Matahari sore itu menggantung rendah, menyepuh permukaan danau pribadi di pinggiran mansion keluarga Clarissa dengan warna oranye yang menyilaukan. Namun, keindahan itu tidak sedikit pun meredakan rasa bosan yang menggerogoti dadaku. Aku melirik ke belakang, pada sosok pria yang berdiri mematung sepuluh langkah di belakangku.
Liam Alister. Dengan setelan hitam yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, dia tampak seperti monolitβtak tergoyahkan, dingin, dan benar-benar tidak peduli. Selama tiga hari dia menjadi pengawal pribadiku, dan selama itu pula dia hanya menjawab dengan "Ya, Nona" atau "Tidak, Nona". Dia adalah teka-teki yang terkunci rapat, dan aku sangat membenci teka-teki yang tidak bisa kupecahkan.
"Airnya terlihat segar, bukan, Liam?" tanyaku tanpa menoleh, sengaja membiarkan tali gaun sutra tipisku merosot sedikit dari bahu.
"Suhu air diperkirakan di bawah dua puluh derajat, Nona. Tidak disarankan untuk berenang tanpa pemanasan," jawabnya datar. Suaranya rendah, bariton yang seharusnya terdengar menenangkan namun justru membuat sarafku tegang karena kejengkelan.
Aku tersenyum miring. Dia sangat mekanis. Aku ingin melihat mesin itu rusak. Aku ingin melihat riak emosi di wajahnya yang sekeras porselen itu.
"Aku tidak butuh saran medis, aku butuh hiburan," gumamku.
Tanpa peringatan, aku berjalan ke ujung dermaga kayu yang menjorok ke tengah danau. Aku bisa merasakan tatapan tajamnya mengikuti setiap gerakanku. Di tepi dermaga, aku berpura-pura kehilangan keseimbangan. Aku mengeluarkan pekikan kecil yang sengaja dibuat-buat, lalu membiarkan tubuhku jatuh ke belakang, ke dalam pelukan air danau yang gelap.
*Byur!*
Sensasi dingin yang menusuk tulang langsung menyergapku. Itu jauh lebih dingin dari yang kubayangkan. Aku memejamkan mata, menunggu sepasang tangan kuat akan segera merengkuhku dalam hitungan detik. Aku sudah membayangkan bagaimana Liam akan panik, menyeret tubuhku ke daratan, dan mungkin memberikan napas buatan yang sudah lama kunantikan.
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Gaun panjangku yang menyerap air dengan cepat terasa seperti pemberat timah yang menarikku ke dasar. Saat aku mencoba mengayunkan kaki untuk muncul ke permukaan, otot betis kananku tiba-tiba mengencang. Kram. Rasa sakit yang tajam dan melumpuhkan menusuk kakiku.
Aku mencoba menghirup udara, tapi yang ma**k ke tenggorokanku justru air yang asin dan dingin. Paru-paruku mulai terbakar. Gelembung-gelembung udara naik ke permukaan, membawa serta sisa-sisa oksigenku. Panik yang tadinya palsu kini berubah menjadi teror yang nyata. Aku benar-benar tenggelam.
Dunia di atas permukaan air tampak kabur dan jauh. Cahaya oranye matahari mulai memudar menjadi kegelapan. *Liam, tolong aku,* jeritku dalam hati, meski hanya air yang memenuhi mulutku.
Tiba-tiba, permukaan air pecah. Sebuah bayangan gelap meluncur ma**k dengan kecepatan yang menakjubkan. Aku merasakan lengan yang sekeras baja melingkari pinggangku, menarikku ke atas dengan kekuatan yang hampir menyakitkan.
Kepalaku menyembul ke permukaan, dan aku terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air yang menyesakkan dadaku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya, sementara tubuhku ditarik kasar menuju tepian. Begitu mencapai area yang dangkal, Liam tidak menggendongku dengan lembut seperti dalam film romantis. Dia setengah menyeretku ke atas rumput, lalu menjatuhkanku begitu saja di sana.
Aku tergeletak lemas, menggigil hebat dengan paru-paru yang masih terasa panas. Aku menatap ke atas, mengharapkan tatapan khawatir atau setidaknya napas lega.
Namun, yang kutemukan adalah amarah yang murni.
Liam berdiri di atasku, basah kuyup. Kemeja putihnya menempel pada otot dada dan perutnya yang keras, namun wajahnya tampak mengerikan. Matanya yang biasanya sedingin es kini berkilat dengan emosi yang gelap dan berbahaya.
"Apa yang kau pikirkan, Anya?!" bentaknya. Suaranya menggelegar, menghancurkan keheningan sore itu. Ini pertama kalinya dia memanggil namaku tanpa embel-embel "Nona", dan itu membuat jantungku berdegup kencang karena alasan yang berbeda.
"Aku... aku terpeleset," bisikku parau, mencoba mempertahankan sisa-sisa manipulasiku meski seluruh tubuhku gemetar.
"Bohong!" Liam berlutut, mencengkeram kedua bahuku dengan jari-jarinya yang kuat. Dia menekanku ke tanah, memaksa mataku untuk menatap langsung ke dalam kegelapan matanya. "Kau melakukan ini dengan sengaja. Kau bermain-main dengan nyawamu hanya untuk melihat apakah aku akan melompat?"
Aku terdiam, lidahku kelu. Intimidasi yang terpancar darinya begitu kuat hingga aku merasa kecil dan tak berdaya.
"Dengarkan baik-baik," desisnya, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aku bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan bau air danau yang segar. "Tugasku adalah menjagamu tetap hidup. Jangan pernah sekali pun kau berpikir bahwa nyawamu adalah mainan yang bisa kau gunakan untuk memancing perhatianku. Kau tidak tahu seberapa dekat kau dengan kematian tadi."
"Kenapa kau begitu marah?" tantangku dengan suara bergetar, mencoba mencari celah di balik kemarahannya. "Bukankah itu memang tugasmu? Menyelamatkanku?"
Liam mempererat cengkeramannya, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu yang lain di matanyaβsebuah kilatan rasa lapar yang asing, sesuatu yang jauh lebih dalam dan gelap daripada sekadar kemarahan seorang pengawal.
"Tugasku adalah melindungimu dari ancaman luar, bukan dari kebodohanmu sendiri," ucapnya dengan suara yang kini merendah, nyaris seperti geraman. Dia melepaskan bahuku dengan sentakan kecil, seolah-olah menyentuhku adalah sebuah beban yang tak tertahankan.
Liam berdiri, menatapku sekali lagi dengan pandangan menghina sebelum berbalik memunggungi aku. "Ma**k ke dalam dan ganti pakaianmu. Jika hal seperti ini terjadi lagi, aku sendiri yang akan memastikan kau menyesal pernah mencoba mencariku."
Dia berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan aku yang masih gemetar di atas rumput yang basah. Aku menatap punggungnya yang menjauh, merasakan campuran antara ketakutan yang dingin dan gairah yang mulai membakar. Dia tidak hanya dingin; dia berbahaya. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa pria yang kusewa untuk melindungiku mungkin adalah orang yang paling harus kutakuti.
Aku menyentuh bahuku yang masih terasa hangat bekas cengkeramannya. Dia merasakannya. Aku tahu itu. Di balik kemarahan itu, ada sesuatu yang bergejolak, sebuah rahasia yang ia sembunyikan di balik topeng profesionalitasnya. Dan aku bersumpah, aku akan terus menggali sampai aku menemukan apa yang sebenarnya ia sembunyikan, bahkan jika itu berarti aku harus mempertaruhkan nyawaku sekali lagi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!