Deru baling-baling helikopter di kejauhan terdengar seperti detak jantung raksasa yang memacu adrenalin di nadiku. Suaranya memantul di antara dinding tebing, m****akkan telinga, namun bagiku itu adalah melodi kebebasanβatau mungkin awal dari kehancuran yang baru. Aku tidak tahu pasti.
"Anya... tinggalkan aku."
Suara Liam nyaris hilang ditelan angin gunung yang menggigit. Berat tubuhnya yang bersandar padaku terasa seperti memikul beban seluruh dunia. Napasnya pendek, tersengal, dan setiap langkah yang kami ambil meninggalkan jejak merah pekat di atas salju yang mulai mencair. Tangan kananku melingkar di pinggangnya, jemariku tenggelam dalam kain kemejanya yang basah dan lengket oleh darah. Bau besi yang amis menyengat indra penciumanku, bercampur dengan aroma maskulin Liam yang kini terasa memuakkan sekaligus memabukkan.
Aku mendengus, mencoba mengabaikan rasa perih di bahuku yang kelelahan. "Diam, Liam. Jangan coba-coba memerintahku sekarang. Kau bukan lagi pelindungku."
Aku menatap profil samping wajahnya. Rahangnya yang tegas kini tampak pucat pasi, tetesan keringat dingin membasahi keningnya. Pria ini, yang beberapa malam lalu menyentuhku dengan gairah yang begitu meyakinkan, ternyata hanyalah seorang aktor ulung. Seorang tentara bayaran yang melihatku tak lebih dari sekadar tumpukan uang tebusan. Logikanya sederhana: aku harus membiarkannya ambruk di sini. Aku harus melepaskan peganganku, membiarkannya mati kehabisan darah di tengah hutan terpencil ini sebagai balasan atas setiap kata manis palsu yang ia bisikkan di telingaku.
Namun, saat tangannya yang besar dan kasar tanpa sengaja menggenggam lenganku untuk mencari keseimbangan, hatiku berkhianat. Getaran di tangannya memberi tahu betapa dekatnya dia dengan ambang kematian.
"Kenapa kau melakukan ini?" bisik Liam lagi, suaranya parau. Ia terbatuk, dan aku bisa merasakan tubuhnya menegang kesakitan. "Kau bisa lari sendiri ke arah suara itu. Mereka akan menemukanmu. Kau akan aman."
"Dan membiarkanmu mati dengan tenang?" aku menyahut tajam, meski mataku mulai memanas. "Tidak. Itu terlalu mudah bagimu, Liam Alister. Aku ingin kau tetap hidup agar kau bisa melihat betapa aku membencimu setiap harinya. Aku ingin kau membusuk di penjara, bukan menjadi pupuk di hutan ini."
Kebohongan yang indah. Aku tahu itu. Sebagian kecil dari diriku yang masih hancur berantakan meronta, berteriak bahwa aku tidak sanggup kehilangan pria ini, meski ia adalah monster yang mengkhianatiku. Aku membencinya karena ia membuatku merasa berharga, lalu menghancurkan perasaan itu dalam sekejap fajar.
Kami merangkak naik melewati tanjakan berbatu. Setiap inci pergerakan adalah siksaan. Liam tergelincir, lututnya menghantam tanah dengan keras, menyeretku ikut terjatuh. Aku merintih saat lututku tergores batu tajam, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan pemandangan Liam yang kini terkapar, matanya mulai sayu.
"Liam! Bangun!" aku mengguncang bahunya dengan kasar. "Jangan berani-berani menutup matamu!"
"Anya..." tangannya yang berlumuran darah bergerak lemah, menyentuh pipiku. Sentuhan itu meninggalkan noda merah di kulitku, sebuah tanda kepemilikan yang mengerikan. "Maafkan aku..."
"Jangan minta maaf! Aku tidak butuh maafmu!" teriakku, suaraku serak karena amarah dan tangis yang kutahan. "Bangun dan berjalanlah! Kau adalah Liam Alister, agen ganda si**** yang bisa melakukan apa saja, bukan? Tunjukkan padaku!"
Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, aku menarik lengan pria itu ke bahuku lagi. Aku berteriak saat memaksakan kakiku berdiri. Kami berjalan terseok-seok, menembus rimbunnya pepohonan hingga akhirnya kami mencapai area terbuka di puncak bukit.
Cahaya menyilaukan dari lampu sorot helikopter menyapu permukaan tanah, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan. Angin dari baling-baling menerjang kami, menerbangkan rambutku dan debu di sekeliling. Aku melihat sosok-sosok berseragam mulai turun dengan tali, senjata laras panjang tersampir di bahu mereka.
"Di sini!" teriakku, meski suaraku tenggelam oleh deru mesin. "Tolong!"
Liam ambruk di kakiku saat para pria berseragam itu berlari mendekat. Aku jatuh terduduk di sampingnya, memangku kepalanya yang terasa berat. Dalam kekacauan itu, saat petugas medis mulai menariknya dariku, Liam sempat membuka matanya sedikit. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβada penyesalan, kerinduan, dan sesuatu yang jauh lebih gelap di sana.
"Kau menyelamatkanku, Anya," bisiknya nyaris tak terdengar sebelum matanya terpejam sepenuhnya.
Aku berdiri mematung, menatap tanganku yang kini merah sepenuhnya oleh darahnya. Tim penyelamat mulai membawanya ke dalam helikopter dengan tandu, sementara seorang petugas lain mencoba menyelimutiku dengan kain thermal dan membimbingku menuju pintu helikopter yang terbuka lebar.
Aku menoleh ke belakang, ke arah kegelapan hutan yang baru saja kami tinggalkan. Aku bebas sekarang. Ayahku pasti sudah menunggu. Uang akan kembali mengalir, dan hidupku akan kembali aman di balik dinding emas. Namun, saat aku melangkah ma**k ke dalam kabin helikopter yang bising dan melihat tubuh Liam yang tak berdaya dipasangi berbagai alat medis, sebuah kesadaran dingin menusuk jantungku.
Aku tidak menyelamatkannya agar dia bisa dihukum. Aku menyelamatkannya karena aku tidak tahu bagaimana cara hidup di dunia di mana dia tidak ada lagi. Dan saat helikopter mulai terangkat meninggalkan bumi, aku menyadari satu hal yang mengerikan.
Pria yang ada di tandu itu bukan lagi penculikku. Dia adalah candu yang sudah terlanjur mengalir di darahku, dan permainan ini baru saja mema**ki babak yang paling mematikan. Karena di antara kebisingan mesin, aku mendengar salah satu pria berseragam itu berbicara melalui radio dengan nada yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang penyelamat.
"Target pertama sudah diamankan. Target kedua sedang dalam kondisi kritis. Instruksi?"
Aku membeku. Suara itu bukan suara tim penyelamat keluargaku. Aku menatap logo di seragam pria yang berdiri di depanku, dan itu bukan logo kepolisian maupun perusahaan keamanan ayahku. Aku menoleh ke arah Liam, namun pria itu masih tak sadarkan diri, tak tahu bahwa kami mungkin baru saja melompat dari mulut serigala ke dalam sarang singa yang lebih lapar.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!