Jaket Kakak Tingkat

Bab 3: Bab 3: Kartu Memori di Saku Dalam

Pengaturan Membaca

Pagi berikutnya aku tiba di Ruang Editing sebelum pukul delapan dengan jaket Raka di dalam tas kain. Sepanjang perjalanan aku memeriksa ulang semua saku, meski tahu hasilnya tidak akan berubah. Kartu memori KREASI_24 tidak ada.

Raka sudah menunggu di depan pintu. Ia memakai kemeja hitam tanpa jaket dan terlihat lebih lelah daripada biasanya. Ketika aku menyerahkan tas, jemariku dingin.

“Maaf, Kak. Aku sudah cek kamar dan tas dokumentasi. Tidak ada kartu memorinya.”

Ia menerima jaket, lalu menatapku, bukan saku-sakunya. “Kamu tidur?”

Pertanyaan itu begitu tidak sesuai dengan ketakutanku hingga aku hanya mengangguk bohong.

Raka memeriksa bagian dalam dengan gerakan tenang. Aku tahu ia akan menemukan polaroid dalam posisi yang sedikit berbeda. Aku telah memegangnya terlalu lama. Rasa malu membuat tenggorokanku sempit.

“Kamu sempat memeriksa seluruh sakunya?” tanyanya.

Nada suaranya datar, tetapi kepalaku langsung memenuhi kemungkinan buruk. Apakah ia mengira aku mengambil kartu itu? Apakah aku tampak seperti orang yang sengaja membawa pulang barang senior yang dikagumi?

“Aku cuma mencari identitas pemiliknya,” jawabku terlalu cepat. “Aku lihat polaroid, tapi langsung kukembalikan. Kartu memori tidak ada. Aku tidak mengambil apa pun.”

Raka berhenti memeriksa. “Aku tidak bilang kamu mengambilnya.”

“Tapi Kak Raka menanyakan semua sakunya.”

“Karena mungkin kartu itu terselip.” Ia menarik napas. “Bukan karena aku menuduhmu.”

Pintu terbuka dan Tegar, asisten editor, ma**k membawa dua gelas kopi. Ia melirik jaket di tangan Raka dan wajahku yang pasti pucat.

“Sudah ketemu?” tanyanya.

“Belum,” jawab Raka. “Kita cek ulang ruang belakang dan log pemindahan file.”

Tegar bersiul pelan. “Kalau memang ada di jaket, ya terakhir sama yang bawa jaket.”

Kalimat itu menempel di udara. Raka langsung menoleh padanya. “Jaket tertukar setelah semua orang membereskan aula. Jangan membuat kesimpulan.”

Aku ingin berterima kasih, tetapi rasa bersalah tentang malam tadi membuatku tidak berani menatapnya.

Saat Raka mema**kkan tangan ke saku dalam sekali lagi, ia mengangkat polaroid dan bertanya dengan suara lebih pelan, “Kamu menemukan ini, kan?”

Aku mengangguk.

“Dan tidak ada benda lain?”

“Tidak ada.”

Raka menyimpan foto itu kembali. “Baik. Aku percaya.”

Di dalam tas kain, jaket itu tampak seperti barang bukti. Aku mencatat waktu ketika membawanya, bus yang kunaiki, dan siapa yang melihatku pulang. Kebiasaanku menyusun det**l biasanya menenangkan, tetapi pagi itu setiap daftar justru membuatku merasa sedang menyiapkan pembelaan untuk kesalahan yang belum terbukti.

Kepercayaannya seharusnya menenangkan. Anehnya, justru membuat rahasiaku terasa semakin berat.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca