru di senjataku. Tinggal tiga butir. Sementara di depan sana, hutan ini terlalu luas untuk dilalui dengan luka tembus di bahu.
Aku tahu ini belum berakhir. Markus tidak akan berhenti sampai kepalaku terpajang di atas mejanya, dan Anya... Anya kini adalah satu-satunya alasanku untuk tetap bernapas, meski setiap detak jantungku terasa seperti siksaan.
"Anya, dengarkan aku," aku memegang wajahnya dengan tangan yang berlumuran darah. "Jika terjadi sesuatu, kau harus terus berlari ke arah utara. Jangan menoleh. Mengerti?"
Namun sebelum Anya sempat menjawab, sebuah lampu senter yang sangat terang menyorot tepat ke arah kami dari balik kegelapan pohon, diikuti oleh suara kokangan senjata yang serempak. Kami terkepung.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!