Udara malam di pinggiran Jakarta biasanya terasa gerah dan berdebu, namun di sepanjang jalur *Hidden Route*, angin yang menerpa wajahku terasa sebilah es yang diusapkan ke kulit. Di layar ponselku yang retak, aplikasi ojek gaib itu berpendar dengan warna ungu yang tidak wajar. Navigasinya tidak lagi menunjukkan jalan raya beraspal, melainkan garis-garis cahaya yang membelah kegelapan menuju satu titik: sepuluh tahun yang lalu.
Aku bisa merasakan jemari Melati yang dingin melingkar di pinggangku. Gadis ituβatau lebih tepatnya, arwah gadis ituβbersandar di punggungku dengan berat yang hampir tidak ada. Bau bunga melati yang layu menguar kuat, menusuk hidungku, membuat dadaku sesak bukan hanya karena aroma itu, tapi karena beban yang sedang kupanggul.
"Mas Rizky," bisiknya. Suaranya terdengar seperti gesekan daun kering di atas nisan. "Tanganmu gemetar."
Aku mengencangkan genggamanku pada stang motor. "Jalannya rusak, Mel," dustaku.
Kebohongan itu hambar. Aku tahu dia merasakannya. Aku tahu dia bisa melihat bagaimana jempolku berkali-kali menyentuh layar ponsel, beralih antara aplikasi navigasi dan sebuah pesan singkat dari pihak rumah sakit yang ma**k beberapa menit lalu. *Tagihan perawatan Intensif Ibu Anda telah melewati batas waktu. Harap segera melakukan pelunasan sebelum prosedur selanjutnya dihentikan.*
Angka di tagihan itu bukan sekadar deretan nol; itu adalah harga nyawa ibuku. Dan satu-satunya cara untuk membayarnya adalah dengan menyelesaikan kontrak malam iniβmengantar Melati menuju gerbang terakhirnya. Masalahnya, Melati tidak ingin ke gerbang itu. Dia ingin aku memutar balik waktu, sebuah tindakan yang dilarang keras oleh 'Sang Pengawas'.
"Jika kita benar-benar melakukan ini," suaraku parau, tertelan deru mesin motor yang mulai terdengar aneh, seperti rintihan manusia. "Aku akan kehilangan segalanya, Mel. Kontrakku akan diputus. Uang kuno yang kumpulkan untuk biaya operasi ibuku... semuanya akan berubah menjadi sampah."
Aku bisa merasakan tubuh Melati menegang di belakangku. Perlahan, ia mengintip dari bahuku, menatap layar ponselku yang masih menampilkan pesan rumah sakit itu. Bayangannya yang pucat terpantul di permukaan layar yang gelap. Untuk sesaat, keheningan yang mencekam menyelimuti kami, hanya menyisakan bunyi detak jantungku yang berpacu liar.
"Ibumu... dia sangat berarti bagimu, ya?" tanya Melati lirih. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya sebuah kesedihan yang mendalam.
"Dia satu-satunya yang kupunya," jawabku, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku ma**k ke dunia g*** ini hanya untuk dia. Aku rela mengantar ribuan hantu setiap malam asalkan dia bisa bangun lagi."
Motor kami melintasi sebuah jembatan yang diselimuti kabut tebal. Di ujung jembatan, ruang dan waktu seolah melengkung. Aku melihat kilasan malam sepuluh tahun laluβmalam saat Melati kehilangan nyawanya di tikungan maut itu. Cahaya lampu mobil yang silau, teriakan rem yang berdecit, dan bau amis darah mulai tercium. Kami sudah sangat dekat dengan titik balik sejarah itu.
Tiba-tiba, tekanan tangan Melati di pinggangku mengendur.
"Hentikan motornya, Mas," perintahnya.
Aku mengerem mendadak. Ban motor berdecit di atas jalanan yang mendadak berubah menjadi tanah merah berlumpur. Kami berhenti tepat di perbatasan antara masa kini yang sekarat dan masa lalu yang ingin diubahnya.
Aku menoleh, menatap wajahnya yang sepucat rembulan. Matanya yang besar kini berkaca-kaca, memancarkan keraguan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Kenapa? Kita sudah sampai di gerbangnya. Aku hanya perlu memacu motor ini lebih kencang, menembus kabut itu, dan kau bisa memperingatkan dirimu yang dulu agar tidak pergi malam itu," kataku dengan napas memburu. Jantungku terasa seperti hendak melompat keluar. Di satu sisi, nuraniku ingin menyelamatkannya, tapi di sisi lain, wajah ibuku yang pucat di bangsal rumah sakit terus menghantuiku.
Melati menatap tangannya yang transparan. "Tadi aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya ingin hidup lagi, tidak peduli apa taruhannya. Tapi melihat pesan di ponselmu..." ia menjeda, suaranya bergetar. "Mas Rizky, jika kau menyelamatkanku, kau membunuh ibumu secara perlahan. Kau akan terjebak di sini, tanpa bayaran, dan Sang Pengawas akan mengambil jiwamu sebagai gantinya."
"Aku sudah memutuskan untuk menolongmu," sahutku, meski suaraku sendiri tidak terdengar yakin. "Aku tidak bisa membiarkanmu terjebak dalam penyesalan selamanya."
Melati menggeleng pelan. Ia turun dari motor, berdiri di atas tanah merah yang mulai mengeluarkan uap hitam. "Penyesalanku adalah beban bagiku, tapi ibumu... dia adalah harapan bagimu. Mas, lihat ke sana."
Ia menunjuk ke arah kegelapan di belakang kami. Sebuah sosok tinggi besar dengan jubah hitam yang seolah terbuat dari asap mulai muncul. Matanya bersinar merah redup, memperhatikan kami dari kejauhan. Sang Pengawas. Dia sedang menunggu langkah salahku. Dia sedang menunggu alasan untuk menyeretku ke dalam keabadian yang menyiksa.
"Dia tidak akan membiarkan kita lewat begitu saja," bisik Melati. "Dia akan mengambil ibumu sebagai bayaran atas waktu yang kau curi untukku."
Aku terpaku. Dilema itu menghantamku seperti godam besar. Jika aku maju, Melati hidup tapi ibuku mati dan aku menjadi budak abadi Sang Pengawas. Jika aku menolak permintaan Melati, aku mendapatkan uang untuk ibuku, tapi aku akan selamanya dihantui oleh bayangan seorang gadis yang nyawanya bisa saja kuselamatkan.
"Tapi kau bilang kau tidak mau pergi ke 'sana' dengan perasaan dendam," desakku, mencoba mencari pembenaran atas keraguanku sendiri.
Melati tersenyum tipis, sebuah senyuman paling sedih yang pernah kulihat. "Mungkin takdirku memang untuk tetap menjadi bayangan. Tapi ibumu... dia masih punya cahaya."
Tiba-tiba, suhu di sekitar kami turun drastis. Es mulai merambat di permukaan jok motorku. Sang Pengawas bergerak maju, setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Aplikasi di ponselku berbunyi nyaring, sebuah peringatan berwarna merah darah muncul: *PELANGGARAN KONTRAK TERDETEKSI. PROSES PENGHAPUSAN JIWA DIMULAI DALAM 60 DETIK.*
Aku menatap Melati, lalu menatap sosok mengerikan yang mendekat itu. Tanganku gemetar saat memegang kunci motor.
"Melati, naik sekarang! Kita tidak punya waktu!" teriakku, bimbang antara ingin memacu motor menembus masa lalu atau lari kembali ke masa sekarang yang penuh penderitaan.
Melati tidak bergerak. Ia justru melangkah mundur, menjauh dariku, menuju ke arah Sang Pengawas yang sudah mengangkat sabit bayangannya.
"Pilih, Rizky," suara Sang Pengawas bergema, bukan di telingaku, melainkan langsung di dalam batok kepalaku. "Satu nyawa untuk ditebus, atau satu nyawa untuk dilepaskan. Waktumu habis."
Aku melihat Melati, melihat Sang Pengawas, dan melihat bayangan ibuku di layar ponsel yang meredup. Jempolku menggantung di atas tombol 'Batalkan Pesanan', namun hatiku menjerit menolak. Saat itu juga, aku menyadari bahwa apa pun pilihanku, ada bagian dari diriku yang akan mati malam ini.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!