Aroma parfum mawar yang mahal dan tajam memenuhi kabin kedap suara mobil Lexus hitam ini, bercampur dengan bau kulit jok yang masih baru. Aku bisa merasakannya melalui cermin tengahβtatapan itu. Anya Clarissa tidak pernah repot-repot menyembunyikan rasa ingin tahunya, atau lebih tepatnya, obsesinya untuk menaklukkan.
Aku tetap fokus pada jalanan Jakarta yang mulai remang ditelan senja, tanganku mencengkeram kemudi dengan ritme yang konstan. Di balik setelan jas hitam yang kaku dan dasi yang mencekik leher ini, ada luka parut tua di tulang rusukku yang berdenyut pelan, pengingat permanen bahwa emosi adalah kelemahan yang mematikan.
"Kau sangat membosankan, Liam," suara Anya memecah kesunyian, serak dan penuh provokasi. "Apakah mereka melatihmu untuk menjadi patung bernapas, atau kau memang lahir tanpa lidah?"
Aku tidak menoleh. "Tugas saya adalah memastikan keselamatan Anda, Nona Clarissa. Bukan untuk menghibur Anda."
"Nona Clarissa," dia mengulanginya dengan nada mengejek, lalu aku mendengar gesekan kain sutra saat dia bergeser di kursi belakang. Dia sengaja condong ke depan, ma**k ke ruang pribadiku hingga aku bisa mencium aroma sampon eksotisnya tepat di belakang telingaku. "Panggil namaku. Hanya Anya."
"Itu tidak profesional."
Aku bisa melihat seringai tipis di pantulan bibirnya yang dipulas lipstik merah menyala. Dia adalah mangsa yang merasa dirinya adalah pemangsa. Sangat menggemaskan dalam cara yang menyedihkan. Dia tidak tahu bahwa setiap jengkal rute yang kulalui, setiap jadwal yang kususun, dan setiap tatapan waspada yang kuberikan adalah bagian dari pemetaan untuk kehancurannya sendiri.
Anya adalah aset bernilai miliaran rupiah, dan tugasku adalah membawanya ke titik di mana dia akan menyerahkan dirinya sendiri tanpa perlawanan.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang lembut namun menuntut mendarat di bahuku. Jemarinya yang lentur merayap perlahan menuju pangkal leherku, mengusap kulit di sana dengan tekanan yang disengaja. Aku merasakan sensasi panas menjalar, sebuah reaksi fisiologis yang murniβinsting pria dewasa yang masih berfungsi meski telah terkubur oleh bertahun-tahun latihan militer.
"Kau tegang sekali, Liam," bisiknya, napasnya yang hangat menerpa kulitku. "Apa yang kau takutkan? Aku tidak menggigit... kecuali jika kau memintanya."
Aku mengencangkan rahang hingga gigiku bergemeletuk halus. Di kantong dalam jasku, ponsel terenkripsi bergetar satu kali. Pesan dari 'Pihak Ketiga'. Waktunya sudah dekat. Lokasi resort di pegunungan itu sudah siap. Aku hanya perlu menjaga sandiwara ini sedikit lebih lama lagi.
"Harap duduk kembali, Nona. Kita akan segera sampai di kediaman ayah Anda," kataku, suaraku sedatar mungkin, meski aku bisa merasakan denyut nadi di leherku berdetak lebih cepat karena sentuhannya.
"Ayahku tidak ada di rumah. Dia tidak pernah ada di rumah," suaranya berubah, ada nada kesepian yang terselip di balik arogansinya, sebuah celah yang selalu kusukai untuk dimanipulasi. Dia menarik tangannya, tapi bukannya mundur, dia malah berpindah ke kursi penumpang depan dengan gerakan lincah yang tidak terduga.
Sekarang dia duduk tepat di sampingku. Rok pendeknya tersingkap, memperlihatkan paha mulus yang sengaja dipamerkan. Dia memperhatikanku dengan mata yang tajam, mencari tanda-tanda retakan pada topengku.
"Kau tahu, Liam," dia memulai lagi, suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan rahasia. "Banyak pria yang mencoba mengesankanku dengan uang atau kekuasaan. Tapi kau... kau mencoba mengesankanku dengan ketidakpedulian. Itu strategi yang menarik."
Aku meliriknya sekilas, memberikan tatapan dingin yang biasanya sanggup membuat nyali orang biasa menciut. "Ini bukan strategi, Nona. Ini adalah pekerjaan."
"Pekerjaan," dia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti denting gelas kristal. "Mari kita lihat seberapa lama kau bisa menganggap ini hanya sebagai pekerjaan saat kita berada di resort akhir pekan nanti. Hanya aku, kau, dan kesunyian gunung."
Dia tidak tahu betapa benarnya perkataannya. Kesunyian itu akan menjadi penjara baginya.
Aku mengarahkan mobil mema**ki gerbang besar kediaman Clarissa. Saat mobil berhenti dengan sempurna di depan lobi, aku keluar dan membukakan pintu untuknya. Anya turun dengan anggun, sengaja menyapukan tubuhnya ke arahku saat dia melangkah keluar.
Dia berhenti sejenak, wajahnya hanya beberapa sentuhan dari wajahku. Mata cokelatnya yang cerdas menatap langsung ke dalam mataku, seolah-olah dia bisa membaca semua dosa yang kusembunyikan di balik iris gelap ini.
"Kau punya mata yang berbahaya, Liam Alister," bisiknya pelan, hampir tidak terdengar. "Mata seorang pria yang telah melihat terlalu banyak kegelapan. Dan entah kenapa, itu membuatku ingin ma**k ke dalamnya."
Dia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu besar rumahnya tanpa menoleh lagi, meninggalkan jejak aroma mawarnya yang memabukkan.
Aku berdiri di sana, mengawasinya sampai dia menghilang di balik pintu kayu jati itu. Aku merogoh ponsel di saku jasku, membuka pesan singkat yang baru saja ma**k.
*Target dalam posisi. Eksekusi di lokasi Resort sesuai jadwal. Jangan ada kesalahan.*
Aku menghapus pesan itu dan menarik napas panjang, mencoba membuang sisa-sisa kehangatan dari sentuhan Anya yang masih tertinggal di bahuku. Gadis itu mengira dia sedang bermain kucing-kucingan denganku. Dia mengira dia adalah sang penggoda yang memegang kendali.
Dia tidak sadar bahwa aku tidak sedang menahan diri karena rasa hormat atau profesionalisme. Aku menahan diri karena aku tidak ingin merusak 'barang dagangan' sebelum waktunya tiba.
Namun, saat aku ma**k kembali ke dalam mobil dan menggenggam kemudi, aku menyadari satu hal yang mengganggu. Telapak tanganku sedikit berkeringat. Dan itu bukan karena takut.
Ini akan menjadi misi yang panjang. Dan jika aku tidak hati-hati, bukan hanya dinding pertahanan Anya yang akan runtuh, melainkan juga dinding yang telah kubangun selama bertahun-tahun untuk melindungi diriku dari sesuatu yang lebih berbahaya daripada peluru: keinginan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!