Malam itu, hawa dingin di perumahan tua itu terasa lebih menusuk, seolah-olah kabut yang menyelimuti aspal bukan sekadar uap air, melainkan napas dari dunia yang berbeda. Aku mematikan mesin motor matic-ku di depan sebuah rumah dengan pagar besi yang sudah berkarat. Di belakangku, Melati masih duduk mematung. Kehadirannya tidak memberatkan motor, tapi entah kenapa, pundakku terasa seperti memikul sekarung semen setiap kali dia mendekat.
"Itu rumahnya, Ky," bisik Melati. Suaranya seperti gesekan daun kering, tipis dan penuh duka.
Aku menatap layar ponselku yang retak. Aplikasi 'Ojek Gaib' masih menyala, memancarkan rona biru pucat yang tidak wajar. Di sudut atas, ada indikator kecil berbentuk jam pasir berwarna merah yang terus berkedipβ*Soul Energy: 12%*. Angka itu terus menurun sejak kami mema**ki area ini. Aku tahu risikonya. Menjadi perantara antara yang hidup dan yang mati bukan sekadar bicara; itu adalah proses menukar sebagian nyawaku untuk membiarkan suara dari alam sana menyeberang.
"Pak Broto masih bangun?" tanyaku pelan, melihat remang lampu dari balik gorden ruang tamu yang kusam.
"Ayah tidak pernah tidur nyenyak sejak... sejak malam itu," sahut Melati.
Aku turun dari motor, kakiku terasa seberat timah. Setiap langkah menuju pintu rumah itu terasa seperti berjalan di dalam lumpur hisap. Aku mengetuk pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Sekali, dua kali, tidak ada jawaban. Pada ketukan ketiga, terdengar suara langkah kaki yang diseret, lalu kunci diputar dengan lambat.
Seorang pria tua dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih muncul. Kaos singletnya tampak longgar, membungkus tubuh yang tinggal tulang. Matanya cekung, menyimpan keletihan bertahun-tahun yang tidak bisa disembuhkan oleh tidur mana pun.
"Cari siapa malam-malam begini, Mas? Ojek?" suara Pak Broto serak, penuh kecurigaan.
Aku menelan ludah. Kerongkonganku terasa kering, seolah-olah aku baru saja menelan debu pemakaman. Di sampingku, Melati berdiri, tangannya terulur ingin menyentuh pipi ayahnya, namun jemarinya hanya menembus udara dingin.
"Pak... saya bawa pesan. Dari Melati," ucapku pendek.
Wajah Pak Broto seketika berubah. Amarah dan kepedihan beradu di matanya yang mulai berkaca-kaca. "Jangan bercanda, Mas. Anak saya sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Keluar dari sini kalau cuma mau menghina orang tua!"
Dia hendak membanting pintu, tapi aku menahannya dengan tangan yang gemetar. "Tunggu, Pak! Melati bilang... dia bilang soal kotak musik kayu di bawah ubin keempat dekat lemari bajunya. Dia bilang, Ayah jangan lagi menyalahkan diri sendiri soal kunci motor malam itu."
Pak Broto mematung. Pegangannya pada gagang pintu melemas. Keheningan yang mengerikan menyelimuti kami berdua.
"Bagaimana... bagaimana kamu tahu?" bisiknya dengan suara yang pecah.
Inilah saatnya. Aku merasakan dadaku sesak, seolah-olah paru-paruku sedang diperas oleh tangan-tangan tak kasatmata. Aku membiarkan Melati mendekat, membiarkan energi dinginnya meresap ke dalam sumsum tulangku. Pandanganku mulai mengabur, bintik-bintik hitam menari-nari di tepian visiku.
"Pegang tangan saya, Pak," bisikku, suaraku bukan lagi suaraku sendiri. Ada gema di dalamnya, nada tinggi yang halus milik seorang gadis remaja.
Begitu kulit keriput Pak Broto bersentuhan dengan telapak tanganku, sebuah kejutan listrik dingin merambat ke seluruh tubuhku. Aku tersentak, punggungku melengkung. Rasanya seperti ada air es yang dipompakan langsung ke pembuluh darahku. Cairan hangat mulai mengalir dari hidungkuβdarah.
"Ayah..." Suara itu keluar dari mulutku, tapi itu adalah suara Melati. Lembut dan bergetar karena tangis.
Pak Broto jatuh terduduk di ambang pintu, masih mencengkeram tanganku. Dia terisak, air matanya tumpah membasahi punggung tanganku yang pucat pasi. "Melati? Ini benar kamu, Nak?"
"Ayah, maafkan Melati yang pergi tanpa pamit. Berhenti menyimpan rasa bersalah itu. Melati sudah tenang, tapi Melati tidak bisa pergi kalau Ayah terus mengurung diri di malam kematianku."
Setiap kata yang terucap membuat tubuhku semakin lemas. Aku merasa seperti baterai yang dikuras habis secara paksa. Jantungku berdegup tidak beraturan, melompat-lompat di dalam dada yang terasa hampa. Aku bisa merasakan kesadaran Melati mengalir melaluiku, memorinya tentang aroma kopi Ayahnya, tentang hari-hari hujan di teras, semuanya menghantamku sekaligus.
*Soul Energy: 4%... 3%...*
Ponsel di saku celanaku bergetar hebat, mengeluarkan bunyi peringatan bernada rendah yang hanya bisa kudengar. 'Sang Pengawas' sudah mulai merasakan anomali ini. Keseimbangan sedang terganggu.
"C**up, Melati... aku... aku tidak kuat lagi," batinku merintih di tengah kegelapan yang mulai menelan kesadaranku.
Melati melepaskan genggamannya melalui tubuhku. Aku terjerembap ke lant** teras, napasku tersengal-sengal seperti ikan yang baru saja ditarik keluar dari air. Pak Broto masih menangis sesenggukan, memegangi dadanya, seolah-olah beban sepuluh tahun baru saja diangkat dari sana.
"Terima kasih, Mas... terima kasih," isak Pak Broto, tapi aku hampir tidak bisa mendengarnya.
Aku berusaha bangkit, tangan dan kakiku gemetar hebat. Cairan merah kental menetes dari lubang telingaku ke aspal. Aku meraba saku, mengambil ponsel. Layarnya berkedip merah darah. Sebuah pesan sistem muncul dengan font kuno yang berdenyut:
**PELANGGARAN KONTRAK: INTERVENSI DIMENSI TERLALU DALAM. Sanksi sedang diproses.**
Tiba-tiba, suhu di sekitar kami turun drastis hingga napasku membentuk kristal es di udara. Lampu jalan di depan rumah Pak Broto meledak satu per satu, menciptakan kegelapan total. Dari ujung jalan, terdengar suara gemerincing rant** yang diseret di atas aspalβsuara yang sangat kukenal. Suara Sang Pengawas.
Melati menoleh ke arah kegelapan itu, wajahnya yang pucat kini dipenuhi ketakutan luar biasa. "Ky, dia datang. Dia datang untuk mengambilmu karena kau memberikan terlalu banyak nyawamu padaku!"
Aku mencoba menghidupkan mesin motor, tapi tanganku terlalu lemah untuk memutar kunci. Bayangan hitam yang sangat besar mulai memadat di tengah jalan, membawa sabit besar yang memantulkan cahaya bulan yang dingin. Napas Sang Pengawas tercium seperti bau tanah basah dan pembusukan.
"Lari, Mas Rizky! Lari!" teriak Pak Broto panik melihatku yang hampir pingsan.
Namun, sebelum aku sempat bergerak, sebuah tangan dingin tanpa bayangan mencengkeram tengkukku, menarikku kembali ke dalam kabut hitam yang pekat. Aku melihat Melati berteriak, tapi suaranya perlahan hilang, digantikan oleh bisikan dingin yang ma**k langsung ke dalam otakku:
*"Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa, Sang Pembawa Pesan."*
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!