Tiga bulan setelah Pekan Kreasi, aku berdiri di tangga Gedung Seni memakai jaket abu-abu baru milik Raka. Pameran telah ditutup, proses etik selesai, dan magangku akan dimulai minggu depan. Rumor tidak hilang sepenuhnya, tetapi tidak lagi menentukan caraku melihat diri sendiri.
Raka memasang kamera kecil pada tripod dan mengatur timer. “Kamu yakin mau foto bersama?”
“Yakin. Tapi fotonya tidak diunggah tanpa kita bicara.”
“Setuju.”
“Dan jangan pakai caption puitis.”
“Aku bahkan tidak punya caption.”
“Itu lebih aman.”
Kami berdiri di depan tangga yang pernah menjadi tempat hujan, ketakutan, dan percakapan setengah jadi. Raka tidak langsung merangkulku. Ia mengangkat tangan sedikit, menunggu.
“Boleh?”
Aku mengangguk. Lengannya berada di belakang bahuku dengan ringan, c**up dekat untuk terasa, c**up longgar untuk kulepaskan kapan saja.
Timer berbunyi. Kamera menangkap kami saat sama-sama tertawa karena Raka hampir terpeleset.
Setelah melihat hasilnya, aku berkata, “Simpan.”
“Di folder apa?”
Aku mengambil ponselnya dan membuat album baru. Nama yang kutulis sederhana: KITA.
Tidak disamarkan, tidak disembunyikan sebagai tugas, tidak dibiarkan tanpa batas. Hanya sesuatu yang kami pilih bersama.
Raka menatapku. “Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan.”
Aku tahu dari caranya menarik napas. Jantungku berdegup lebih cepat, tetapi kali ini rasa gugup tidak terasa seperti kesalahan.
“Boleh aku menciummu?”
Aku sempat melihat kembali semua versi diriku: gadis yang memeluk jaket curian oleh kecelakaan, junior yang takut dituduh, perempuan yang berdiri di ruang etik dan berkata privasinya tidak untuk diperdebatkan. Semua versi itu membawaku pada jawaban yang benar-benar kupilih.
“Boleh.”
Ciuman pertama kami hangat dan singkat. Tidak ada kamera menyala, tidak ada penonton, dan tidak ada tuntutan untuk membuatnya lebih dari yang kami inginkan. Ketika kami menjauh, Raka menyentuhkan dahinya ke dahiku setelah bertanya dengan tatapan.
“Aku masih boleh memakai jaketnya?” tanyaku.
“Boleh. Kali ini hadiah.”
Aku memegang bagian kerah yang dulu membuatku merasa bersalah. Aromanya masih kayu dan citrus, tetapi kini tidak lagi menjadi pengganti pemiliknya. Raka berdiri di depanku, nyata, gugup, dan tersenyum.
Kami mencetak satu salinan foto bersama dan menuliskan tanggal di belakangnya. Foto itu tidak ma**k saku jaket atau folder tersembunyi. Aku menyimpannya di meja belajar, sementara Raka membawa salinan lain. Untuk pertama kalinya, kenangan yang sama berada pada kami berdua dengan pengetahuan dan izin yang setara.
Dulu jaket itu terbawa tanpa sengaja. Kali ini, aku memilih tetap di sisinya.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!