Udara di pegunungan selalu memiliki cara untuk menusuk hingga ke tulang, namun di dalam vila privat ini, aku memastikan segalanya terasa membara. Perapian di sudut ruangan berderak pelan, melemparkan bayangan jingga yang menari-nari di atas meja kayu m***ni yang telah kusiapkan dengan sempurna. Dua piring keramik mewah, lilin-lilin yang mulai meleleh, dan sebotol *Cabernet Sauvignon* tahun 1996 yang harganya mungkin setara dengan gaji setahun orang biasa.
Aku menyesap anggurku, membiarkan cairan merah pekat itu membasahi lidahku, sementara mataku tak lepas dari sosok yang berdiri kaku di dekat pintu kaca. Liam Alister. Dia tampak seperti patung granit yang dipahat dengan presisi yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Setelan jas hitamnya tanpa cela, punggungnya tegak, dan wajahnya tetap datar seperti permukaan danau yang membeku.
"Berhentilah menjadi penjaga pintu, Liam. Anggap saja ini perintah," ucapku, suaraku sengaja kubuat serak, rendah, dan penuh provokasi. Aku meletakkan gelas wine-ku dan menyandarkan dagu di telapak tangan, menatapnya dengan binar menantang. "Duduklah. Meja ini terlalu luas untuk dinikmati sendirian."
Liam tidak langsung bergerak. Rahangnya mengatup rapat, menciptakan garis tegas yang membuatku ingin menyentuhnya hanya untuk melihat apakah dia benar-benar terbuat dari darah dan daging. "Tugas saya adalah memastikan keamanan Anda, Miss Clarissa. Bukan untuk ikut makan malam."
Aku tertawa kecil, suara yang terdengar merdu namun penuh dengan manipulasi yang sudah mendarah daging. "Keamanan? Kita berada di puncak bukit yang terisolasi. Satu-satunya ancaman di sini hanyalah rasa bosan yang mematikan. Dan percayalah, aku jauh lebih berbahaya saat aku sedang bosan."
Aku berdiri, membiarkan gaun satin hitamku jatuh menjunt**, memeluk lekuk tubuhku dengan cara yang kurasa akan membuat pria mana pun lupa bagaimana caranya bernapas. Aku melangkah mendekatinya, langkahku tanpa suara di atas karpet tebal. Wangi parfumku yang bercampur dengan aroma melati dan vanilla memenuhi ruang di antara kami saat aku berhenti tepat di depannya.
"Minum denganku," bisikku, mengambil gelas kedua dan menyodorkannya ke dadanya yang bidang. "Satu gelas. Atau aku akan memastikan ayahku memindahkanmu ke divisi logistik di gudang pelabuhan besok pagi."
Liam menatap gelas itu, lalu menatap mataku. Untuk sesaat, aku melihat kilatan kemarahanβatau mungkin sesuatu yang lebih gelapβdi balik manik matanya yang berwarna abu-abu badai. Tangannya yang besar bergerak, jemarinya yang kasar bersentuhan dengan jemariku saat dia mengambil gelas itu. Sentuhan itu singkat, namun c**up untuk mengirimkan kejutan listrik yang menjalar ke seluruh sarafku.
Dia berjalan menuju meja dan duduk. Gerakannya tidak canggung, justru terlihat predator, seolah dia sedang membiarkan dirinya ma**k ke dalam perangkap yang dia tahu cara menghancurkannya. Dia meminum wine itu dalam sekali teguk besar, sebuah pelanggaran etiket yang justru terlihat sangat jantan di matanya.
"Lagi?" tawarku, merasa menang.
"Satu botol tidak akan c**up untuk membuatku kehilangan kendali, Miss," suaranya terdengar lebih berat sekarang. Dia menuangkan sendiri gelas keduanya.
Aku kembali ke kursiku, merasa puas karena berhasil meruntuhkan dinding pertamanya. "Kau terlalu tegang, Liam. Apa yang kau takuti? Bahwa kau akan menyukaiku jika kau mengenalku lebih jauh?"
Liam meletakkan gelasnya dengan denting yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. Matanya menatap api di perapian, seolah melihat sesuatu yang jauh melampaui dinding vila ini. "Anda tidak ingin mengenal saya, Anya. Orang-orang seperti saya... kami tidak memiliki cerita yang berakhir dengan bahagia di tempat seperti ini."
"Coba aku," tantangku. "Katakan sesuatu yang tidak ada di dalam curriculum vitae-mu. Sesuatu yang gelap."
Ada keheningan panjang yang mencekam. Hanya suara kayu terbakar yang mengisi ruangan. Liam bersandar, melonggarkan dasinyaβgerakan pertama yang menunjukkan kerapuhannya sejak dia bekerja denganku.
"Saya pernah berada di tempat di mana matahari tidak pernah bersinar c**up terang untuk menghapus bau darah," gumamnya, suaranya kini terdengar jauh dan dingin. "Saya melihat teman-teman saya mati demi tanah yang bahkan tidak menginginkan kami kembali. Di sana, moralitas adalah kemewahan yang tidak bisa kami beli. Anda bermain-main dengan gairah karena Anda bosan, tapi saya... saya hidup dalam kegelapan karena itu satu-satunya tempat di mana saya merasa aman."
Aku tertegun. Ini bukan jawaban yang kuharapkan. Aku mengharapkan cerita tentang mantan kekasih yang patah hati atau kesulitan ekonomi, bukan pengakuan yang terasa begitu berat dan penuh luka. Aku melihat ada bekas luka kecil di dekat pelipisnya yang selama ini tertutup rambut, dan tiba-tiba, ada dorongan aneh untuk melindunginyaβhal yang sangat ironis mengingat dialah pengawal pribadiku.
"Kenapa kau berhenti dari dunia itu?" tanyaku lembut, keberanianku untuk menggoda mendadak luntur digantikan oleh rasa ingin tahu yang tulus.
Liam menoleh, menatapku dengan intensitas yang membuat napas retak di tenggorokanku. Dia tidak lagi terlihat seperti pelayan yang patuh. Ada aura dominasi yang memancar darinya, sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada senjata apa pun yang dia bawa.
"Siapa bilang saya sudah berhenti?" tanyanya balik.
Dia berdiri, namun kali ini dia tidak menjaga jarak. Dia melangkah mengitari meja, berhenti tepat di belakang kursiku. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya di punggungku, dan tangan besarnya mendarat di bahuku, meremasnya pelan namun posesif.
"Anda pikir Anda sedang memegang kendali atas permainan ini, Anya," bisiknya tepat di telingaku, hembusan napasnya membuat bulu kudukku meremang. "Anda pikir Anda sedang menjinakkan seekor an**** penjaga. Tapi Anda tidak sadar, bahwa sejak kita menginjakkan kaki di resort ini, Anda bukan lagi nyonya rumah."
Aku mendongak, mencoba menemukan sisa-sisa Liam yang dingin dan kaku, namun yang kutemukan hanyalah tatapan seorang pemburu yang telah menyudutkan mangsanya. Jantungku berpacu g***. Rasa takut dan gairah bercampur menjadi satu adrenalin yang memabukkan.
"Lalu, siapa aku sekarang?" suaraku gemetar, bukan karena takut, tapi karena antisipasi yang tak tertahankan.
Liam mencondongkan tubuh, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Bau alkohol, tembakau samar, dan aroma maskulin yang tajam memenuhi indraku. "Anda hanyalah seorang gadis kecil yang tersesat di hutan," ucapnya dengan seringai tipis yang tidak pernah kulihat sebelumnya. "Dan saya adalah serigala yang selama ini Anda undang untuk ma**k."
Sebelum aku sempat membalas, tangannya berpindah ke leherku, tidak mencekik, namun c**up erat untuk membuatku menyadari bahwa dia bisa melakukannya kapan saja. Di saat itulah, untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku menyadari bahwa aku mungkin telah melakukan kesalahan fatal. Keheningan di resort ini tiba-tiba terasa sangat menyesakkan, seolah-olah dunia luar telah benar-benar melupakanku, meninggalkan aku sepenuhnya dalam kekuasaan pria yang baru saja menunjukkan taringnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!