Aroma cerutu mahal dan kayu m***gani tua selalu menyapa indra penciumanku setiap kali aku melangkah ma**k ke dalam ruang kerja Papa. Ruangan itu luas, dingin, dan kaku—persis seperti pria yang kini duduk di balik meja ek eksekutifnya. Papa tidak mendongak saat aku ma**k. Jemarinya yang mulai berkeriput sibuk membolak-balik berkas saham, sementara kacamata bacanya bertengger di ujung hidung.
Aku menghela napas pelan, sengaja membuat suara yang c**up terdengar untuk menarik perhatiannya. Aku mengenakan gaun sutra tipis berwarna krem yang memeluk tubuhku dengan sempurna, seolah ingin menunjukkan bahwa di rumah ini, akulah satu-satunya hal yang hidup dan bernapas di tengah benda-benda mati yang mewah.
"Papa," panggilku lembut, nyaris seperti bisikan seorang anak kecil yang merajuk.
"Anya. Papa sedang sibuk. Kalau soal tambahan limit kartu kredit, bicaralah pada Sekretaris Han," sahutnya tanpa mengalihkan pandangan.
Aku berjalan mendekat, ujung jemariku menyapu permukaan meja kayu yang licin. "Ini bukan soal uang. Aku bosan, Pa. Sesak. Kota ini, pesta-pesta itu... semuanya terasa seperti penjara yang berkilau."
Kali ini Papa mendongak. Matanya yang tajam menatapku, mencari celah kebohongan. "Lalu apa yang kamu mau? Keliling Eropa lagi? Atau menyewa pulau untuk berpesta dengan teman-teman sosialitamu yang berisik itu?"
Aku menggeleng pelan, membiarkan helai rambutku jatuh menutupi sebagian wajahku untuk memberikan kesan rapuh. "Aku ingin ke Mount**n Mist Resort. Sendiri. Tanpa teman-teman, tanpa fotografer, tanpa drama. Aku hanya butuh ketenangan di pegunungan."
Papa tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa humor. "Sendiri? Kamu tidak pernah bisa melakukan apa pun sendiri, Anya. Terakhir kali kamu bilang ingin 'menyendiri', kamu berakhir di kantor polisi karena balapan liar di Bali."
Aku menggigit bibir bawahku, memalsukan gurat kesedihan di wajahku. Aku tahu persis tombol mana yang harus ditekan. "Itu karena aku kesepian, Pa. Papa selalu sibuk. Aku hanya ingin bernapas. Di sana aman, resort itu milik kolega Papa, bukan? Dan..." aku menjeda, melirik ke arah pintu di mana sebuah bayangan tegap berdiri dengan tegak. "Aku punya Liam."
Papa mengikuti arah pandanganku. Di sana, berdiri tegak seperti patung pualam, Liam Alister dalam setelan jas hitamnya yang tanpa cela. Wajahnya datar, matanya menatap lurus ke depan seolah dia adalah bagian dari dekorasi ruangan. Namun, aku bisa merasakan kehadirannya yang dominan, sebuah energi yang diam namun mengancam.
"Liam," panggil Papa.
Liam melangkah ma**k dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar di atas karpet Persia. "Ya, Tuan Clarissa." Suaranya rendah, bariton yang mengirimkan getaran halus ke tulang belakangku.
"Apa pendapatmu tentang ide g*** putriku ini?" tanya Papa, menyandarkan punggungnya ke kursi kulit.
Aku menahan napas, menatap profil samping Liam. Rahangnya yang tegas tampak seolah dipahat dari batu granit. Selama seminggu terakhir, aku telah mencoba segala cara untuk memancing emosinya—godaan halus, perintah yang tidak ma**k akal, bahkan sengaja menumpahkan minuman di kemejanya—namun dia tetap sedingin es.
Liam tidak langsung menjawab. Dia melirikku sekilas—hanya satu detik—tapi c**up untuk membuat jantungku berdegup lebih kencang. "Lokasi tersebut memiliki protokol keamanan yang ketat, Tuan. Terisolasi, namun terpantau. Saya bisa menjamin keselamatan Nona Anya sepenuhnya di sana."
Papa mengetuk-ngetukkan pulpen emasnya di atas meja. Aku tahu dia sedang menimbang-nimbang. Reputasi Liam sebagai mantan personel pa**kan khusus dengan rekam jejak tanpa cela adalah alasan utama Papa menyewanya dengan harga yang fantastis. Di mata Papa, Liam bukan sekadar pengawal; dia adalah b**nkas berjalan yang menjaga aset paling berharganya.
"Hanya kalian berdua?" tanya Papa lagi, nada suaranya mulai melunak.
"Hanya kami, Pa. Staf resort akan melayani semua kebutuhan, tapi aku tidak butuh keramaian. Aku hanya butuh pengawasan profesional," kataku dengan penekanan pada kata 'profesional', sambil melemparkan senyum tipis yang penuh arti pada Liam.
Liam tetap bergeming, namun aku bisa melihat jakunnya bergerak sedikit saat dia menelan ludah. Ah, jadi robot ini punya reaksi juga.
"Baiklah," ucap Papa akhirnya, membuatku nyaris bersorak dalam hati. "Tiga hari. Tidak lebih. Dan Liam, jika terjadi sesuatu pada Anya—sekecil apa pun itu—kamu tahu konsekuensinya."
"Dengan nyawa saya, Tuan," jawab Liam tegas.
Aku berbalik, menyembunyikan senyum kemenanganku. Aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak, melewati Liam yang masih berdiri tegap. Saat aku berada tepat di sampingnya, aku sengaja membiarkan bahuku bersentuhan dengan lengannya yang keras dan berotot.
"Siapkan barang-barangmu, Liam," bisikku tepat di telinganya, c**up dekat hingga aku bisa mencium aroma maskulin bercampur sabun yang tajam darinya. "Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang."
Aku tidak menunggu jawabannya dan terus berjalan menyusuri lorong menuju kamarku. Pikiranku sudah melayang jauh ke resort di pegunungan itu. Di sana, di tengah kabut yang dingin dan isolasi total, aku akan menghancurkan dinding pertahanan Liam Alister. Aku akan membuatnya memohon, membuatnya melupakan sumpahnya pada Papa, dan menunjukkan padanya bahwa aku bukanlah sekadar 'aset' yang harus dijaga.
Aku adalah pemiliknya.
Namun, saat aku menutup pintu kamar dan bersandar di baliknya, sebuah perasaan aneh merayapi tengkukku. Bayangan tatapan Liam tadi—tatapan yang sekilas nampak kosong namun sangat intens—terus membekas. Seolah-olah, di balik topeng disiplinnya, ada sesuatu yang sedang menunggu untuk menerkamku.
Aku tertawa kecil, mengusir kegelisahan itu. Aku terlalu percaya diri. Aku adalah pemburunya, dan Liam hanyalah mangsa yang terlalu angkuh untuk mengaku kalah. Aku tidak menyadari bahwa di balik keheningan pegunungan yang aku impikan, sebuah jerat sedang dipasang, dan aku sendiri yang baru saja menyerahkan talinya pada pria itu.
Besok, permainan yang sesungguhnya akan dimulai. Dan aku sudah tidak sabar untuk melihat siapa yang akan berlutut lebih dulu.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!