Aku menyadari Livia memperhatikanku sejak orientasi, tetapi tidak pernah yakin apakah itu ketertarikan atau kebiasaan seorang fotografer. Setiap kali aku melihat langsung, ia mengalihkan kamera. Karena posisiku sebagai senior dan mentor, aku memilih diam.
Namun pengakuannya tentang foto dan kecemburuan pada polaroid membuat diam terasa tidak lagi jujur.
Di studio komunitas, aku meminta ia menunggu setelah sesi berakhir. Livia tampak tegang, mungkin mengira pembicaraan kami tentang batas akan berubah menjadi penolakan.
“Aku bilang kemarin punya sesuatu yang belum kuceritakan,” kataku.
Ia mengangguk.
Aku membuka galeri ponsel dan menunjukkan satu foto resmi dari acara orientasi. Livia berdiri di podium, memegang mikrofon dengan kedua tangan, wajahnya serius karena sedang menjelaskan pembagian tim. Foto itu bukan foto intim. Diambil oleh fotografer kampus dan diunggah ke akun resmi.
“Aku menyimpan ini,” kataku.
Livia menatap layar, lalu aku. “Kenapa?”
“Karena aku menyukainya.”
“Fotonya?”
“Kamu di dalamnya.”
Keheningan memenuhi studio. Aku memastikan jarak kami c**up aman dan pintu tetap terbuka.
“Aku memperhatikanmu sebelum jaket tertukar,” lanjutku. “Cara kamu bekerja, cara kamu menunggu orang selesai bicara, dan cara kamu memotret tanpa membuat orang merasa ditonton.”
Livia memegang tali kameranya. “Kenapa tidak pernah bilang?”
“Aku takut kedekatan senior dan junior akan membuatmu merasa harus membalas.”
“Diam juga membuatku mengira Kak Raka tidak mungkin melihatku.”
Kalimat itu mengenai bagian yang selama ini kuhindari. Kehati-hatianku, yang kukira melindungi, ternyata juga bisa terasa seperti penolakan.
“Aku minta maaf,” kataku. “Aku tidak akan meminta jawaban sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu perhatian ini tidak muncul karena jaket atau rasa kasihan.”
Livia memandang foto di layar sekali lagi. “Boleh aku tahu kapan Kak Raka menyimpannya?”
“Dua bulan lalu.”
Senyum kecil muncul di wajahnya. “Berarti jauh sebelum aku membuat masalah.”
“Kamu tidak membuat masalah.”
“Kartu memori masih hilang.”
“Itu masalah proyek. Bukan ukuran dirimu.”
Aku menawarkan ponsel agar ia dapat menghapus foto jika tidak nyaman. Livia menggeleng.
“Jangan dihapus,” katanya. “Tapi lain kali, bilang.”
Aku juga menceritakan bahwa foto Livia membantuku mengingat satu hal: orang yang tampak pendiam tetap dapat memimpin ruangan ketika diberi kesempatan. Ia terlihat tidak percaya. Mungkin selama ini terlalu banyak orang mengenalnya hanya dari volume suara, bukan dari ketelitian dan keberanian yang ada di baliknya.
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya, kami berdiri dengan rahasia yang sama-sama diketahui dan batas yang sama-sama dihormati.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!