Deru baling-baling helikopter di atas kepala terasa seperti palu yang menghantam gendang telingaku, namun kebisingan itu tidak mampu meredam kesunyian yang tiba-tiba melahap ruang di dadaku. Udara pegunungan yang dingin menusuk hingga ke tulang, membuat selimut wol tebal yang disampirkan petugas medis ke bahuku terasa seberat timah. Aku berdiri di ambang pintu resort yang kini dikelilingi garis polisi, memperhatikan lampu biru dan merah yang berkedip-kedip, memantul pada salju tipis yang mulai turun.
"Anya! Oh Tuhan, Anya!"
Suara bariton itu pecah oleh kepanikan yang jarang kutemui. Ayahku, Edward Clarissa, berlari melintasi garis pembatas dengan setelan jas mahal yang kini kusut. Ia langsung memelukku, mencengkeram bahuku begitu keras seolah takut aku akan menguap menjadi kabut. Bau parfumnya yang beraroma kayu cendana dan cerutu biasanya memberiku rasa aman, tapi sekarang, bau itu justru terasa asing. Terlalu bersih. Terlalu teratur.
"Kau aman sekarang, Sayang. Kau aman," bisiknya berulang kali, suaranya bergetar.
Aku hanya bisa menyandarkan kepalaku di dadanya, namun mataku tetap liar menyisir kerumunan petugas berseragam hitam dan agen federal yang sibuk menggeledah sudut-sudut resort. Aku mencari satu sosok. Sosok tinggi dengan tatapan tajam yang bisa membekukan darahku sekaligus membakarnya.
"Di mana dia?" suaraku keluar seperti parutan, kering dan nyaris tak terdengar.
Ayahku melepaskan pelukannya, menatapku dengan kerutan dalam di dahi. "Siapa? Penculik itu? Polisi sedang memburunya. Tim SWAT menyisir hutan di belakang resort, tapi dia menghilang sebelum unit pertama tiba. Dia profesional, Anya. Dia tahu kapan harus pergi."
*Menghilang.* Kata itu menghantamku lebih keras daripada kenyataan bahwa aku baru saja diculik. Liam Alister, pria yang beberapa jam lalu menyentuh setiap jengkal kulitku dengan intensitas yang menghancurkan pertahananku, kini telah lenyap. Dia pergi meninggalkanku di tengah badai pengkhianatan ini, seolah malam panas yang kami lalui hanyalah sebuah catatan kaki dalam misi operasionalnya.
"Nona Clarissa, kami perlu membawa Anda ke rumah sakit untuk pemeriksaan," seorang petugas medis mendekat, tapi aku mengangkat tangan, menolaknya dengan gerakan kaku.
Aku merogoh saku jaket besar yang tersampir di tubuhkuβjaket milik Liam yang ia paksakan kupakai sebelum kekacauan ini pecah. Tanganku menyentuh sesuatu yang kaku. Secarik kertas.
Dengan jari gemetar, aku menarik kertas itu keluar. Itu adalah sobekan dari buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Aku membalikkan tubuh, membelakangi Ayah dan kerumunan polisi agar mereka tidak bisa melihat kehancuran di wajahku saat membaca tulisan tangan yang tajam dan disiplin itu.
*Anya,*
*Jangan pernah mencari validasi di mata pria seperti aku lagi. Dunia tempatku berpijak tidak mengenal belas kasihan, dan kau terlalu berharga untuk menjadi pion dalam permainan ini. Ayahmu bukan orang suci, dan aku jauh lebih buruk darinya.*
*Semua yang terjadi sejak awal adalah kebohongan yang dirancang dengan rapi. Kontrak, ancaman, penculikan iniβsemuanya palsu. Kecuali satu hal.*
*Malam itu. Di depan perapian, saat kau menatapku seolah aku adalah satu-satunya oksigen yang kau punya... itu adalah satu-satunya hal yang nyata yang pernah kurasakan dalam sepuluh tahun terakhir. Maafkan aku karena harus menghancurkanmu untuk menyelamatkanmu.*
*L.*
Napas mencekat di tenggorokanku. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh, membasahi tinta hitam pada kertas itu hingga sedikit kabur. Aku meremas kertas itu dalam kepalan tanganku, merasakan ujung-ujungnya menusuk telapak tanganku.
"Anya? Ada apa?" Ayah menyentuh lenganku, matanya penuh kecurigaan. "Apa itu? Apa dia meninggalkan sesuatu?"
"Bukan apa-apa," jawabku cepat, menyembunyikan kertas itu ke dalam saku sebelum Ayah sempat melihatnya. "Hanya sampah."
Aku berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggu, dikelilingi oleh pengawal baru yang wajahnya nampak kaku dan tidak bernyawa. Aku ma**k ke kursi belakang, membiarkan pintu tertutup dengan dentuman berat yang mengisolasi aku dari dunia luar. Saat mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan area resort, aku menoleh ke belakang melalui kaca yang gelap.
Di kejauhan, di antara deretan pohon pinus yang pekat, aku sempat melihat kilasan siluet berdiri tegak. Seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam, memperhatikan iring-iringan mobilku dengan tangan ma**k ke dalam saku. Hanya sedetik, sebelum bayangan itu tertelan oleh kabut pegunungan.
Hatiku menjerit, ingin memerintahkan supir untuk berhenti, ingin berlari kembali ke dalam pelukan maut itu. Namun, aku hanya bisa duduk diam, meremas surat pengakuan Liam di dalam sakuku. Dia bilang dia menghancurkanku untuk menyelamatkanku. Tapi saat aku menatap pantulan wajahku di kaca jendelaβpucat, dengan mata yang kini kehilangan binar manjanyaβaku menyadari bahwa Liam tidak menyelamatkanku.
Dia justru membawaku ke dalam kegelapan yang jauh lebih dalam. Dan yang paling mengerikan adalah, aku baru saja menyadari bahwa Ayahku, pria yang kini menggenggam tanganku dengan protektif, mungkin adalah alasan mengapa Liam ada di sana sejak awal.
Permainan ini belum berakhir. Liam memang pergi, tapi benih keraguan yang ia tanam kini mulai berakar di kepalaku. Aku bukan lagi Anya yang manja dan haus perhatian. Aku adalah seorang Clarissa yang baru saja dikhianati oleh dua pria terpenting dalam hidupku, dan aku bersumpah akan menemukan kebenaran di balik semua kebohongan ini, bahkan jika aku harus membakar seluruh kerajaan ayahku untuk melakukannya.
Saat mobil melaju membelah malam, aku tahu satu hal pasti: Liam Alister tidak akan bisa lari selamanya. Karena gairah yang ia sebut 'nyata' itu adalah rant** yang akan menariknya kembali padaku, entah sebagai penyelamat atau sebagai korbanku selanjutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!