Layar ponsel di genggamanku bergetar begitu hebat, seolah-olah perangkat keras itu berusaha melepaskan diri dari casing plastiknya. Cahaya biru neon dari aplikasi ojek gaib itu berpendar, menyinari wajah Melati yang duduk tegang di boncenganku. Di sekeliling kami, kabut hitam mulai menelan realitas Jakarta tahun 2024. Suara klakson kendaraan dan deru mesin kota perlahan memudar, digantikan oleh dengungan frekuensi tinggi yang membuat telingaku berdenging panas.
"Pegang yang erat, Melati!" teriakku, meski suaraku sendiri terdengar seperti terendam di dalam air.
Jalanan di depanku tidak lagi berupa aspal beton. Aspal itu pecah, terbelah oleh aliran kode digital berwarna keemasan yang bercampur dengan asap dupa. Ini adalah 'Hidden Route' yang paling berbahayaβjalur yang melintasi garis linear waktu. Pandanganku mengabur. Sensasi mual menghantam perutku saat gravitasi seolah-olah diputarbalikkan. Jantungku berdegup kencang, menghantam dinding dada seperti burung yang terperangkap dalam sangkar.
Tiba-tiba, sebuah sentakan keras melemparku ke depan. Ban motor matic-ku menjerit saat bergesekan dengan permukaan jalan yang kasar. Bau aspal basah dan aroma sate ayam yang dibakar menyengat indra penciumanku. Aku mengerem mendadak, membuat tubuh Melati menab**k punggungku.
Aku terengah-engah, paru-paruku terasa seperti terbakar. Saat aku mendongak, duniaku telah berubah.
Tidak ada lagi gedung pencakar langit dengan videotron raksasa di kejauhan. Di depanku adalah deretan ruko tua dengan cat yang mengelupas dan lampu jalan kuning remang-remang yang berkedip tidak stabil. Sebuah baliho besar di sudut jalan memajang iklan ponsel lipat yang populer satu dekade lalu. Kalender di toko kelontong terdekat menunjukkan angka yang mustahil: 12 November 2014.
"Kita sampai..." bisik Melati. Suaranya bergetar, penuh dengan kesedihan yang mencekik.
Aku menoleh ke belakang. Melati tidak lagi terlihat transparan atau pucat. Di bawah cahaya lampu jalan tahun 2014 ini, kulitnya tampak hangat, matanya bersinar dengan kehidupan yang sempat dirampas darinya. Namun, aku tahu ini hanyalah sisa-sisa memori yang dipaksa menjadi nyata oleh aplikasi si**** ini.
"Ingat, Mel," kataku sambil berusaha menenangkan tanganku yang gemetar. "Kita hanya punya waktu sampai fajar. Jangan menyentuh apa pun yang bisa mengubah masa depan secara drastis. Sang Pengawas pasti sudah merasakan kehadiran kita."
Melati turun dari motor dengan gerakan ragu. Ia menatap sebuah rumah bergaya kolonial di ujung gangβrumahnya. "Malam ini... malam itu, Rizky. Beberapa jam lagi, kecelakaan itu akan terjadi."
Aku mematikan mesin motor, berusaha tetap waspada. Atmosfer di sini terasa berat, seolah-olah udara itu sendiri menolak keberadaanku. Aku memeriksa ponselku; layar menunjukkan penghitung waktu mundur berwarna merah darah. 05:59:58. Lima jam sebelum matahari terbit dan portal ini tertutup selamanya.
Namun, saat aku hendak melangkah mengikuti Melati, sebuah gerakan di bayangan gang sempit di sebelah kiri menangkap perhatianku. Seseorang sedang berjongkok di sana, di samping tumpukan kardus bekas dekat tempat sampah.
Rasa penasaran mengalahkan logikaku. Aku melangkah perlahan, memastikan langkah kakiku tidak menimbulkan suara di atas genangan air hujan. Semakin dekat aku melangkah, semakin akrab sosok itu di mataku.
Seorang remaja laki-laki, mungkin berusia empat belas tahun, duduk meringkuk sambil memeluk lututnya. Ia mengenakan seragam SMP yang sudah kusam dan ukurannya agak kekecilan. Jaket para**t birunya robek di bagian lengan, persis seperti jaket yang dulu sangat aku sayangi karena itu adalah hadiah terakhir dari ayah sebelum beliau wafat.
Jantungku seolah berhenti berdetak.
Itu aku. Rizky versi sepuluh tahun yang lalu.
Wajahnya sembab. Ia sedang menangis dalam diam, bahunya terguncang hebat. Di sampingnya tergeletak sebuah kotak obat kosong dan beberapa lembar uang ribuan yang lusuh. Aku ingat malam ini. Ini adalah malam ketika aku gagal membeli obat untuk ibu karena uangku kurang, dan aku terlalu malu untuk meminta keringanan pada apoteker. Aku merasa seperti pecundang paling tidak berguna di dunia malam itu.
"Rizky? Ada apa?" Suara Melati memecah kesunyian.
"Sst! Diam!" bisikku panik, namun sudah terlambat.
Rizky kecil mendongak. Matanya yang merah karena tangis menatap langsung ke arahku. Ekspresi kesedihannya berubah menjadi kebingungan, lalu ketakutan murni saat ia melihat seorang pria dewasa yang mengenakan jaket driver ojek onlineβdengan wajah yang sangat mirip dengannyaβberdiri hanya beberapa meter darinya.
"S-siapa kamu?" suaranya pecah, penuh kecurigaan.
Kepalaku mulai berdenyut hebat. Rasa sakit yang tajam menusuk pelipis, seolah-olah ada ribuan jarum yang menekan otakku. Di layar ponselku, sebuah peringatan merah besar berkedip-kedip dengan tulisan: **WARNING: TEMPORAL PARADOX DETECTED. INTERACTION RISK 85%.**
Dunia di sekitarku mulai bergetar. Bayangan Rizky kecil mulai mengabur, dan aku bisa merasakan eksistensiku sendiri menipis, seolah-olah aku perlahan berubah menjadi asap.
"Jangan mendekat!" teriak Rizky kecil sambil berdiri dan mengambil sebuah batu dari tanah. "Kamu... kamu mirip Ayah, tapi... kamu siapa?!"
Aku terpaku. Jika aku berbicara padanya, atau jika dia menyentuhku, garis waktu ini bisa hancur. Namun, melihat diriku yang begitu hancur dan putus asa di masa lalu, egoku meronta. Aku ingin mengatakan padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa dia akan bertahan.
Tiba-tiba, dari kegelapan di belakang Rizky kecil, sebuah bayangan hitam yang jauh lebih pekat dari malam muncul. Sosok tinggi besar dengan jubah yang seolah terbuat dari asap hitam dan mata yang menyala seperti bara api.
Sang Pengawas.
Ia tidak datang untuk Melati. Ia datang untukku, karena aku baru saja mengusik hukum alam yang paling terlarang.
"Lari, Rizky! Lari!" teriakku, entah kepada diriku yang kecil atau kepada diriku sendiri.
Rizky kecil berteriak ketakutan dan mulai berlari ke arah berlawanan, ma**k ke dalam gang yang lebih gelap. Namun, Sang Pengawas tidak mengejarnya. Sosok itu mengarahkan telunjuknya yang panjang dan runcing ke arahku, dan seketika itu juga, tanah di bawah kakiku mulai berubah menjadi lubang hitam yang tak berdasar.
"Melati, pergi ke rumahmu sekarang!" perintahku sambil berjuang menahan tubuh agar tidak tersedot. "Jangan pedulikan aku!"
Melati terpaku antara ingin membantuku atau mengejar takdirnya sendiri. Di saat yang sama, aku melihat Rizky kecil berhenti di ujung gang, menoleh sekali lagi, dan mata kami bertemu untuk terakhir kalinya sebelum ledakan cahaya putih membutakan segalanya.
Aku tahu satu hal: jika aku tidak segera memperbaiki kekacauan ini, bukan hanya Melati yang tidak akan pernah kembali, tapi aku mungkin tidak akan pernah dilahirkan di masa depan.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!