Jaket Kakak Tingkat

Bab 4: Bab 4: Aku Tidak Menuduhmu

Pengaturan Membaca

Dari wajah Livia, aku tahu pertanyaanku tentang saku jaket terdengar seperti tuduhan. Ia berdiri di depan meja editing dengan kedua tangan menggenggam tali tas, seolah satu kalimat salah dapat membuat seluruh ruangan berpihak melawannya.

Aku telah melihat ekspresi itu sebelumnya—pada mahasiswa baru yang takut dianggap tidak kompeten, pada relawan yang salah meletakkan file, dan pada diriku sendiri ketika pernah dituduh menggunakan kedekatan dengan junior untuk keuntungan organisasi. Karena itu aku memilih kata-kata dengan hati-hati. Sayangnya, kehati-hatian sering membuat suaraku terdengar lebih dingin.

“Aku tidak menuduhmu,” kuulangi setelah Tegar keluar mengambil kunci aula. “Kartu itu bisa hilang sebelum jaket terbawa.”

Livia mengangguk, tetapi bahunya masih kaku.

Aku membuka log kamera dan daftar serah-terima. Kartu KREASI_24 berisi foto mentah pameran, terma**k karya yang belum boleh dipublikasikan. Kehilangannya serius, tetapi kepanikan Livia bukan kepanikan orang yang menyembunyikan kartu. Ia lebih mirip seseorang yang takut ada hal lain ditemukan.

Aku teringat cara ia menghindari tatapanku sejak orientasi. Bukan selalu menjauh—kadang justru terlalu lama memperhatikan, lalu berpura-pura memeriksa layar kamera. Aku sadar ada kemungkinan rahasia itu berkaitan denganku, tetapi kemungkinan bukan izin untuk bertanya.

“Tolong jangan periksa kamar lagi sendirian,” kataku. “Kita cari lewat alur file. Kalau ada yang memindahkan kartu, jejaknya ada.”

“Aku boleh bantu?”

“Boleh. Tapi bukan untuk membuktikan kamu tidak bersalah. Kamu memang tidak perlu membuktikan sesuatu yang belum pernah dituduhkan.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, ia menatapku penuh. Matanya lelah dan malu, tetapi ada sedikit kelegaan.

Tegar kembali dan mengumumkan aula sudah dibuka. Sebelum kami pergi, Livia menyentuh tas kain kosong di tangannya.

“Kak, polaroid tadi… maaf kalau posisinya berubah.”

“Itu foto adikku.”

“Aku tahu dari tulisannya.” Wajahnya memerah. “Aku cuma melihat untuk mencari nama pemilik jaket.”

“Aku percaya.”

Ia menunduk lagi. Aku hampir menambahkan bahwa aku tidak keberatan ia melihat foto itu, tetapi kalimat tersebut terasa terlalu dekat dengan wilayah yang belum ia izinkan.

Di aula, kami menemukan tumpukan pakaian, kabel, dan kotak properti, tetapi tidak ada kartu memori. Livia membantu memeriksa setiap kotak dengan ketelitian yang sama seperti ketika ia mengambil gambar.

Sepanjang pencarian, aku beberapa kali mendapati Livia memperhatikan reaksiku sebelum membuka kotak berikutnya. Ia bukan hanya takut pada kartu yang hilang. Ia takut pada penilaianku. Kesadaran itu membuatku semakin berhati-hati, sebab satu nada salah dariku bisa mengubah kesalahan logistik menjadi luka yang lebih panjang.

Ketika ia berdiri terlalu lama di bawah lampu panggung yang belum dimatikan, aku menyadari satu hal sederhana: aku lebih khawatir ia merasa dicurigai daripada kehilangan kartu itu sendiri.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca