Udara pegunungan yang tipis dan menusuk tulang merambat ma**k melalui celah jaket taktis hitam yang kukenakan. Aku berdiri di tepi balkon lant** dua resort, membiarkan kegelapan malam menyelimuti siluet tubuhku. Di bawah sana, hutan pinus tampak seperti deretan tombak hitam yang siap menusuk apa pun yang jatuh ke dalamnya. Sangat sunyi. Jenis kesunyian yang biasanya aku sukai karena memudahkan pendengaranku menangkap setiap gerak-gerik mencurigakan. Namun malam ini, kesunyian itu terasa menyesakkan.
Aku merogoh saku, mengeluarkan sebuah gawai kecil yang telah dienkripsi. Cahaya redup dari layarnya menyinari wajahku sejenak. Aku mengetikkan serangkaian kode koordinat—titik evakuasi di lereng sisi timur, tepat di belakang barisan pohon cedar tua yang lebat.
"Titik jemput dikonfirmasi. Pukul 03.00 dini hari. Jangan ada keterlambatan," pesanku terkirim dalam hitungan detik. Balasannya hanya berupa simbol jempol tunggal yang dingin.
Aku menghela napas, uap putih keluar dari mulutku. Tugasku hampir selesai. Bayaran besar sudah menanti di ujung jalan ini. Seharusnya aku merasa puas, tetapi setiap kali aku menoleh ke arah pintu geser besar di belakangku, ada beban yang tidak ma**k akal yang mulai memberat di dadaku.
Aku melangkah ma**k, memastikan langkah botku tidak menimbulkan suara di atas karpet tebal. Resort ini terlalu mewah untuk sebuah penjara, namun itulah kenyataannya bagi Anya Clarissa—setidaknya dalam beberapa jam ke depan.
Aku menemukannya di ruang tengah, sedang meringkuk di sofa besar menghadap perapian yang apinya mulai meredup. Dia tidak mendengar kedatanganku. Tidak ada gaun provokatif yang biasanya ia gunakan untuk memancing emosiku. Malam ini, dia hanya mengenakan sweter kasmir kebesaran dan celana kain tipis. Wajahnya yang biasanya penuh dengan kilat kepercayaan diri yang menyebalkan, kini tampak pucat dan kuyu di bawah temaram cahaya api.
Dia sedang menatap sebuah bingkai foto kecil yang selalu ia bawa di dalam tasnya. Foto dirinya saat masih kecil bersama seorang pria yang kutebak adalah ayahnya—si konglomerat yang sebentar lagi akan kehilangan miliaran rupiah demi menebus putri tunggalnya.
"Kenapa belum tidur?" tanyaku datar, menjaga suaraku tetap pada frekuensi pengawal profesional yang kaku.
Anya tersentak kecil, bahunya menegang sebelum akhirnya dia menoleh padaku. Dia berusaha tersenyum, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya yang basah. "Kau selalu muncul seperti hantu, Liam. Apakah itu bagian dari pelatihanmu? Belajar cara menakut-nakuti wanita kesepian?"
"Tugas saya adalah memastikan Anda aman," jawabku, kata-kata itu terasa pahit di lidahku. Aman darinya, tapi tidak dariku.
Anya terkekeh hambar, suara yang lebih mirip isakan yang tertahan. Dia meletakkan foto itu di meja dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aman. Lucu sekali. Kadang aku merasa satu-satunya tempat yang aman bagiku justru di dekatmu, pria kaku yang bahkan tidak mau menatap mataku lebih dari dua detik."
Dia bangkit berdiri, melangkah mendekatiku. Aku secara refleks menegakkan punggung, memasang dinding pertahanan yang selalu kugunakan. Namun, saat dia berdiri tepat di depanku, aromanya—perpaduan antara vanila dan sisa parfum mahal—menyerang indra penciumanku, mengacaukan fokus taktis yang telah kubangun bertahun-tahun.
"Kau tahu, Liam?" bisiknya, suaranya parau. "Semua orang menginginkan sesuatu dariku. Ayahku menginginkan aku menjadi ahli waris yang sempurna. Teman-temanku menginginkan koneksiku. Tapi kau... kau tidak pernah meminta apa pun. Kau hanya diam, berdiri di sana seperti batu karang."
Dia mendongak, menatapku dengan mata cokelatnya yang lebar dan transparan. Di dalamnya, aku tidak melihat si gadis manja yang manipulatif. Aku melihat seorang anak kecil yang tersesat di sebuah istana besar yang kosong.
"Terkadang, aku bertingkah g*** hanya agar seseorang memperhatikanku. Agar seseorang benar-benar *melihatku*," lanjutnya, jemarinya yang dingin menyentuh punggung tanganku yang terkepal. "Dan untuk pertama kalinya, saat kau menatapku dengan kebencian atau kejengkelan itu... aku merasa ada seseorang yang benar-benar sadar bahwa aku ada."
Aku merasakan dorongan kuat untuk menarik tanganku, untuk menjauh, untuk mengingatkan diriku bahwa dia hanyalah 'paket' bernilai tinggi. Namun, getaran di jarinya merambat ke kulitku, membakar sisa-sisa profesionalismeku. Rasa bersalah itu datang, tajam dan dingin seperti belati yang disisipkan di antara tulang rusuk.
"Tidurlah, Anya," kataku, kali ini suaraku sedikit melunak tanpa bisa kukendalikan. "Besok akan menjadi hari yang panjang."
Dia menatapku lebih lama, seolah mencoba mencari sesuatu di balik topeng batuku. "Kau akan tetap di sini, kan? Kau tidak akan pergi saat aku terbangun nanti?"
Pertanyaan itu menghantamku lebih keras daripada peluru kaliber 45. Aku tahu jawabannya. Aku tahu bahwa besok, saat fajar menyingsing, aku bukan lagi pelindungnya. Aku adalah orang yang akan memborgol tangannya dan menyerahkannya pada kegelapan.
"Saya tidak akan pergi ke mana-mana malam ini," jawabku, sebuah kebenaran setengah hati yang merupakan kebohongan terbesar dalam hidupku.
Anya mengangguk pelan, tampak sedikit lebih tenang. Dia berbalik dan berjalan menuju kamarnya, namun sempat berhenti di ambang pintu. "Terima kasih, Liam. Untuk segalanya."
Saat pintu kamarnya tertutup dengan bunyi klik yang halus, aku merasa seperti oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Aku mengeluarkan kembali gawai di sakuku. Tanganku yang biasanya stabil saat memegang senjata, kini sedikit gemetar.
Aku berjalan kembali ke arah jendela, menatap titik penjemputan di kegelapan hutan. Semua sudah siap. Timku sudah bergerak. Rencana ini sempurna. Tidak boleh ada kesalahan. Namun, bayangan wajah rapuh Anya terus berputar di kepalaku, merusak kalkulasi dingin yang selama ini menjadi kompas hidupku.
Aku adalah seorang tentara bayaran. Perasaan adalah variabel yang mematikan.
Tiba-tiba, suara deru mesin helikopter yang sangat halus terdengar di kejauhan, lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Jantungku berdegup kencang melawan ritme yang salah. Sesuatu berubah di luar sana, dan saat aku melihat kilatan lampu infra merah dari arah hutan, aku menyadari bahwa permainan ini bukan lagi tentang uang, melainkan tentang siapa yang akan bertahan hidup saat topeng ini benar-benar hancur.
Aku harus membawanya sekarang, atau aku akan kehilangan kendali atas segalanya. Terma**k nyawanya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!