Sebulan setelah sidang etik, pameran akhirnya selesai dan surat rekomendasi magangku dipulihkan. Aku kembali ke tim hanya untuk menuntaskan arsip. Raka menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai koordinator, lalu menyerahkan posisi kepada mahasiswa lain.
Kami bertemu di Kafe 00.08 tanpa kamera, laptop, atau jaket abu-abu. Raka sengaja datang memakai kemeja putih tipis, seolah memahami aku perlu melihatnya tanpa simbol yang selama ini memenuhi hubungan kami.
“Aku takut kedekatan kita cuma lahir karena krisis,” kataku setelah kopi datang.
“Aku juga takut kamu merasa harus membalas karena aku membantumu.”
“Kak Raka tidak menyelesaikan masalahku.”
“Benar. Kamu yang melakukannya.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian kosong. Ia mengakui kenyataan.
Aku menarik napas. “Malam ketika jaket terbawa, aku merasa sangat dekat dengan Kak Raka, padahal sebenarnya aku cuma dekat dengan benda dan bayanganku sendiri. Aku malu karena itu.”
Raka tidak meminta det**l. “Kamu tidak harus malu di depanku.”
“Aku masih belum bisa berhenti malu.”
“Tidak apa-apa. Aku tidak membutuhkan ceritanya untuk percaya padamu.”
Aku menatap tangannya di meja. Jarak antara jemari kami hanya beberapa sentimeter.
“Aku ingin mengenal Raka,” kataku, untuk pertama kalinya tanpa gelar. “Bukan hanya pemilik jaket.”
Ia tersenyum kecil saat mendengar namanya. “Aku ingin mengenal Livia tanpa menjadikan perasaanmu sebagai utang.”
Kami membicarakan batas dengan cara yang mungkin terdengar tidak romantis bagi orang lain: kapan pesan malam nyaman, bagaimana meminta ruang, apakah foto boleh disimpan, dan apa yang harus dilakukan jika perhatian publik kembali muncul.
Sebelum pulang, Raka berdiri di samping kursiku. “Boleh aku duduk lebih dekat?”
Aku memandang bangku panjang yang masih memiliki banyak ruang. Pertanyaan itu bukan tentang kursi. Ia adalah cara Raka memastikan aku memilih kedekatan.
“Boleh.”
Kami juga sepakat bahwa tidak semua percakapan harus terjadi lewat tengah malam. Raka mengatakan kedekatan yang sehat seharusnya tetap ada di siang hari, ketika tidak ada rasa sepi yang memperbesar emosi. Aku menyukai gagasan itu: perasaan kami harus mampu bertahan di bawah cahaya biasa.
Ia duduk, bahu kami hampir bersentuhan. Tidak ada aroma jaket yang menjadi perantara. Hanya hangat tubuh manusia nyata, napas yang tenang, dan keputusan sederhana untuk tidak menjauh.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!