Udara malam di Jakarta sepuluh tahun lalu terasa lebih pekat, seolah-olah oksigen di sini tercampur dengan debu konstruksi yang belum usai dan aroma bensin timbal yang menyengat. Hujan rintik-rintik mulai membasahi aspal, menciptakan pantulan cahaya lampu jalan yang buram. Aku berdiri di sudut gang sempit di kawasan Menteng, merapatkan jaket ojekku yang terasa asing di dimensi waktu ini. Warnanya belum sepudar yang kupakai sehari-hari, namun dinginnya tetap mampu menembus pori-pori.
Di ujung gang, aku melihatnya. Melati. Dia tampak jauh lebih muda, rambutnya dikuncir kuda, dan dia mengenakan seragam perawat yang putih bersih. Wajahnya tidak sepucat saat dia menjadi penumpangku di 'Hidden Route'. Ada rona kehidupan di pipinya saat dia bersenandung kecil, menatap layar ponsel kunonyaβsebuah BlackBerry yang lampunya berkedip merah.
Langkah kaki lain terdengar. Berat, tidak beraturan, dan penuh ancaman. Dari balik bayangan tiang listrik, seorang pria dengan jaket hoodie hitam muncul. Tangannya tersembunyi di dalam saku, tapi aku tahu apa yang ada di sana. Kilatan logam sekilas tertangkap cahaya lampu merkuri. Pisau.
"Melati, lari!" teriakku dalam hati, namun suaraku tertahan di kerongkongan. Aturan Sang Pengawas bergema di kepalaku: *Jangan mengubah apa yang sudah digariskan, atau kau akan membayar harganya.*
Pria itu mempercepat langkahnya. Jaraknya hanya tinggal sepuluh meter dari Melati yang masih belum menyadari maut sedang mengint**. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusukku seirama dengan detak jarum jam yang seolah melambat. Aku harus bergerak. Aku datang ke sini untuk ini, bukan? Untuk menyelamatkannya.
Aku melompat keluar dari persembunyian tepat saat pria itu menghunuskan pisaunya.
"Woi! Berhenti!" teriakku lantang.
Pria itu tersentak. Melati berteriak kecil, menjatuhkan ponselnya ke genangan air. Dia menatapku dengan mata lebar yang penuh ketakutan. Pria berhoodie itu mengalihkan pandangannya padaku, matanya merah, dipenuhi amarah yang tidak ma**k akal. Dia tidak bicara, hanya menggeram rendah seperti binatang buas.
Aku berdiri di antara mereka, tangan gemetar, tapi aku mencoba memasang kuda-kuda. "Pergi! Atau aku panggil polisi!" ancamku, meski aku tahu di tahun ini, ponselku tidak memiliki sinyal sama sekali.
Pria itu ragu sejenak. Dia menatap Melati, lalu menatapku, seolah menghitung risiko. Melati terisak di belakangku, tangannya mencengkeram lengan jaket ojekku dengan kuku-kuku yang menancap dalam.
"Siapa kau?" suara pria itu parau, kering seperti amplas.
"Bukan urusanmu. Pergi sekarang!"
Saat pria itu hendak melangkah maju, tiba-tiba sebuah kilasan ingatan menghantam kepalaku dengan kekuatan sebuah truk kont**ner. Kepalaku berdenyut hebat, membuat pandanganku mengabur. Di tengah rasa sakit itu, aku melihat ruang ICU rumah sakit sepuluh tahun yang lalu. Bau karbol yang tajam. Suara monitor jantung yang berbunyi *tit... tit... tit...* yang panjang dan datar.
Wajah ibuku. Wajahnya yang kuyu, terbaring lemah dengan selang di mana-mana. Dokter ma**k dengan wajah yang memberikan secercah harapan di tengah badai.
*"Rizky, ada kabar baik. Kita baru saja mendapatkan donor jantung yang cocok. Pasien baru saja dinyatakan meninggal karena kecelakaan tragis di Menteng. Golongan darahnya langka, sama persis dengan ibumu. Operasi bisa segera dilakukan."*
Lututku lemas. Tanggalnya. Aku ingat tanggalnya sekarang. 14 November. Malam ini.
Aku menoleh ke arah Melati yang masih gemetar di belakangku. Aku menatap lehernya, di mana nadinya berdenyut kencang. Di balik tulang rusuknya yang ringkih itu, ada sebuah jantung yang kuat. Jantung yang dalam beberapa jam ke depan, seharusnya berpindah ke tubuh ibuku untuk memberinya kesempatan hidup sepuluh tahun lagi.
Jika aku menyelamatkan Melati sekarang, jika pria di depanku ini pergi dan Melati pulang dengan selamat... maka donor itu tidak akan pernah ada. Ibuku akan meninggal di meja operasi malam itu juga karena kegagalan jantung total.
Duniaku serasa runtuh. Tanganku yang tadinya mengepal kuat kini terkulai lemas di samping tubuh. Napasku memburu, bukan karena takut pada pria berpisau itu, tapi karena pilihan yang sekarang mencekik leherku.
"Mas? Tolong saya, Mas..." isak Melati. Suaranya begitu murni, penuh harapan bahwa aku adalah pahlawan yang dikirim Tuhan untuknya.
Pria berhoodie itu melihat celah. Dia menyeringai, menyadari keberanianku menguap entah ke mana. Dia melangkah maju satu tindak, pisaunya terangkat, siap untuk menembus daging.
Aku melihat ke arah Melati, lalu membayangkan wajah ibu yang tersenyum saat menyambutku pulang kerja. Jika aku membiarkan ini terjadi, aku adalah seorang pembunuh. Namun, jika aku menghentikannya, aku secara tidak langsung mencabut nyawa ibuku sendiri.
Sang Pengawas benar. Keseimbangan tidak boleh diganggu. Tapi adilkah ini? Mengapa aku harus memilih antara dua nyawa yang sama-sama berharga bagiku?
Pria itu menerjang. Melati menjerit histeris. Waktu seolah membeku. Aku hanya perlu menggerakkan tanganku sedikit saja untuk menangkis tikaman itu, atau aku bisa diam saja dan membiarkan sejarah menuliskan takdirnya yang berdarah.
Kilatan baja itu membelah rintik hujan, meluncur lurus menuju dada Melati. Aku memejamkan mata, kepalan tanganku gemetar hebat di tengah kebisingan hujan dan jeritan yang akan segera terbungkam.
"Maafkan aku..." bisikku, entah kepada siapa.
Ujung pisau itu hanya berjarak beberapa senti dari kulit Melati saat sebuah tangan dingin yang pucat tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan sang pembunuh dari kegelapan. Udara di sekitar kami mendadak membeku, dan aroma melati yang busuk menyengat indra penciumanku. Sesuatu yang lain telah datang.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!