Udara malam itu terasa berbeda. Bukan dingin yang menusuk tulang seperti biasanya di Jakarta, melainkan hawa lembap yang terasa berat, seperti berjalan di dalam air yang tak terlihat. Rizky memutar gas motornya perlahan, menyusuri aspal Jalan Melati yang sepuluh tahun lalu ternyata masih banyak dihiasi pohon-pohon peneduh besar.
Lampu jalan berpendar kuning pucat, melemparkan bayangan panjang yang tampak aneh. Di pergelangan tangannya, aplikasi ojek gaib itu tidak lagi menunjukkan peta digital yang biasa, melainkan sebuah jam pasir yang pasirnya mengalir ke atas. Peringatan merah berkedip-kedip di layar: *ANOMALI TEMPORAL. KESEIMBANGAN TERANCAM.*
"Sial, aku benar-benar melakukannya," bisik Rizky. Tangannya gemetar di atas kemudi. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan deru mesin motornya yang terdengar teredam, seolah suara itu datang dari balik tembok tebal.
Di depan gerbang sebuah rumah bergaya kolonial, ia melihatnya. Seorang gadis remaja dengan seragam SMA, rambutnya dikuncir kuda, sedang menunggu di tepi jalan sambil sesekali melirik jam tangan. Itu Melati. Versi yang masih hidup, yang pipinya masih merona merah, dan yang paling pentingβyang memiliki bayangan di bawah kakinya.
Rizky menelan ludah. Ia memarkirkan motornya beberapa meter di kejauhan. Lututnya terasa lemas saat ia melangkah mendekat. Pikirannya berkecamuk antara peringatan Sang Pengawas dan wajah memohon Melati yang ia temui di masa sekarang.
"Mbak... Mbak Melati?" Suara Rizky parau.
Gadis itu menoleh, alisnya bertaut. "Iya? Siapa ya? Kok tahu nama saya?"
Rizky tidak berani menatap matanya terlalu lama. Ia merasa seperti pencuri yang mencoba merampok takdir. "Saya... saya teman lama. Mbak, dengar saya. Malam ini, jangan naik mobil putih yang akan lewat sebentar lagi. Apapun alasannya, jangan ikut."
Melati tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat asing bagi Rizky yang terbiasa mendengar isak tangis arwah. "Mas ini bicara apa sih? Saya lagi nunggu jemputan sepupu saya. Mas jualan ramalan ya?"
"Saya serius!" Rizky setengah berteriak, rasa panik mulai menguasainya. "Tolong, Mbak. Pulang sekarang. Ma**k ke dalam rumah, kunci pintunya. Jangan keluar sampai matahari terbit."
Tepat saat Melati hendak menjawab, suasana di sekitar mereka berubah secara drastis. Bunyi jangkrik yang tadinya bising mendadak senyap total. Angin berhenti berembus. Cahaya lampu jalan mulai berkedip liar, berubah warna dari kuning menjadi ungu tua yang pekat.
Rizky merasakan bulu kuduknya berdiri. Tekanan udara di sekitarnya meningkat drastis, membuat dadanya sesak seolah dihimpit beton tak kasat mata. Di ujung jalan, sebuah siluet tinggi berjubah kelabu muncul dari balik kabut yang tiba-tiba datang entah dari mana. Wajahnya tidak terlihat, tertutup kabut hitam yang berputar-putar, namun sepasang matanya bersinar dengan cahaya keperakan yang dingin.
Sang Pengawas.
"Kau melanggar batas, Manusia Tanpa Izin," suara itu tidak terdengar melalui telinga, melainkan bergema langsung di dalam tengkorak Rizky.
Seketika, realitas di sekitar mereka mulai retak. Aspal jalanan di bawah kaki Rizky tampak mencair dan beriak seperti genangan oli. Pohon-pohon di pinggir jalan mulai melayu dan mengering dalam hitungan detik, daun-daunnya berubah menjadi debu hitam yang terbang ke langit.
"Mas, ada apa ini?! Itu siapa?!" Melati berteriak histeris. Ia mencoba berlari menuju rumahnya, namun langkahnya tertahan. Kakinya seolah membeku di atas aspal yang kini berubah menjadi transparan, memperlihatkan jurang kegelapan yang tak berdasar di bawah sana.
"Lari, Melati! Lari!" teriak Rizky sambil berusaha menggapai tangan gadis itu.
Namun, Sang Pengawas mengangkat tangannya. Dengan satu gerakan lambat, ia merobek udara di depannya. Ruang dan waktu di sekitar mereka seolah terpelintir. Suara klakson mobil dari masa depan dan teriakan dari masa lalu bercampur aduk menjadi satu kebisingan yang menyakitkan telinga.
"Keseimbangan adalah hukum yang absolut," geram Sang Pengawas. "Setiap nyawa yang kau coba selamatkan, menuntut nyawa lain sebagai gantinya. Apakah kau siap menyerahkan jiwamu, Rizky?"
Tiba-tiba, sebuah mobil putih muncul dari tikungan. Namun, mobil itu tidak melaju dengan normal. Ia bergerak secara patah-patah, seolah-olah frame film yang rusak. Lampu depannya menembus kegelapan, mengarah tepat ke posisi Melati berdiri.
Rizky melihat jam pasir di aplikasinya retak. Ia tahu ia hanya punya waktu beberapa detik sebelum realitas ini runtuh dan menyeretnya ke dalam ketiadaan. Ia menoleh ke arah Melati yang terpaku ketakutan, lalu menatap Sang Pengawas yang semakin mendekat, setiap langkahnya meninggalkan jejak api biru yang membakar dimensi waktu.
"Aku tidak butuh izinmu untuk melakukan hal yang benar!" Rizky menerjang ke depan, bukan ke arah Melati, melainkan ke arah Sang Pengawas, mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh driver manapun sebelumnya.
Ia mengaktifkan fitur 'Finish Trip' secara paksa di tengah anomali itu. Cahaya putih menyilaukan meledak dari layar ponselnya, bertab**kan dengan energi gelap Sang Pengawas. Dunia berguncang hebat. Rizky merasa tubuhnya ditarik ke seribu arah secara bersamaan. Di antara kilatan cahaya itu, ia melihat mobil putih itu menghantam kekosongan tempat Melati seharusnya berdiri, tapi Melati tidak ada di sana.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sekejap. Sang Pengawas tidak mundur. Sebaliknya, ia mencengkeram leher Rizky dengan tangan yang terasa seperti es dingin.
"Kau pikir ini sudah selesai?" bisik Sang Pengawas saat dunia di sekitar mereka mulai hancur menjadi serpihan cahaya. "Kau baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci selamanya. Sekarang, bukan hanya satu nyawa yang terancam, melainkan seluruh garis keturunanmu."
Rizky merasa kesadarannya memudar, namun sebelum semuanya menjadi hitam, ia melihat sesuatu yang membuatnya membeku: di balik kabut wajah Sang Pengawas yang tersingkap akibat ledakan energi tadi, ia melihat sepasang mata yang sangat ia kenal. Mata itu adalah matanya sendiri.
Pandangannya gelap total, dan hal terakhir yang ia rasakan adalah sensasi jatuh ke dalam lubang tanpa dasar, sementara suara tawa dingin Sang Pengawas terus bergema di telinganya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!