Udara pegunungan di malam hari ternyata jauh lebih tajam dari yang kubayangkan. Dinginnya menembus hingga ke sumsum tulang, namun api yang menyala di dalam dadaku jauh lebih membakar. Aku berdiri di ambang pintu geser balkon resort, memandangi punggung lebar yang terbungkus jaket taktis hitam itu. Liam Alister. Dia berdiri di sana, tegak seperti tugu batu, tidak bergerak sedikit pun meski angin kencang menyapu rambut gelapnya.
Aku benci bagaimana dia bisa begitu tenang. Aku benci bagaimana dia memperlakukanku seolah-olah aku hanyalah sebuah koper berharga yang harus dijaga, bukan seorang wanita yang memiliki darah dan keinginan.
"Kau akan membeku jika terus berdiri di sana, Liam," suaraku memecah kesunyian, sengaja kubuat rendah dan serak.
Dia tidak menoleh. "Tugas saya adalah memastikan area ini aman, Nona Clarissa. Silakan ma**k ke dalam. Suhu udara sedang turun drastis."
Aku mendengus, melangkah maju dengan kaki te******* yang kini mulai mati rasa menyentuh lant** kayu balkon yang beku. Aku hanya mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna merah marun yang jatuh tepat di tengah paha. Aku tahu apa yang kulakukan. Aku tahu bagaimana cahaya rembulan memantul di kulit bahuku yang terbuka.
"Aku bosan dengan instruksimu," kataku, kini berdiri tepat di belakangnya. Aku bisa mencium aroma maskulinnyaβcampuran antara kayu cendana, hujan, dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya. "Ayahku membayarmu untuk melindungiku, bukan untuk menjadi sipir penjara pribadiku."
Liam berbalik dengan gerakan yang begitu cepat hingga aku hampir terhuyung ke belakang. Matanya yang sedingin es menatapku datar, tanpa emosi, namun aku menangkap kilatan samar di pupilnya yang melebar saat matanya menyapu tubuhku.
"Ma**klah, Anya. Ini bukan permainan," suaranya memberat, lebih dalam dari biasanya.
"Bagaimana jika aku bilang ini memang permainan?" Aku melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami hingga ujung jemariku bisa menyentuh ritsleting jaketnya. "Kau terlalu kaku, Liam. Apa kau tidak pernah merasa ingin melepaskan kendali sekali saja?"
Dia tidak mundur. Dia justru berdiri lebih tegak, dadanya yang bidang hampir bersentuhan dengan dadaku. "Kendali adalah satu-satunya hal yang menjagaku tetap hidup. Dan menjaga Anda tetap aman."
Aku tertawa kecil, tawa yang provokatif. "Aman dari apa? Dari dirimu? Atau dari keinginanku sendiri?"
Tanganku merayap naik, melewati dadanya yang keras seperti baja, hingga jemariku melingkar di tengkuknya. Aku bisa merasakan otot-otot lehernya menegang di bawah sentuhanku. Napas Liam mulai memberat, memburu, menciptakan uap kecil di udara dingin yang memisahkan bibir kami.
"Kau ingin aku pergi?" bisikku tepat di depan bibirnya, memancingnya dengan keintiman yang menyiksa. "Usir aku, Liam. Katakan kau tidak menginginkanku di sini. Katakan kau tidak merasakan apa pun saat aku menyentuhmu seperti ini."
Wajah Liam mengeras. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol. Aku bisa melihat peperangan hebat yang berkecamuk di balik mata gelap ituβpertarungan antara disiplin baja yang selama ini ia agungkan dan insting purba yang baru saja kubangkitkan. Dia adalah seorang prajurit, seorang pelindung, namun di bawah lapisan itu, aku tahu ada binatang buas yang sedang meronta minta dilepaskan.
"Anya..." suaranya terdengar seperti sebuah peringatan terakhir. "Jangan dorong aku."
"Dorong kau? Aku ingin kau hancur," balasku menantang. Aku menarik kerah jaketnya, memaksanya untuk menunduk lebih dalam. "Tunjukkan padaku siapa kau sebenarnya di balik seragam dingin ini."
Kesabarannya pecah.
Dalam satu gerakan eksplosif yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak, tangan Liam menyambar pinggangku dan menyentakkannya hingga tubuhku menempel sempurna pada tubuhnya yang keras. Tangan lainnya mencengkeram rahangku, tidak kasar, namun penuh dengan dominasi yang membuat lututku lemas.
"Kau tidak tahu apa yang kau minta, Nona Kecil," geramnya, suaranya kini benar-benar gelap dan mengancam.
"Tunjukkan padaku," tantangku, mataku menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.
Lalu, dia menerjang.
Bibirnya menghantam bibirku dengan rasa lapar yang menghanguskan. Tidak ada kelembutan di sana. Itu adalah sebuah penaklukan, sebuah ledakan gairah yang telah lama dipendam di balik tembok profesionalisme yang kini runtuh berkeping-keping. Aku terkesiap, namun segera membalasnya dengan intensitas yang sama, membiarkan lidahnya menjelajahi mulutku dengan kasar dan posesif.
Rasa dingin pegunungan seketika lenyap, digantikan oleh panas yang menjalar dari titik di mana tubuh kami bersentuhan. Tanganku meremas rambutnya, menariknya lebih dekat seolah-olah jarak sekecil apa pun adalah dosa. Liam mengerang rendah di tenggorokannya, sebuah suara yang terdengar seperti kemenangan sekaligus keputusasaan.
Dia mendorongku mundur hingga punggungku membentur dinding kaca balkon. Ciumannya beralih ke leherku, meninggalkan jejak panas yang membuatku mendongak, mendesah tanpa sadar ke arah langit malam yang bertabur bintang. Di saat itu, aku merasa telah menang. Aku telah berhasil menjatuhkan sang pelindung yang tak tersentuh. Aku telah memenangkan permainanku.
Namun, di tengah kabut gairah itu, aku tidak menyadari betapa kuat cengkeraman tangannya di pinggangku. Bukan seperti seseorang yang takut kehilanganku, melainkan seperti seseorang yang baru saja memastikan bahwa mangsanya tidak akan bisa lari ke mana-mana.
Liam melepaskan ciumannya perlahan, napasnya masih bersinggungan dengan kulitku. Dia menatapku, namun ada sesuatu yang berubah di matanya. Kilatan nafsu itu masih ada, namun kini tertutup oleh sesuatu yang jauh lebih tajam dan dinginβsebuah kalkulasi yang mematikan.
"Permainan yang berbahaya, Anya," bisiknya, suaranya kini kembali tenang, hampir terlalu tenang hingga membuat bulu kudukku berdiri. "Sekarang setelah kau memulainya, jangan harap kau bisa menghentikannya saat kau mulai merasa takut nanti."
Aku tersenyum, mengabaikan peringatan samar di dalam benakku. Aku terlalu mabuk oleh kemenangan ini untuk menyadari bahwa di balik ciuman yang baru saja memporak-porandakan duniaku, ada sebuah jerat yang baru saja mengencang di leherku. Aku tidak tahu bahwa malam yang kuanggap sebagai puncak penaklukanku, sebenarnya adalah awal dari penjara yang sesungguhnya.
Liam menarik diri, merapikan jaketnya dengan gerakan efisien yang kembali mekanis, seolah-olah ciuman tadi hanyalah sebuah interupsi kecil dalam jadwal kerjanya. Dia kembali menatap ke arah kegelapan hutan di bawah resort, meninggalkan aku yang masih gemetar di bawah cahaya bulan.
"Ma**klah sekarang. Tidurlah selagi kau masih bisa," ucapnya dingin tanpa menoleh lagi.
Kalimat itu menggantung di udara, lebih dingin dari angin malam, meninggalkan rasa cemas yang mulai merayap di balik gairah yang baru saja padam. Terlalu kaku untuk sekadar peringatan, dan terlalu gelap untuk sebuah perhatian.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!