Seductive Deception: Antara Gairah dan Khianat

Bab 4: Bab 4 - Liam melakukan kontak rahasia dengan 'klien' ya...

Pengaturan Membaca

Malam di kediaman Clarissa selalu terasa seperti sebuah simulasi yang terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Sunyi yang merayap di lorong-lorong marmer itu bukan jenis ketenangan yang menyejukkan, melainkan keheningan yang menyesakkan—seperti sebuah makam yang dilapisi emas. Aku berdiri di balkon kamarku yang terletak di sayap pelayan, membiarkan udara malam yang dingin menusuk kulit leherku. Di lant** atas, lampu kamar Anya masih menyala, membiarkan bayangannya sesekali melintas di balik tirai sutra tipis itu.

Aku mengepalkan tangan di atas pagar besi, merasakan tekstur logam yang dingin. Wangi parfum vanila dan mawar yang ditinggalkan Anya di jas seragamku tadi sore masih tercium, samar namun c**up kuat untuk membuat sarafku menegang. Dia adalah gangguan yang berbahaya. Caranya menatapku, jemarinya yang sengaja menyentuh lenganku saat aku membukakan pintu mobil, dan tawa kecilnya yang provokatif adalah jebakan yang dipasang dengan sangat rapi. Dia pikir dia sedang memainkanku. Dia pikir aku hanyalah seekor an**** penjaga kaku yang bisa dia jinakkan dengan sedikit pesona kekanak-kanakannya.

Gadis itu tidak tahu bahwa setiap jengkal gerakannya sudah ma**k dalam hitunganku.

Aku merogoh saku dalam jaket hitamku, mengeluarkan sebuah ponsel modifikasi yang tidak terdaftar. Layarnya yang redup menyinari wajahku saat aku menekan serangkaian kode enkripsi. Hanya butuh tiga nada sambung sebelum suara berat dan parau menjawab di ujung sana.

"Laporan," suara itu tidak menyapa, hanya menuntut. Itu adalah 'V', perantara yang menghubungkanku dengan klien yang bersedia membayar sepuluh angka untuk kepala—atau tepatnya, kebebasan—ahli waris tunggal Clarissa.

"Target tetap dalam pengawasan," jawabku datar. Suaraku hampir tidak lebih dari bisikan, namun tajam. "Dia mulai bosan. Seperti dugaanku, dia mendesak ayahnya untuk mengizinkannya pergi ke resort pegunungan akhir pekan ini. Aku sudah memastikan rutenya bersih dari pengawalan tambahan."

"Bagus. Tapi kau terlalu lambat, Alister," V mendengus, suara gesekan korek api terdengar di latar belakang. "Klien kehilangan kesabaran. Bursa saham Clarissa Group sedang bergejolak, dan mereka ingin tebusan ini segera dieksekusi sebelum nilai tawarnya turun. Jadwal dipercepat."

Aku mengernyit, rahangku mengeras. "Keamanan di kediaman utama terlalu ketat. Jika aku memaksanya sekarang, risikonya terlalu besar bagi tim ekstraksi."

"Itu bukan urusanku. Klien ingin kesepakatan selesai dalam empat puluh delapan jam. Resort itu harus menjadi tempat terakhirnya sebagai warga sipil bebas. Jika kau gagal membawa Anya ke titik koordinat tepat waktu, bayaranmu akan hangus. Dan kau tahu apa konsekuensinya jika kau mengecewakan orang-orang ini."

Keheningan menggantung berat di antara kami. Aku menatap kembali ke arah jendela kamar Anya. Lampunya baru saja padam. Kegelapan menyelimuti balkonnya, namun aku tahu dia di sana, mungkin sedang berbaring di tempat tidur mewahnya, merencanakan cara baru untuk menggodaku besok pagi. Dia merasa aman di dalam 'penjara' emas ini, tidak menyadari bahwa pengawal yang dia anggap sebagai mainan baru adalah orang yang akan menyerahkannya ke tangan serigala.

"Aku mengerti," kataku akhirnya. "Siapkan tim di sektor utara resort. Pastikan tidak ada jejak digital setelah transmisi tebusan dikirim."

"Jangan biarkan perasaanmu mengaburkan penilaianmu, Liam," suara V merendah, mengandung ancaman yang tersirat. "Aku mendengar laporan bahwa kau membiarkannya terlalu dekat. Jangan lupa, dia hanyalah paket. Jangan sampai kau mulai menyukai isinya."

Aku mematikan sambungan telepon bahkan sebelum dia selesai bicara. Napas dalam yang kuambil terasa panas di dadaku. Menyukai isinya? Aku mendengus sinis. Aku telah menghabiskan sepuluh tahun di medan tempur dan operasi bawah tanah; aku sudah melihat segala jenis manipulasi. Anya Clarissa hanyalah seorang gadis kesepian yang haus perhatian, seorang amatir yang mencoba bermain api dengan orang yang hidup di tengah bara.

Namun, bayangan saat dia menatap mataku tadi sore—kilatan rapuh di balik sikap angkuhnya—mendadak muncul di benakku. Ada saat di mana dia berhenti berpura-pura menjadi wanita penggoda dan hanya terlihat seperti seseorang yang ingin didengar. Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu dengan paksa. Empati adalah racun dalam pekerjaanku.

Aku kembali ma**k ke dalam kamar yang minim perabotan itu. Di atas meja kayu kecil, terletak sebuah peta topografi wilayah pegunungan yang akan kami tuju. Resort itu terisolasi, dikelilingi oleh hutan pinus lebat dan jurang dalam. Tempat yang sempurna untuk sebuah liburan mewah, atau penculikan yang tak terdeteksi.

Aku memeriksa Glock 17 milikku, memastikan magazin terisi penuh. Setiap gerakan tanganku presisi, terlatih, dan dingin. Besok, permainan kucing dan tikus ini akan mencapai puncaknya. Anya akan membawaku ke sana dengan sukarela, berpikir bahwa dia telah berhasil memenangkan hatiku dan meruntuhkan tembok pertahananku. Dia akan membawaku ke tempat di mana tidak ada orang yang bisa mendengarnya berteriak.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan di pintu kamarku memecah konsentrasi. Aku segera menyembunyikan ponsel rahasia itu dan meletakkan senjataku di balik bantal dalam satu gerakan cepat.

Aku membuka pintu dengan ekspresi datar yang biasa kupakai. Di sana, berdiri Anya. Dia hanya mengenakan gaun tidur sutra tipis berwarna sampanye yang membalut tubuhnya dengan provokatif. Rambutnya terurai berantakan, dan matanya terlihat lebar, berkilat di bawah lampu koridor yang redup.

"Liam," bisiknya, suaranya serak dan mengandung nada yang sulit kuartikan—antara takut dan gairah. "Aku tidak bisa tidur. Ada suara aneh di luar jendelaku."

Aku menatapnya, mencari tanda-tanda kebohongan. Dia tampak gemetar, atau mungkin itu hanya bagian dari aktingnya. "Ini sudah jam dua pagi, Nona Clarissa. Kembali ke kamar Anda. Saya akan memeriksa perimeter."

Alih-alih pergi, dia melangkah maju, ma**k ke dalam ruang pribadiku. Aroma tubuhnya yang manis memenuhi ruangan sempit itu, memicu reaksi primitif dalam diriku yang berusaha keras kutekan. Dia mendongak, menatapku dengan keberanian yang nekat.

"Kau selalu begitu dingin," gumamnya, tangannya perlahan naik dan menyentuh dada bidangku, tepat di atas jantungku yang berdetak konstan. "Apa kau benar-benar tidak merasakan apa-apa saat aku berada di dekatmu?"

Aku menatap tangannya yang mungil di atas kemeja hitamku. Jika dia tahu apa yang sedang kurencanakan untuknya dalam empat puluh delapan jam ke depan, dia tidak akan berani menyentuhku. Dia akan lari sejauh mungkin dariku.

Aku menangkap pergelangan tangannya, cengkeramanku sedikit lebih keras dari yang seharusnya. "Nona, Anda bermain-main dengan sesuatu yang tidak Anda mengerti."

Anya tidak menarik diri. Malah, dia tersenyum—senyum kecil yang penuh kemenangan. "Kalau begitu, ajari aku, Liam. Ajari aku sampai aku mengerti."

Aku menatap matanya yang menantang, menyadari bahwa tekanan dari klien bukan satu-satunya hal yang akan meledak dalam waktu dekat. Jika aku tidak berhati-hati, dinding yang kubangun untuk melindungi misi ini akan runtuh sebelum kami bahkan sampai di pegunungan itu. Dan saat itu terjadi, aku tidak tahu siapa yang akan menjadi korban sebenarnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca