Aku mengembalikan jaket Raka melalui Kirana, meski tidak ada alasan praktis untuk melakukannya. Jaket itu sudah lama kembali kepada pemiliknya; yang kukembalikan sebenarnya adalah jaket yang dipinjamkan saat hujan dan sejak itu tertinggal di loker dokumentasi.
“Kamu yakin?” tanya Kirana.
“Aku tidak mau ada foto lain.”
Aku juga keluar sementara dari tim. Keputusan itu membuat ruang editing yang biasanya menjadi tempatku bekerja terasa seperti wilayah terlarang. Di kamar kos, aku menghapus semua foto Raka dari folder pribadi. Tiga puluh dua foto kegiatan, empat tangkapan layar unggahan resmi, satu frame ketika ia tertawa.
Setelah folder kosong, aku tetap mengingat setiap gambar.
Naya duduk di sampingku. “Menghapusnya tidak membuat perasaanmu salah atau benar.”
“Aku cuma ingin berhenti memberi orang bahan.”
“Orang tidak melihat foldermu. Mereka melihat satu foto dari close friends yang dicuri.”
Kata dicuri membuatku menatapnya. Selama ini semua orang membahas jaket yang kubawa tanpa sengaja, seolah aku pelanggar. Tidak banyak yang membahas seseorang mengambil fotoku dengan sengaja.
Ponselku menerima satu pesan dari Raka.
Raka: Lokasi log perangkat ada di folder laporan. Aku tidak akan menghubungi lagi sampai kamu meminta.
Tidak ada pertanyaan tentang perasaanku. Tidak ada ajakan bertemu. Ia benar-benar mundur.
Anehnya, itu lebih menyakitkan daripada jika ia memaksa.
Aku membuka log. Pukul 01.12, perangkat eksternal bernama KREASI_24 terhubung ke laptop editing. Pukul 01.18, folder mentah disalin ke akun lokal. Aku sudah meninggalkan aula pukul 00.40 bersama Naya. Raka keluar pukul 01.05. Tegar tercatat masih berada di gedung sampai 01.36.
Untuk pertama kalinya, kronologi bukan sekadar pembelaan. Ia adalah arah.
Aku mengirim pesan kepada Bu Ratih dan meminta proses etik tertutup. Tangan gemetar ketika menekan tombol kirim, tetapi aku tidak menghapusnya.
Sebelum tidur, aku membuka chat Raka. Pesan terakhirnya tetap tidak menuntut jawaban.
Aku mengetik: Besok aku akan melapor.
Setelah menghapus folder, aku mencoba bekerja pada foto lain. Setiap komposisi terasa kosong. Aku akhirnya mengerti bahwa masalahnya bukan kehilangan gambar Raka, melainkan caraku menghapus bagian diri sendiri karena takut pada penilaian orang. Kesadaran itu menjadi alasan lain untuk melanjutkan laporan.
Kali ini, aku tidak menghapusnya.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!