Ruang editing dipenuhi suara kipas komputer dan bunyi klik mouse. Aku duduk di sisi Raka untuk memeriksa metadata foto malam acara. Tegar berada di meja belakang, sementara Kirana sesekali ma**k membawa daftar panitia.
Raka membungkuk untuk menunjuk satu baris waktu di layar. Aroma kayu dan citrus yang kukenal langsung membuat ingatanku kembali ke kamar kos, jaket yang terlalu besar, dan napas yang berusaha kutenangkan. Aku menjauh sedikit terlalu cepat hingga kursiku membentur meja.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Raka.
“Iya. Kursinya sempit.”
Padahal jarak antarkursi c**up lebar.
Kami menemukan bahwa kartu KREASI_24 terakhir terdaftar pada pukul 00.56 di kamera utama. Pada pukul 01.14, laptop editing menerima folder baru tanpa nama sumber. Namun data perangkatnya sudah dihapus.
“Siapa yang tetap di sini setelah satu?” tanyaku.
“Tegar, aku, dan dua panitia dekorasi,” jawab Raka. “Aku keluar sekitar satu lewat lima untuk mengantar properti.”
Tegar menoleh. “Aku juga cuma sebentar. Mungkin kartu sudah ma**k jaket sebelum itu.”
Aku merasakan pandangannya padaku. Raka tidak merespons tuduhan tersirat tersebut. Ia justru membuka log penggunaan laptop.
Ketika Raka berdiri untuk mengambil kabel, aroma parfumnya kembali tertinggal. Aku menahan napas tanpa sadar.
“Kamu mengenali parfumnya?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menatapnya. “Apa?”
“Sejak tadi setiap aku mendekat, kamu seperti…” Ia berhenti, mungkin menyadari pertanyaannya terlalu pribadi. “Tidak apa-apa.”
Aku bisa saja berbohong. Namun kebiasaan menyembunyikan semuanya mulai terasa melelahkan.
“Aromanya sama seperti jaket,” jawabku pelan.
Raka tidak tersenyum mengejek. Ia hanya mengangguk, seolah menerima fakta sederhana.
“Kayu cedar dan citrus,” katanya. “Hadiah dari Mira. Aku sering lupa mengganti parfum.”
“Aromanya mudah diingat.”
Tatapan kami bertahan lebih lama daripada seharusnya. Untuk beberapa detik, ruangan, kartu memori, dan Tegar di belakang seolah menghilang.
Kemudian komputer berbunyi. Baris log baru muncul: perangkat eksternal terhubung pukul 01.12.
Raka mencondongkan tubuh ke layar. “Ini waktu yang berbeda dari catatan awal.”
Aku memotret layar log dan mencatat perbedaan waktu. Pekerjaan teknis memberi kami alasan untuk duduk berdekatan tanpa membicarakan perasaan. Namun setiap kali Raka bertanya pendapatku dan benar-benar mendengarkan jawabannya, batas antara kerja sama dan kedekatan terasa semakin sulit dibedakan.
Aku menggeser kursi mendekat. Kali ini aku tidak menjauh saat bahunya hampir menyentuh bahuku.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!