Aspal hitam yang basah oleh sisa hujan sore tadi tampak berkilat di bawah sorot lampu depan Range Rover yang kami tumpangi. Di luar sana, pepohonan pinus mulai merapat, menciptakan barisan bayangan raksasa yang seolah menelan mobil kami saat mendaki lereng pegunungan. Di dalam kabin, suasana terasa jauh lebih menyesakkan daripada udara dingin yang mulai merayap di balik jendela kaca.
Aku menyandarkan kepala ke jok kulit yang empuk, sengaja memiringkan posisi dudukku agar bisa mengamati Liam dengan leluasa. Pencahayaan redup dari panel instrumen dasbor memberikan aksen tajam pada fitur wajahnyaβrahang yang tegas, hidung lurus yang sempurna, dan bulu mata yang saking lebatnya hingga menciptakan bayangan kecil di pipinya. Dia tampak seperti patung marmer yang bernapas; dingin, statis, dan luar biasa indah.
"Kamu tahu, Liam," suaraku memecah keheningan yang sejak tadi hanya diisi oleh deru halus mesin. "Ayahku membayar sangat mahal untuk seorang pelindung, bukan seorang pendamping bisu."
Liam tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju lurus ke jalanan yang berkelok tajam. Hanya cengkeramannya pada setir yang sedikit mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tugas saya adalah menjaga keamanan Anda, Nona Anya. Bukan menghibur Anda," jawabnya datar. Suara baritonnya yang rendah selalu berhasil membuat tengkukku meremang, namun sikap kaku itu mulai membuatku jengah.
Aku tertawa kecil, suara yang terdengar provokatif bahkan di telingaku sendiri. Aku sengaja melepaskan sabuk pengamanku. Bunyi klik yang dihasilkan terdengar seperti pemicu senjata di ruang sempit itu.
"Nona Anya," tegurnya, kali ini dengan nada peringatan. "Pasang kembali sabuk pengaman Anda. Jalanan ini berbahaya."
"Kenapa? Takut aku terluka?" Aku mengabaikan peringatannya dan justru menggeser tubuhku ke tengah, mendekati konsol tengah yang memisahkan kami. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dan sedikit wangi maskulin yang bersih keluar dari pori-pori kulitnya. "Atau kamu takut karena merasa terganggu?"
Aku mengulurkan tangan, jemariku yang lentur bergerak perlahan menelusuri lengan kemeja hitamnya yang tergulung hingga siku. Aku bisa merasakan otot lengannya yang sekeras baja di bawah permukaan kain. Ada getaran halus di sanaβsebuah reaksi biologis yang tidak bisa ia sembunyikan meski wajahnya sedatar papan.
"Tangan Anda, Nona," desis Liam. Rahangnya mengeras, sebuah otot kecil berdenyut di pelipisnya.
Aku tidak berhenti. Justru, aku memajukan tubuh lebih dekat lagi, membiarkan helaian rambut panjangku menyentuh bahunya. "Kamu selalu terlihat begitu tenang, begitu terkendali. Aku penasaran, apa yang dibutuhkan untuk membuat seorang Liam Alister kehilangan kontrolnya?"
Mobil sedikit oleng saat Liam berbelok dengan kecepatan yang agak terlalu tinggi. Dia tidak menginjak rem; justru gasnya ditekan lebih dalam seolah ia ingin segera mengakhiri perjalanan iniβatau mungkin melarikan diri dari kehadiranku.
"Duduk kembali ke kursi Anda," perintahnya, suaranya kini lebih dalam, lebih parau.
"Kalau aku tidak mau?" Aku berbisik tepat di samping telinganya, bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuhnya. Aku sengaja mengembuskan napas pelan ke kulit lehernya yang terbuka. "Apa kamu akan menghukumku? Memborgolku ke jok mobil agar aku berhenti bergerak?"
Liam mendadak menginjak rem dengan c**up sentakan sehingga tubuhku terdorong ke depan. Syukurlah, tangannya yang kuat bergerak secepat kilat, menahan bahuku agar aku tidak menghantam dasbor. Kami berhenti di sebuah area darurat di tepi tebing yang sepi. Hanya ada kabut tebal di luar, dan lampu jalanan yang berkedip di kejauhan.
Napasnya memburu. Untuk pertama kalinya sejak kami berangkat, dia menoleh ke arahku. Mata abu-abunya yang biasanya sedingin es kini tampak menyala oleh sesuatu yang mirip dengan kemarahan... atau mungkin gairah yang berusaha keras ia tekan.
"Jangan bermain api jika Anda tidak siap terbakar, Anya," katanya, suaranya rendah dan mengancam. Dia tidak lagi memanggilku 'Nona'.
Aku tersenyum penuh kemenangan, merasa telah berhasil meruntuhkan dinding pertahanannya sedikit demi sedikit. Aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang masih memegang bahuku. Kulitnya terasa panas, sangat kontras dengan udara pegunungan yang menggigit.
"Bagaimana kalau aku memang ingin terbakar?" tantangku, menatap langsung ke dalam matanya yang kelam. "Bagaimana kalau aku bosan dengan segala sesuatu yang dingin dan aman?"
Wajah Liam hanya berjarak beberapa inci dari wajahku. Aku bisa melihat pergulatan di balik matanya. Ada sesuatu yang gelap di sana, sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ketidaksukaan seorang pengawal pada majikannya yang manja. Sejenak, suasana di dalam mobil itu terasa begitu tebal oleh ketegangan seksual yang hampir meledak. Udara terasa tipis, dan setiap detak jantungku seolah bergema di dinding mobil.
Tangan Liam yang berada di bahuku perlahan naik, ibu jarinya mengusap garis rahangku dengan gerakan yang hampir menyerupai belaian, namun terasa lebih seperti klaim kepemilikan yang kasar. Aku menahan napas, menanti apa pun yang akan ia lakukan selanjutnya.
Namun, tepat sebelum sesuatu terjadi, sebuah bunyi bip keras dari GPS mobil memecah suasana. Kami telah sampai di koordinat gerbang utama resort.
Liam menarik tangannya dengan sentakan kasar, seolah ia baru saja menyentuh bara api yang sesungguhnya. Dia kembali menghadap ke depan, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang tidak tertembus.
"Kita sudah sampai," ucapnya dingin, suaranya kembali profesional, seolah kejadian beberapa detik lalu tidak pernah terjadi. "Turunlah. Saya akan mengurus barang-barang Anda."
Aku kembali ke posisiku, jantungku masih berpacu g***. Aku merasa menang karena berhasil memancing reaksinya, namun di sisi lain, ada perasaan aneh yang merayap di dadakuβsebuah peringatan insting yang mengatakan bahwa aku mungkin telah membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap tertidur.
Aku melirik ke arah resort kayu mewah yang berdiri terisolasi di puncak bukit di depan kami. Lampu-lampu kuningnya terlihat hangat, namun dikelilingi oleh kegelapan hutan yang pekat. Di tempat sesunyi ini, tidak akan ada yang mendengar jika aku berteriak. Dan saat aku melihat profil samping Liam yang kembali kaku saat ia mematikan mesin, aku menyadari bahwa permainan ini baru saja mema**ki babak yang paling berbahaya.
Kami turun dari mobil, dan udara pegunungan yang menusuk langsung menyambutku. Liam berjalan di belakangku, langkah kakinya berat dan pasti. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap langkahnya seolah-olah sedang menutup jalan pulangku. Resort ini bukan hanya tempat pelarian bagiku; ini adalah panggung yang sudah disiapkan. Dan saat pintu ma**k resort yang megah itu terbuka, aku tidak menyadari bahwa di balik keramahannya, aku sedang melangkah ma**k ke dalam sangkar yang paling indah sekaligus mematikan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!