Setelah pengakuan Raka, aku berusaha mengenalnya tanpa menjadikan setiap gerakannya bagian dari fantasi. Ternyata ia suka kopi terlalu pahit, menyimpan catatan ide di belakang struk, dan selalu menelepon Mira setiap Minggu malam. Ia juga mudah lupa makan ketika sedang mengedit.
Kami mulai bekerja bersama menyiapkan ulang materi pameran dari salinan yang tersisa. Di ruang editing, Raka tidak lagi terasa seperti sosok jauh di balik kamera. Ia bisa salah memilih file, mengeluh tentang font, bahkan tertawa ketika aku menyebut komposisi poster buatannya “terlalu percaya diri”.
“Poster bisa percaya diri?” tanyanya.
“Kalau semua judulnya huruf kapital, bisa.”
Ia mengubahnya tanpa berdebat. “Lebih rendah hati?”
“Sedikit.”
Percakapan semacam itu membuat kedekatan kami tumbuh tanpa perlu membicarakan jaket. Namun rasa takut tetap ada: bagaimana jika perhatian Raka hanya karena ia merasa bertanggung jawab setelah aku terseret masalah kartu memori?
Di kafe kampus, aku akhirnya bertanya. “Kak Raka mendekat karena merasa kasihan?”
Ia meletakkan cangkir. “Tidak.”
“Karena merasa bersalah sudah menanyakan kartu?”
“Tidak.”
“Karena tahu aku menyukai Kak Raka?”
Raka menatapku lama. “Itu membuatku lebih hati-hati, bukan lebih tertarik.”
Aku menunduk. “Aku ingin percaya.”
“Kamu tidak harus percaya hanya karena aku bilang. Lihat tindakanku. Kalau aku melewati batas, bilang. Kalau kamu ingin berhenti, aku akan berhenti.”
“Kalau aku ingin berjalan pelan?”
“Berarti kita berjalan pelan.”
Ia tidak menyentuh tanganku atau menjanjikan sesuatu yang besar. Justru karena itu jawabannya terasa nyata.
Sebelum berpisah, Raka berkata, “Aku ingin kamu mengenalku tanpa perlu meminjam apa pun.”
Kalimat itu tinggal bersamaku sampai malam. Aku menyadari jaket telah membuka pintu, tetapi hubungan ini tidak boleh terus bergantung pada kain, aroma, atau kesalahan. Aku ingin mengenal orang yang menyimpan foto adiknya, lupa makan, dan memilih bertanya sebelum mendekat.
Kami membuat aturan kecil untuk sementara: tidak bertemu berdua di ruang tertutup larut malam, tidak menjadikan pesan sebagai kewajiban, dan tidak memakai masalah kartu memori sebagai alasan untuk terus bersama. Aturan itu bukan kontrak. Ia hanya cara memastikan kedekatan kami tumbuh karena pilihan, bukan keadaan.
Untuk pertama kalinya, fantasi dan kenyataan tidak saling bertentangan. Kenyataan justru lebih rumit, lebih lambat, dan jauh lebih berharga.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!