Aku mengembalikan jaket keesokan paginya dengan polaroid berada di saku depan, bukan saku dalam. Aku sengaja memindahkannya agar tidak terlihat seperti mencoba menyembunyikan fakta bahwa aku pernah memegangnya.
Raka menerima jaket di perpustakaan. “Hasil evaluasi?”
Aku pura-pura tidak mengerti. “Evaluasi apa?”
“Jaketnya.”
“Hangat.”
“Hanya itu?”
Aku menatap buku-buku di belakangnya. “Aromanya masih sama.”
Raka terdiam. Wajahnya tetap tenang, tetapi matanya berubah sedikit lebih lembut.
Aku mengeluarkan polaroid. “Ini juga. Aku ingin mengembalikannya langsung.”
“Memang ada di saku.”
“Aku tahu. Tapi aku sempat…” Kata-kata menumpuk di tenggorokan. Aku tidak harus menceritakan malam itu. Namun menyembunyikan semua hal membuatku merasa hubungan kami hanya dibangun di atas kecanggungan.
“Aku sempat melihat fotonya lebih lama daripada yang diperlukan,” kataku. “Aku mengira Mira mungkin… seseorang yang dekat dengan Kak Raka.”
“Dia memang dekat. Adikku.”
“Aku sempat cemburu.”
Pengakuan itu begitu kecil, tetapi rasanya seperti berdiri di depan aula penuh orang.
Raka tidak tertawa. “Terima kasih sudah jujur.”
“Aku juga sering memotret Kak Raka saat kegiatan.”
“Aku tahu.”
Aku menatapnya tajam. “Tahu?”
“Cara kameramu berhenti selalu sama.” Ia menyandarkan punggung ke rak. “Tapi foto kegiatan memang tugasmu. Aku tidak menganggap itu pelanggaran.”
“Ada beberapa yang tidak pernah ma**k folder dokumentasi.”
Raka memahami maksudku. Ia tidak meminta melihatnya. “Kamu menyimpannya?”
Aku mengangguk.
“Kalau semuanya diambil di ruang publik dan tidak melanggar aturan, itu keputusanmu. Tapi aku ingin kamu tahu aku tidak marah.”
Kelegaan bercampur malu membuat mataku panas. “Kak Raka seharusnya menganggapku aneh.”
“Aku tidak punya hak menentukan nilai dirimu dari satu pengakuan.”
Ia menerima polaroid dan mema**kkannya kembali ke saku dalam. “Aku juga punya sesuatu yang belum kuceritakan.”
“Apa?”
“Belum sekarang.”
Sesudahnya kami memeriksa kembali kronologi foto kegiatan. Aku menunjukkan beberapa frame resmi yang kusimpan, semuanya berasal dari akun panitia atau kameraku sendiri. Raka tidak meminta membuka galeri lain. Sikap itu membuat pengakuanku terasa diterima tanpa menjadikan seluruh ruang privatku miliknya.
Untuk pertama kalinya, rahasia tidak terasa seperti dinding. Lebih seperti pintu yang mungkin dibuka jika kami sama-sama siap.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!