Udara di persimpangan antara dimensi ini terasa seperti lemβpekat, dingin, dan menyesakkan paru-paru. Aku bisa merasakan getaran mesin motor matikku di bawah jok, tapi suaranya teredam, seolah-olah kami berada di dalam botol kaca yang terkubur jauh di bawah tanah. Di depanku, jalanan aspal yang biasanya retak-retak kini tampak seperti lelehan tinta hitam yang tidak berujung.
Di boncengan belakang, beban yang kurasakan semakin ringan. Bukan karena Melati turun, tapi karena keberadaannya mulai memudar. Aku melirik dari spion yang retak; pantulan wajah Melati tidak lagi terlihat jelas. Ia tampak seperti sketsa pensil yang perlahan dihapus oleh tangan tak kasat mata.
"Mas Rizky..." suaranya hanya berupa bisikan, lebih halus dari gesekan daun kering.
"Bertahanlah, Melati. Kita hampir sampai," jawabku, meskipun aku tahu itu bohong. Tidak ada tempat untuk 'sampai' bagi seseorang yang seharusnya sudah tiada sepuluh tahun lalu.
Cahaya ponsel yang terpasang di *stang* motor berkedip-kedip liar. Aplikasi ojek online itu mengeluarkan suara statis, seperti radio rusak yang mencoba menangkap sinyal dari planet lain. Ikon 'Hidden Route' yang biasanya berwarna merah darah kini berpendar putih menyilaukan, menuntut untuk segera diakhiri. Di sudut mataku, aku bisa merasakan kehadiran 'Sang Pengawas'. Ia tidak berbentuk, hanya berupa bayangan yang lebih gelap dari malam, berdiri di tepian realitas, menunggu satu kesalahan kecil dariku untuk menarikku ke dalam keabadian yang sunyi.
"C**up, Mas," Melati menyentuh pundakku. Tangannya terasa seperti embun yang mendingin. "Jangan dipaksa lagi. Kalau Mas Rizky terus mencoba menembus batas ini, Mas nggak akan bisa pulang."
Aku mengeratkan cengkeraman pada gas motor. Hatiku perih. Sifat empatiku yang si**** ini selalu membuatku ingin menjadi pahlawan bagi orang-orang yang sudah tidak punya harapan. Aku ingin menyelamatkannya. Aku ingin dia punya kesempatan untuk melihat ibunya sekali lagi, atau setidaknya merasakan hangatnya sinar matahari pagi yang asli, bukan cahaya pucat dari alam baka ini.
"Tapi aku sudah janji..." suaraku tercekat.
"Janji Mas sudah tunai saat Mas mau mendengarkan ceritaku," Melati tertawa kecil, sebuah suara yang sangat manusiawi di tempat yang tidak manusiawi ini. "Mas Rizky punya hidup yang harus dijalani. Ibu Mas butuh Mas di sana. Jangan biarkan aku jadi beban yang menyeretmu jatuh."
Aku menoleh sedikit, melihat wajahnya yang kini nyaris transparan. Mata indahnya tidak lagi menyiratkan ketakutan, melainkan kedamaian yang asing bagiku. Di depanku, sebuah gerbang cahaya mulai terbentukβbatas antara Hidden Route dan dunia nyata. Tapi aku tahu, jika aku melewatinya bersama Melati, keseimbangan akan hancur. Sang Pengawas bergerak maju, hawa dingin yang dibawanya membuat mesin motorku terbatuk-batuk.
"Turunkan aku di sini, Mas," perintah Melati lembut.
Aku menginjak rem perlahan. Kami berhenti tepat di tepi jurang dimensi. Aku tidak berani menoleh saat kurasakan beban di jok belakang benar-benar menghilang. Standar motor kuturunkan dengan tangan gemetar. Aku berdiri, menghadap ke arahnya. Melati berdiri di sana, tanpa bayangan, di bawah langit yang tidak berbintang.
"Terima kasih sudah mengantar, Mas Rizky. Mas adalah driver terbaik yang pernah aku miliki," ucapnya. Tubuhnya perlahan terurai menjadi partikel-partikel cahaya kecil yang terbang ke atas, menyatu dengan kegelapan.
Aku hanya bisa berdiri mematung, dadaku sesak oleh emosi yang tak mampu kuungkapkan. Saat partikel terakhirnya menghilang, ponselku berdenting keras. Sebuah notifikasi muncul di layar: *Pesanan Selesai. Ma**kkan Kode Penutupan Jalur.*
Dengan jari yang masih gemetar, aku mengetikkan rangkaian simbol kuno yang pernah kulihat di prasasti pemakaman massal itu. Seketika, layar ponselku menjadi hitam pekat. Ikon 'Hidden Route' menghilang, seolah-olah fitur itu tidak pernah ada. Aplikasi itu kembali ke tampilan standarnyaβtampilan aplikasi ojek online biasa yang membosankan.
Tiba-tiba, sebuah tarikan gravitasi yang luar biasa menyentakku. Pandanganku gelap.
Saat aku membuka mata, aku terbangun di atas motorku yang terparkir di pinggir jalan raya. Suara klakson kendaraan dan deru mesin kota menyambut indra pendengaranku. Bau asap knalpot dan gorengan pinggir jalan terasa begitu nyata, begitu melegakan. Matahari fajar mulai mengintip dari balik gedung-gedung beton Jakarta, menyiram aspal dengan warna emas yang hangat.
Aku merogoh saku jaketku. Uang kuno pemberian Melati sudah tidak ada. Yang tersisa hanyalah segenggam daun kering yang rapuh. Aku melepaskannya, membiarkan angin pagi membawa mereka pergi ke selokan.
Aku menghela napas panjang, menghirup udara pagi yang penuh polusi namun terasa sangat berharga. Aku masih hidup. Aku masih seorang Rizky, driver ojek online yang punya hutang medis ibu yang harus dilunasi. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Beban di pundakku terasa lebih ringan, bukan karena hutangku lunas, tapi karena aku menyadari bahwa setiap detik kehidupan adalah perjalanan yang tidak boleh disia-siakan.
Aku menghidupkan mesin motor. Suaranya kini terdengar jujur dan sederhana. Aku tidak lagi mencari penumpang tanpa bayangan. Aku hanya ingin pulang, mencium tangan ibuku, dan bekerja seperti manusia normal lainnya.
Saat aku hendak menjalankan motor, ponselku kembali berbunyi. Sebuah pesanan ma**k. Aku melihat layar, berharap itu adalah pesanan makanan atau penumpang biasa menuju stasiun. Namun, jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat lokasi penjemputan dan nama pemesan yang tertera.
Lokasi: *Area Belakang RS Medika (Kamar Jenazah)*.
Nama Penumpang: *Tanpa Nama*.
Dan di bawah nama itu, terdapat sebuah catatan kecil yang membuat bulu kudukku berdiri: *"Jangan matikan aplikasinya, Rizky. Perjalanan baru saja dimulai."*
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!