Udara malam di sekitar gudang tua di pinggiran Cakung ini terasa lebih berat dari biasanya, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh lapisan debu tipis yang menyesakkan paru-paru. Aku menyeka keringat dingin yang mengucur dari pelipis, menatap layar ponselku yang retak. Di sana, aplikasi ojek gaib itu tidak lagi menampilkan peta jalanan Jakarta yang macet, melainkan sebuah diagram berpendar ungu dengan tulisan yang berdenyut pelan: *SPEED OF SOUL β READY FOR ACTIVATION.*
"Riz, lo beneran mau lakuin ini?" Suara Melati terdengar lirih di belakangku. Gadis itu berdiri tanpa menapak tanah, gaun putihnya yang kusam tampak berkibar meski tidak ada angin. Wajahnya yang pucat menyiratkan kecemasan yang luar biasa. "Motor lo... ini motor tua, Riz. Fisiknya nggak akan sanggup."
Aku melirik motor bebek kesayanganku yang terparkir di tengah lingkaran simbol aneh yang kubuat dari campuran oli dan tanah kuburanβsesuai instruksi dari menu 'Bantuan' di aplikasi. Besi tuanya berkarat di sana-sini, dan joknya sudah ditambal lakban hitam berkali-kali. Motor ini adalah satu-satunya peninggalan Ayah, senjata utamaku mencari sesuap nasi dan biaya pengobatan Ibu.
"Kita nggak punya pilihan, Mel," jawabku pelan, tanganku gemetar saat merogoh kantong jaket. Aku mengeluarkan tujuh keping koin kunoβhasil upah menjemput penumpang tanpa bayangan selama seminggu terakhir. "Kalau aku nggak bisa mencapai kecepatan itu, kita nggak akan pernah sampai ke malam kematianmu sepuluh tahun lalu. Aku nggak akan bisa menyelamatkanmu."
Aku menarik napas panjang, lalu meletakkan ketujuh koin itu di atas tangki bensin. Seketika, koin-koin itu tidak bergemerincing jatuh, melainkan terserap ma**k ke dalam logam tangki seolah-olah besi itu adalah permukaan air.
Layar ponselku mendadak silau. Sebuah bar kemajuan muncul: *Synchronizing Soul with Machine: 10%... 25%...*
Tiba-tiba, mesin motor itu menyala sendiri. Suaranya bukan lagi raungan knalpot bocor yang biasa kudengar, melainkan suara berat yang menyerupai geraman binatang buas yang sedang kesakitan. Seluruh bodi motor mulai bergetar hebat.
"Riz! Pegang s****gnya!" teriak Melati.
Aku melompat naik ke atas jok. Saat tanganku menyentuh *handgrip*, rasa sakit yang luar biasa menjalar dari telapak tangan hingga ke tulang belakang. Rasanya seperti menggenggam kabel tegangan tinggi yang te*******. Pandanganku berkunang-kunang. Aku melihat aliran energi berwarna biru elektrik merayap dari ban, naik ke rangka, lalu membungkus seluruh mesin.
"Ayo, kuatlah..." rintihku, meremas s****g sekuat tenaga.
*50%... 65%...*
Hambatan itu datang. Suara derit logam yang mengerikan memenuhi ruangan gudang. Rangka motor bebekku mulai membengkok ke arah yang tidak wajar. Baut-baut beterbangan, terlepas dari tempatnya seperti peluru yang melesat ke segala arah. Salah satu baut menyerempet pipiku, meninggalkan perih dan aliran darah hangat.
Motor ini menolak. Logam fana ini tidak dirancang untuk menampung energi murni dari dimensi lain. Aku bisa merasakan penderitaan kendaraan ini melalui telapak tanganku. Setiap getarannya adalah teriakan minta tolong.
"Tekanannya terlalu besar, Rizky! Batalkan! Motornya mau meledak!" Melati mencoba mendekat, tapi sebuah gelombang kejut transparan melemparkannya mundur.
"Enggak! Sedikit lagi!" teriakku frustrasi. Aku memejamkan mata, membayangkan wajah Ibu yang tersenyum saat aku pulang membawa obat, dan wajah Melati yang penuh harap. Aku menuangkan seluruh tekadku ke dalam mesin itu. "Terima ini! Tolong, sekali ini saja!"
Tiba-tiba, suhu di sekitarku turun drastis hingga napasku membentuk kabut. Namun, mesin di bawah selangkanganku justru membara hingga berwarna merah jingga. Bau plastik terbakar dan aroma aneh seperti bunga kamboja yang membusuk bercampur menjadi satu.
*80%... 90%...*
*KRAKK!*
Shockbreaker belakang patah. Motor itu ambles ke bawah, tapi energi biru itu menopangnya, menggantikan fungsi pegas yang hancur dengan cahaya padat. Seluruh bodi motor kini tertutup oleh aura tipis yang mengaburkan bentuk aslinya. Ia tampak lebih panjang, lebih tajam, dan lebih... haus.
"Rizky, di belakangmu!" Teriakkan Melati membuatku menoleh.
Di pintu gudang yang tertutup rapat, sebuah bayangan hitam pekat mulai merembes ma**k dari celah bawah pintu. Hawa dingin yang dibawa bayangan itu jauh lebih mematikan daripada suhu sebelumnya. Itu bukan sekadar dingin, itu adalah ketiadaan.
"Sang Pengawas," bisikku dengan tenggorokan kering.
Aplikasi di ponselku berbunyi nyaring, sebuah notifikasi merah muncul menutupi seluruh layar: *WARNING: UNAUTHORIZED DIMENSIONAL BREACH DETECTED. THE WARDEN IS COMING.*
*99%...*
Motor ini menjerit satu kali lagi, sebuah pekikan logam yang m****akkan telinga sebelum akhirnya semuanya menjadi sunyi senyap. Getaran hebat itu hilang, digantikan oleh dengungan rendah yang stabil. Motor bebek tuaku kini tidak lagi terlihat kumuh. Cahaya biru elektrik berpendar di sela-sela mesinnya, dan jarum speedometer-nya kini menunjuk ke angka yang tidak ma**k akal, melampaui batas fisik yang ada.
"Kita harus pergi sekarang, Mel! Naik!" perintahku.
Melati segera melesat ke jok belakang. Namun, saat dia baru saja menyentuh pundakku, pintu gudang itu hancur berkeping-keping seolah dihantam martam raksasa yang tak terlihat. Sesosok jubah hitam tanpa wajah berdiri di sana, memegang sebuah sabit panjang yang bilahnya terbuat dari kabut pekat.
"Rizky..." suara Sang Pengawas bergema bukan di telinga, tapi langsung di dalam kepalaku. "Kau telah melanggar hukum keseimbangan. Kembalikan arwah itu, atau kau akan menjadi bagian dari aspal keabadian."
Aku menarik gas dalam-dalam. Motor itu tidak mengeluarkan asap, melainkan percikan cahaya yang menghanguskan lant** semen di bawahnya. Aku menatap mata kosong di balik jubah itu dan menyeringai tipis, meski jantungku berdegup kencang karena takut.
"Maaf, Pak. Saya lagi ngejar setoran masa lalu."
Aku melepaskan kopling, dan dunia di sekitarku meledak menjadi garis-garis cahaya yang memanjang. Gudang itu menghilang dalam sekejap, namun di kaca spion, aku melihat Sang Pengawas tidak tinggal diam. Ia mulai mengejar, melesat menembus bayangan dengan kecepatan yang tak kalah g***.
Dan yang lebih buruk, aku menyadari satu hal: retakan di rangka motorku mulai menjalar ke arah mesin. Aktivasi ini berhasil, tapi motor ini sedang menghancurkan dirinya sendiri dari dalam. Jika aku tidak mencapai tujuan sebelum motor ini hancur, kami berdua akan terjebak di ruang antar dimensi selamanya.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!