Aku hanya mengunggah foto jaket itu sekali, pada malam pertama, ke close friends yang berisi tujuh orang. Foto tersebut tidak memperlihatkan wajahku sepenuhnya—hanya bahu, sebagian dagu, dan emblem lensa di jaket abu-abu. Caption-nya sederhana: Salah bawa barang orang. Besok dikembalikan.
Dua minggu kemudian, tangkapan layar foto itu muncul di grup panitia.
Naya yang pertama menunjukkan ponselnya kepadaku. “Liv, ini bukan aku.”
Akun anonim telah memotong caption dan menambahkan tulisan: Jaket koordinator visual yang katanya hilang. Ada yang terlalu ingin dekat sama senior.
Jantungku berdetak keras. Komentar berkembang cepat. Seseorang menghubungkan foto dengan kartu memori KREASI_24 yang belum ditemukan. Kata “tertukar” berubah menjadi “dibawa”. Kata “mengagumi” berubah menjadi “menguntit”.
Aku memeriksa daftar close friends. Naya, dua teman kelas, Hana, dan beberapa panitia perempuan. Tidak ada Tegar. Namun seseorang bisa melihat unggahan itu dari ponsel orang lain.
Raka menelepon. Aku tidak menjawab. Ia mengirim pesan.
Raka: Aku sudah lihat. Aku tidak akan membuat pernyataan sebelum bicara denganmu.
Aku menatap kalimat itu. Di tengah rasa panik, ia masih mengingat batas yang pernah kubicarakan.
Kirana meminta seluruh tim berkumpul. Di ruang rapat, beberapa orang menghindari tatapanku. Tegar duduk dengan wajah prihatin yang terlalu rapi.
“Foto ini membuat situasinya sulit,” kata Kirana. “Sponsor meminta penjelasan karena materi pameran juga belum lengkap.”
“Aku tidak mengambil kartu itu,” kataku.
“Kami belum menyimpulkan apa pun,” jawabnya. “Tapi kita harus cari sumber foto dan sumber file.”
Tegar menyela, “Kalau jaketnya memang dibawa pulang, wajar orang bertanya.”
Raka berdiri. “Bertanya berbeda dengan menyebarkan foto privat tanpa konteks.”
Semua orang diam.
Aku seharusnya merasa dibela. Namun perhatian ruangan justru membuatku ingin mengecil. Raka menangkap reaksiku dan tidak melanjutkan.
Sore itu, akun gosip kampus mengunggah foto yang sama. Judulnya: Gadis yang Membawa Pulang Jaket Senior.
Di bawahnya, ada kalimat baru: Kartu memori proyek juga hilang di malam yang sama.
Aku menghubungi satu per satu orang di daftar close friends. Semua menyangkal menyebarkan foto, dan sebagian tampak tulus terkejut. Penyisiran kecil itu menguras tenaga, tetapi juga memperlihatkan sesuatu: ketika privasi bocor, korban sering dipaksa mencurigai orang-orang terdekat sebelum pelaku sebenarnya terlihat.
Rahasia kecil yang hanya kumaksudkan sebagai catatan lucu telah berubah menjadi senjata. Dan aku tidak tahu siapa yang memegangnya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!