Layar ponsel yang retak di sudut kanan itu menyala terang, membiaskan cahaya biru pucat ke wajahku yang kusam oleh debu jalanan Jakarta. Pukul 23.15. Angka di aplikasi menunjukkan 19 dari 20 poin. Aku hanya butuh satu tarikan lagi, satu pesanan terakhir untuk mencairkan bonus harian yang c**up untuk menebus resep insulin Ibu besok pagi.
Tanganku yang terbungkus sarung tangan hitam yang sudah bolong di bagian jempol memijat tengkuk yang kaku. Bau aspal basah sisa hujan sore tadi menguap, bercampur dengan aroma sate kambing dari warung pinggir jalan yang mulai tutup. Di malam Jumat Kliwon seperti ini, jalanan biasanya lebih cepat lengang, seolah-olah kota ini sepakat untuk bersembunyi lebih awal dari apa pun yang berkeliaran di kegelapan.
*Ping!*
Jantungku melonjak. Bunyi itu biasanya terdengar seperti melodi kemenangan, tapi malam ini, suaranya terasa lebih nyaring, lebih melengking. Aku menatap layar.
*Penumpang: Tanpa Nama.*
*Lokasi Penjemputan: Blok M-4, TPU Melati.*
Aku mengerutkan kening. TPU Melati adalah kompleks pemakaman massal yang luasnya berhektar-hektar di pinggiran kota. Siapa yang memesan ojek dari tengah kuburan menjelang tengah malam?
"Ah, palingan anak muda yang habis uji nyali atau kuncen yang mau pulang," gumamku, mencoba menenangkan debar jantung yang mulai tidak beraturan. Logika kalah telak oleh kebutuhan. Bonus itu harus cair. Titik.
Aku menghidupkan mesin motor Vario-ku yang sudah berumur. Suaranya menderu pendek sebelum akhirnya stabil. Aku memutar gas, membiarkan angin malam yang dingin menusuk hingga ke pori-pori jaket hijauku yang mulai memudar. Semakin dekat ke lokasi, lampu jalanan semakin jarang, digantikan oleh jajaran pohon kamboja yang melambai-lambai ditiup angin, seperti tangan-tangan kurus yang memanggilku ma**k.
Saat roda motorku melewati gerbang besi pemakaman yang berkarat, GPS di ponselku mulai bertingkah aneh. Tanda panah biru yang melambangkan posisiku berputar-putar seperti gasing.
"Sial, sinyalnya ampas," gerutuku.
Tiba-tiba, layar ponselku berkedip hebat. Warna hijau khas aplikasi ojek online itu perlahan berubah menjadi ungu gelap, hampir hitam. Sebuah notifikasi muncul dengan font yang tidak pernah kulihat sebelumnyaβbergaya kaligrafi kuno yang tajam.
*Fitur 'Hidden Route' Diaktifkan. Ikuti jalur emas.*
Garis navigasi di layar berubah menjadi benang cahaya berwarna emas pucat. Yang membuat bulu kudukku berdiri bukan warnanya, melainkan arahnya. Garis itu tidak melewati jalan setapak semen yang biasa dilalui peziarah, melainkan memotong lurus melewati deretan nisan, seolah-olah motor ini bisa terbang atau menembus tanah.
Aku berhenti tepat di depan sebuah pohon beringin tua yang akarnya menjunt** seperti rambut raksasa. Sunyi. Benar-benar sunyi sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berdegup kencang melawan keheningan. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada gonggongan an**** pelacak. Hanya ada hembusan angin yang membawa wangi bunga melati yang sangat menyengatβterlalu wangi untuk ukuran bunga alami.
"Mas... Ojek ya?"
Suara itu lembut, sangat tenang, muncul tepat dari samping telingaku. Aku tersentak hingga hampir menjatuhkan motor. Di sana, berdiri seorang wanita dengan gaun putih sederhana yang panjangnya mencapai mata kaki. Rambutnya hitam legam, tergerai rapi. Wajahnya cantik, namun pucat pasi, seperti porselen yang tidak pernah tersentuh matahari.
"I-iya, Mbak. Atas nama... Tanpa Nama?" tanyaku terbata-bata, mencoba tetap profesional meski tanganku gemetar hebat saat memegang kemudi.
Wanita itu tersenyum tipis. "Sesuai aplikasi, Mas."
Dia melangkah mendekat. Saat itulah aku menyadarinya. Senter kecil di atas *dashboard* motorku yang menyala tidak sengaja menyorot ke arah kakinya. Di bawah cahaya lampu, di atas tanah merah yang basah itu, hanya ada bayanganku dan bayangan motorku yang memanjang. Di tempat wanita itu berdiri, tanahnya polos. Kosong.
Wanita itu tidak memiliki bayangan.
"Ayo jalan, Mas. Keburu subuh," ucapnya sambil naik ke jok belakang.
Motor itu tidak terasa terbebani. Ringan, seolah-olah aku hanya membonceng udara. Namun, bau melati itu kini benar-benar mengepungku, menyesakkan paru-paru.
"Ke... ke mana tujuannya, Mbak?" tanyaku, nyaris berbisik.
Aku melirik ke layar ponsel. Alamat tujuannya bukan lagi nama jalan atau titik koordinat bumi. Di sana hanya tertulis: *Gerbang Penantian - Sektor 7.*
"Ikuti saja jalurnya, Mas Rizky," jawabnya.
Aku tertegun. Aku yakin belum menyebutkan namaku, dan namaku pun biasanya hanya tertera di profil driver. Tapi dia mengucapkannya dengan nada yang sangat akrab, seolah kami sudah saling kenal sejak lama.
Tiba-tiba, aplikasi di ponselku mengeluarkan suara pria berat yang bergema, berbeda jauh dari suara navigasi standar. *"Perjalanan dimulai. Jangan menoleh ke belakang sebelum transaksi selesai, atau jiwamu akan tertinggal di sini."*
Layar ponselku kini menampilkan hitungan mundur dengan angka-angka berwarna merah darah. Di depan kami, jalur emas itu membelah kegelapan, membuka jalan di antara nisan-nisan yang tiba-tiba bergeser sendiri, memberi ruang bagi motor-ku untuk ma**k ke area pemakaman yang lebih dalamβarea yang aku tahu pasti tidak pernah ada di peta Jakarta mana pun.
Aku tidak punya pilihan. Aku menarik gas, dan saat motorku melaju menembus kabut tebal yang tiba-tiba muncul, aku sadar bahwa satu tarikan terakhir ini mungkin akan menjadi perjalanan terakhir dalam hidupku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!