S****g motor bergetar hebat, bukan hanya karena mesin tua ini kupaksa bekerja melampaui batas, tapi karena ruang di sekeliling kami mulai menolak keberadaan kami. Aspal di bawah roda Vario-ku terasa lembek, seolah berubah menjadi bubur hitam yang siap menelan apa pun yang berani melintas.
"Pegang yang kuat, Mel! Jangan pernah lepas!" teriakku, suaraku hampir habis ditelan deru angin yang mengeluarkan suara melengking anehβsuara yang tidak seharusnya ada di dunia manusia.
Melati tidak menjawab dengan kata-kata. Aku bisa merasakan jemarinya yang pucat dan sedingin es meremas jaket ojolku dengan sangat kencang. Di belakang kami, langit Jakarta yang biasanya kelabu oleh polusi kini terbelah, menampilkan gradasi ungu neon yang berdenyut layaknya luka terbuka.
Lalu, dia muncul.
Sang Pengawas tidak mengejar kami dengan kendaraan. Ia adalah bayangan raksasa yang meluncur di atas kehampaan, jubah hitamnya yang compang-camping berkibar menentang hukum fisika. Wajahnya tertutup topeng perunggu tanpa mata, namun aku bisa merasakan tatapannya yang menghakimi menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Setiap kali entitas itu mendekat, suhu udara anjlok drastis, membuat napasku mengepulkan uap putih.
"Rizky, di depan!" Melati menjerit.
Aku menyentakkan s****g ke kanan tepat saat sebuah gedung perkantoran di hadapan kami tiba-tiba bergeser, melipat dirinya sendiri seperti origami raksasa. Paradox waktu mulai memakan realitas. Aku melihat sekilas sebuah angkot dari tahun 90-an melayang di udara sebelum hancur menjadi serpihan cahaya terang.
"Kembalikan jiwa yang bukan milikmu, Penunggang!" suara Sang Pengawas bergema bukan di telinga, melainkan langsung di dalam batok kepalaku. Suara itu berat, seperti gesekan batu nisan yang ditarik di atas lant** beton. "Keseimbangan tidak bisa ditawar dengan nyawa satu manusia!"
"Aku tidak mencuri apa pun!" balasku berteriak pada kekosongan, meski aku tahu pembelaanku sia-sia. "Dia berhak mendapatkan keadilan!"
Aku memutar gas dalam-dalam. Indikator kecepatan di dasbor motorku sudah melewati angka merah, jarumnya berputar g*** seolah-olah mesin ini telah mera**ki roh lain. Tiba-tiba, jalan layang Non-Tol Antasari yang kami lalui terputus. Bukan runtuh karena gempa, tapi ujungnya menghilang ke dalam lubang hitam yang dipenuhi kilatan memori masa laluβpotongan adegan orang-orang yang tertawa, menangis, dan mati dalam bisu.
"Kita harus melompat, Mel!"
"Kau g***?! Itu jurang!"
"Ini bukan jurang, ini celah menuju malam itu!"
Aku bisa melihatnya di dasar lubang itu: jalanan becek di bawah lampu merkuri yang berkedip, sepuluh tahun yang lalu. Malam di mana Melati seharusnya tidak pernah pergi. Namun, Sang Pengawas tidak membiarkan kami pergi semudah itu. Ia mengulurkan tangannya yang panjang dan kurus, dan dari ujung jemarinya keluar rant**-rant** besi hitam yang membara dengan api biru.
*Crak!*
Rant** itu menghantam *box* belakang motorku, menghancurkannya menjadi serpihan plastik. Motor limbung, bergoyang hebat ke kiri dan ke kanan. Aku berjuang setengah mati menjaga keseimbangan sementara ban belakang kami mulai selip di atas aspal yang kini berubah menjadi kaca bening.
"Rizky, dia menangkapku!"
Aku menoleh sekilas. Salah satu rant** Sang Pengawas telah melilit pergelangan kaki Melati yang transparan. Tubuhnya mulai tertarik ke belakang, menjauh dariku. Wajah Melati yang biasanya tenang kini dipenuhi ketakutan yang murni, air mata hantu mengalir di pipinya sebelum menguap menjadi butiran cahaya.
"Jangan lepaskan tanganmu!" aku meraung, tangan kiriku melepas s****g dan meraih lengannya.
Motor kami meluncur bebas menuju tepi jalan yang terputus. Detik itu terasa melambat. Aku bisa melihat Sang Pengawas menerjang maju, topeng perunggunya retak, menunjukkan kegelapan mutlak di dalamnya. Di bawah kami, pusaran waktu bergejolak, siap menghancurkan siapa pun yang ma**k tanpa izin.
Pilihan itu menghantamku seperti godam. Jika aku melepaskan Melati sekarang, Sang Pengawas akan berhenti mengejarku. Aku bisa kembali ke duniaku, membayar hutang medis ibuku dengan uang kuno yang tersisa, dan menjalani hidup sebagai manusia normal lagi. Tapi jika aku melompat bersamanya, tidak ada jaminan kami akan selamat. Aku mungkin akan terhapus dari sejarah seolah aku tak pernah dilahirkan.
Aku menatap mata Melati. Di sana, aku melihat pantulan diriku sendiriβseorang pemuda pecundang yang selalu gagal melindungi apa yang berharga baginya.
*Tidak untuk kali ini.*
"Pegang erat, Mel!"
Aku menarik tubuhnya dengan sentakan kuat hingga ia menubruk punggungku, lalu tangan kiriku kembali mencengkeram s****g. Dengan sisa tenaga, aku menghentakkan rem depan dan melakukan manuver *drift* ekstrem tepat di ujung beton yang tersisa, mengarahkan moncong motor tepat ke jantung pusaran waktu.
Sang Pengawas mengeluarkan raungan yang menggetarkan dimensi, tangannya nyaris menyentuh kerah jaket ojolku.
"Demi ibu... demi Melati!"
Aku memacu mesin untuk terakhir kalinya. Roda depan Vario-ku meluncur ke udara kosong. Gravitasi seolah menghilang saat kami melayang di antara dua dunia. Cahaya putih yang menyilaukan menelan pandanganku, diikuti oleh suara dentuman keras yang m****akkan telinga.
Dunia mendadak sunyi. Dingin yang menusuk berganti dengan hawa lembap khas hujan di Jakarta.
Saat mataku perlahan terbuka, aku tidak lagi berada di jalan layang yang melayang. Aku mencium aroma tanah basah dan bensin yang bocor. Di depanku, sebuah papan reklame tua yang sudah lama dicopot di masa depan kini berdiri tegak, mengiklankan produk ponsel lipat yang populer satu dekade lalu.
Aku berhasil. Kami berada di malam kematian Melati.
Namun, saat aku mencoba bangkit, aku menyadari satu hal yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak. Tanganku yang memegang s****g motor perlahan-lahan mulai terlihat transparan. Aku menoleh ke arah Melati yang tergeletak beberapa meter dariku, namun dia tidak melihatku. Dia sedang menatap ke arah lain.
Di ujung jalan sana, di bawah guyuran hujan deras, aku melihat sebuah motor melaju kencang ke arah seorang gadis remaja yang sedang menyeberang jalan. Gadis itu adalah Melati sepuluh tahun yang lalu.
Dan yang membuatku bergidik ngeri, pengendara motor yang akan menab**knya itu mengenakan jaket ojol yang sangat kukenal.
Itu adalah aku.
Pengejaran ini belum berakhir. Sang Pengawas tidak hanya ingin menangkap kami; dia baru saja menjebakku ke dalam lingkaran s**** yang paling mematikan. Apakah aku harus membiarkan diriku yang lain membunuh Melati, atau aku harus menghentikan diriku sendiri dan menanggung risiko menghilang selamanya?
Lampu motor di kejauhan itu semakin dekat, menembus kabut hujan, siap merenggut nyawa yang ingin kuselamatkan.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!