Ruang etik media lebih kecil daripada bayanganku. Bu Ratih duduk di tengah, Kirana dan admin kampus di sisi kanan, Tegar di hadapanku. Raka berada di belakang, c**up dekat untuk kulihat tetapi tidak mengambil tempat di sampingku tanpa izin.
Bu Ratih membuka pertemuan dengan aturan jelas: tidak ada pertanyaan tentang kehidupan pribadi yang tidak relevan, tidak ada perangkat yang diperiksa tanpa persetujuan, dan fokus pada akses kartu serta penyebaran foto.
Tegar berusaha mengubah arah. “Motif tetap penting. Livia membawa pulang jaket Kak Raka dan menyimpan fotonya. Bisa saja dia juga ingin materi dari kartu itu.”
Tanganku dingin, tetapi suaraku tidak.
“Aku membawa jaket karena tertukar. Itu dibuktikan oleh foto tumpukan jaket dan pesan pengembalian. Aku tidak pernah mengakses laptop editing setelah pukul 00.40. Log menunjukkan kartu disalin pukul 01.12.”
“Tapi apa yang kamu lakukan dengan jaket malam itu?”
Bu Ratih hendak menghentikan, tetapi aku mengangkat tangan.
“Itu tidak relevan. Jaket berada di kamar kosku, utuh, dan dikembalikan. Kartu memori sudah terhubung ke laptop editing setelah aku meninggalkan gedung. Privasiku tidak perlu dikorbankan agar pelanggaranmu bisa dinilai.”
Ruangan hening.
Admin menampilkan log jaringan, waktu penyalinan, dan file lomba yang berasal dari kartu KREASI_24. Tegar akhirnya mengakui menemukan kartu di dekat laptop, menyalinnya untuk portofolio, lalu menyimpan informasi karena takut didiskualifikasi. Foto close friends disebarkannya untuk membuat dugaan tertuju padaku.
“Aku tidak bermaksud menghancurkan reputasinya,” katanya.
“Tapi kamu membiarkan orang memanggilku pencuri,” jawabku.
Raka tidak menyela. Ketika diminta memberi kesaksian, ia hanya menjelaskan waktu dirinya meninggalkan ruangan dan fakta bahwa jaket tertukar. Ia tidak menyebut perasaanku, foto, atau percakapan malam.
Bu Ratih menetapkan sanksi sementara untuk Tegar dan memulai pemulihan hak karya. Rekomendasi magangku akan dikirim ulang dengan surat klarifikasi.
Saat keluar, lututku lemas. Raka mendekat tetapi berhenti satu langkah di depan.
“Boleh aku menemanimu?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Ketika keputusan dibacakan, aku tidak langsung merasa menang. Reputasi dapat diperbaiki lewat surat, tetapi rasa takut tidak hilang karena satu rapat. Aku meminta Bu Ratih menambahkan rekomendasi protokol penyimpanan kartu dan larangan menyebarkan materi close friends dalam pedoman kegiatan berikutnya.
Kami berjalan tanpa berbicara. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa seperti gadis yang membawa pulang jaket senior. Aku adalah orang yang memilih berdiri, menyebut fakta, dan menjaga bagian diriku yang memang bukan milik siapa pun.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!