Pukul 23.52, aku masih duduk di tepi ranjang dengan jaket Raka terlipat di pangkuan. Naya sudah tidur menghadap dinding, meninggalkanku bersama lampu meja, suara hujan, dan rasa bersalah yang semakin besar setiap kali aroma kayu-citrus itu tercium.
Aku mencoba mema**kkan jaket ke kantong plastik agar baunya tidak memenuhi kamar. Tanganku justru berhenti di bagian kerah. Bayanganku kembali pada Raka yang membungkuk di belakang kamera, lengan kemejanya digulung, suaranya rendah ketika mengatakan hasil fotoku βpunya kesabaranβ. Itu pujian biasa. Aku yang menjadikannya sesuatu yang lebih.
Jaket itu bukan dirinya. Aku tahu. Namun kesepian malam membuat batas antara benda dan pemiliknya terasa tipis. Aku sempat mengenakannya hanya untuk memastikan ukurannya, begitu dalih yang kubuat. Lengannya terlalu panjang dan bahunya jatuh di tubuhku. Hangat yang muncul bukan dari kain, melainkan dari pikiranku sendiri.
Aku menutup mata beberapa detik. Fantasiku tidak memiliki bentuk yang jelasβhanya suara Raka, jarak yang lebih dekat daripada biasanya, dan kemungkinan ia menatapku bukan sebagai junior yang kebetulan membawa kamera. Ketika kusadari napasku berubah, aku segera melepas jaket dan melipatnya secepat orang menutup kesalahan.
Rasa malu datang setelahnya, tajam dan tidak ma**k akal. Aku tidak mencuri apa pun. Aku tidak membuka pesan atau mengambil foto pribadi. Namun pikiran sendiri terasa seperti bukti bahwa aku tidak tahu batas.
Ponselku menyala pada pukul 00.08.
Raka: Livia, maaf mengganggu. Jaket abu-abuku mungkin terbawa bersama tas dokumentasi. Ada padamu?
Aku menatap pesan itu terlalu lama. Tiga kali kutulis jawaban, tiga kali kuhapus.
Akhirnya kukirim: Ada, Kak. Maaf, tertukar. Besok pagi saya kembalikan.
Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Raka: Tidak apa-apa. Tapi tolong cek satu hal. Di saku dalam seharusnya ada kartu memori bertuliskan KREASI_24.
Jantungku seperti jatuh ke lant**. Aku membuka saku tempat polaroid tersimpan, lalu saku lain, kemudian semua resleting yang belum pernah kusentuh.
Naya sempat terbangun ketika aku menjatuhkan gantungan baju. Ia bertanya apakah aku sakit. Aku menjawab hanya lelah. Kebohongan kecil itu menambah sesak di dada, sebab aku mulai menyadari yang kutakuti bukan tindakan buruk, melainkan kemungkinan seseorang mengetahui betapa kuatnya aku menginginkan perhatian Raka.
Tidak ada kartu memori.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!