Sebelum sidang etik, aku meminta bertemu Livia di perpustakaan. Aku tidak ingin pengakuanku tentang foto yang kusimpan muncul di ruang resmi dan terlihat seperti senjata untuk membenarkan kedekatan kami.
Aku menunjukkan kembali foto Livia di podium. “Aku ingin memastikan kamu masih nyaman aku menyimpan ini.”
Ia menatap layar. “Kenapa bertanya sekarang?”
“Karena besok Tegar mungkin menggunakan hubungan kita untuk mengalihkan pembicaraan. Aku tidak mau ada hal yang terasa disembunyikan darimu.”
“Hubungan kita belum punya nama.”
“Benar.”
Aku menawarkan menghapus foto. Livia tidak langsung menjawab.
“Aku takut semua perhatian Kak Raka muncul karena merasa harus menjaga junior yang bermasalah,” katanya.
“Aku menyimpan foto ini dua bulan sebelum jaket tertukar.”
“Aku tahu. Tapi setelah rumor, semuanya terasa tercampur.”
Aku mengangguk. “Karena itu aku tidak akan meminta keputusan tentang kita sekarang.”
Livia mengambil ponselku, memperbesar foto, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri yang tampak gugup di podium.
“Jangan hapus,” katanya. “Tapi lain kali, bilang.”
“Aku akan bilang.”
Ia mengembalikan ponsel. “Aku juga menghapus semua foto Kak Raka.”
“Aku tidak akan meminta kamu mengembalikannya.”
“Aku tahu.”
Ada kesedihan dalam suaranya, bukan karena file-file itu hilang, tetapi karena ia merasa harus menghapus bagian dirinya agar dipercaya.
“Livia,” kataku, “foto publik yang kamu simpan tidak membuatmu bersalah. Membawa jaket tanpa sengaja juga tidak membuatmu pencuri. Yang dinilai besok adalah siapa mengambil kartu, siapa menyebarkan foto, dan siapa membiarkan rumor berjalan.”
“Aku takut mereka bertanya apa yang kulakukan dengan jaket malam itu.”
“Kamu boleh bilang tidak relevan.”
“Kalau mereka memaksa?”
“Aku akan mendukung keputusanmu setelah kamu meminta. Tapi Bu Ratih sudah menegaskan batas proses.”
Livia menatapku lama. “Besok, aku ingin Kak Raka ada di ruangan.”
“Baik.”
Aku meminta Livia menuliskan persetujuannya atas kehadiranku di sidang, bukan karena prosedur mewajibkan, melainkan agar tidak ada pihak yang menganggap aku berhak hadir hanya karena namaku ada dalam rumor. Ia menandatangani formulir itu dan menatapku dengan kelegaan yang sulit dijelaskan.
Itu bukan pengakuan cinta. Hanya izin untuk hadir. Namun setelah berminggu-minggu belajar tentang batas, aku tahu izin kecil itu adalah bentuk kepercayaan yang sangat besar.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!