Deru mesin motor matic-ku terasa lebih kasar dari biasanya, seolah ia pun ikut menggigil setelah menembus kabut tipis di area pemakaman massal tadi. Angin malam menusuk jaket hijauku yang sudah mulai menipis di bagian siku, membawa sisa-sisa aroma kamboja yang seakan menempel permanen di bulu kuduk. Tanganku sesekali meraba saku celana kargo, memastikan tumpukan lembaran kertas yang tadi diberikan oleh pria bertopi laken itu masih ada di sana.
"Lima ratus ribu," bisikku pelan, berusaha meyakinkan diri sendiri di tengah sunyinya jalanan dini hari. "Itu c**up untuk nebus obat cuci darah Ibu besok. Masih ada kembalian buat beli beras."
Pikiranku berkecamuk. Logika warasku berteriak bahwa ada yang salah dengan penumpang tadi. Pria itu tidak memiliki bayangan, bahkan saat melewati lampu jalan yang benderang. Suaranya serak seperti gesekan amplas pada kayu tua, dan suhu tubuhnya... Tuhan, rasanya seperti membonceng balok es yang baru keluar dari freezer. Namun, aplikasi di ponselkuβyang entah kenapa berubah warna menjadi hitam legam dengan ikon mata satu yang berkedipβmenunjukkan bahwa perjalanan telah selesai dengan status 'Dibayar Tunai'.
Aku memarkirkan motor di depan kontrakan petakku yang catnya sudah mengelupas. Langkahku berat saat mema**ki ruangan sempit itu. Bau minyak kayu putih dan aroma apek menyambutku. Di balik tirai pembatas, terdengar suara napas Ibu yang berat dan terputus-putus. Setiap tarikan napasnya adalah pengingat bahwa waktu dan uang adalah dua hal yang tidak pernah memihak padaku.
Aku duduk di kursi kayu reyot, satu-satunya furnitur di ruang tamu merangkap dapur ini. Dengan tangan gemetar karena kelelahan dan sisa adrenalin, aku merogoh saku celana. Kubeluarkan tumpukan uang itu dan meletakkannya di atas meja plastik.
Cahaya lampu neon lima watt yang berkedip-kedip menyinari lembaran itu. Alisku berkerut. Uang itu tidak terlihat seperti rupiah yang kukenal. Ukurannya lebih lebar, dengan cetakan yang sangat det**l namun terasa kuno. Ada gambar penari yang seolah-olah bergerak jika dilihat dari sudut tertentu, dan angka-angkanya tertulis dalam ejaan lama.
"Uang kuno?" gumamku. Aku membolak-balik lembarannya. Teksturnya sangat halus, lebih mirip kain sutra daripada kertas. "Kalau ini asli, kolektor pasti mau bayar mahal. Tapi... apa apotek mau terima uang begini?"
Rasa cemas mulai merayap di dadanya. Aku mendekatkan lampu meja, berusaha memeriksa tanda air atau benang pengamannya. Namun, saat jemariku menyentuh permukaan uang itu lebih lama, ada sesuatu yang aneh. Rasa dingin yang tadi kurasakan saat membonceng pria itu kembali merambat melalui ujung jari, menjalar ke pergelangan tangan, hingga membuat bahuku kaku.
Tiba-tiba, telingaku menangkap suara halus. *Srek... srek...*
Seperti suara dedaunan kering yang tertiup angin di tengah hutan. Aku mengerjapkan mata, mengira itu hanya halusinasiku karena kurang tidur. Namun, pemandangan di depanku perlahan berubah. Warna merah kecokelatan pada uang itu mulai memudar, berubah menjadi hijau kusam yang kemudian mengering dengan cepat. Garis-garis rumit yang membentuk gambar penari itu merenggang, berubah menjadi urat-urat kayu yang menonjol.
"Enggak, enggak mungkin," aku berseru tertahan, menyambar lembaran itu.
Di genggamanku, uang yang tadinya terasa padat dan berharga itu kini meranggas. Teksturnya berubah kasar dan rapuh. Tepiannya mulai pecah dan rontok ke lant** menjadi serpihan kecil. Dalam hitungan detik, tumpukan uang lima ratus ribu itu lenyap, berganti menjadi tumpukan daun jati kering yang sudah berlubang di sana-sini.
Bau tanah basah yang menyengat tiba-tiba memenuhi ruangan, mencekik paru-paruku.
"Si****!" aku memukul meja plastik itu hingga retak. "Apa-apaan ini?!"
Aku mengacak rambutku dengan frustrasi. Keputusasaan menghantamku lebih keras daripada kenyataan pahit mana pun yang pernah kualami. Aku baru saja mempertaruhkan nyawaku, melewati rute yang tidak ma**k akal, membonceng entitas yang seharusnya sudah tenang di alam sana, hanya untuk mendapatkan sampah hutan?
Aku memungut selembar daun jati itu, meremasnya hingga hancur menjadi debu di telapak tanganku. Air mata panas mulai menggenang. Aku memikirkan Ibu di balik tirai itu. Aku memikirkan tagihan rumah sakit yang sudah menumpuk di atas lemari es. Aku merasa seperti pecundang yang baru saja dikerjai oleh i****.
*Ting!*
Suara notifikasi ponselku memecah kesunyian malam. Bukan suara denting standar aplikasi ojek online, melainkan suara genta pemakaman yang bergema rendah. Aku menyambar ponsel yang tergeletak di meja. Layarnya menyala terang, memancarkan cahaya ungu kemerahan yang menyakitkan mata.
Sebuah pesan muncul di layar, tertulis dengan huruf-huruf yang tampak seperti tetesan darah kering:
*PENGGANTI ONGKOS: Daun untuk bumi, Jiwa untuk perjalanan. Anda telah menerima kontrak 'Hidden Route'. Saldo non-tunai Anda telah diperbarui: 1 Nyawa Tertunda.*
Di bawah pesan itu, sebuah peta muncul. Bukan peta kota Jakarta yang kupahami, melainkan garis-garis bercahaya yang menembus bangunan, sungai, dan pemakaman. Sebuah titik merah berkedip di area yang seharusnya adalah hutan kota yang sudah lama ditutup untuk umum.
Tiba-tiba, pintu kontrakanku diketuk. Pelan, berirama, namun setiap ketukannya terasa seperti hantaman godam di dadaku. *Tok... Tok... Tok...*
Aku membeku. Tidak mungkin ada tamu jam tiga pagi seperti ini. Lewat celah di bawah pintu yang tidak rata, aku melihat sesuatu yang membuat napas setinggi tenggorokan. Tidak ada bayangan kaki di sana. Hanya kabut tipis berwarna kelabu yang merayap ma**k ke dalam ruanganku, membawa aroma melati yang sangat kuat hingga membuat kepalaku pening.
"Rizky..." sebuah suara memanggil namaku. Bukan suara pria tadi. Ini suara wanita, lembut namun penuh penderitaan. "Janjinya... antarkan aku pulang."
Aku melirik ke arah ponsel. Aplikasi itu otomatis terbuka, menunjukkan foto profil penumpang baru. Seorang wanita muda pucat dengan baju putih yang ternoda tanah. Namanya tertera jelas di sana: **Melati**.
Dan di bawah fotonya, terdapat catatan tambahan dari sistem: *Hutang darah harus dibayar dengan waktu. Jemput sekarang atau kontrak akan mengambil jaminan terdekat.*
Mataku beralih ke tirai tempat Ibu tidur. Jantungku berpacu g***. Aku tahu, 'jaminan terdekat' itu bukan tentang motorku atau nyawaku. Aku meraih kunci motor dengan tangan gemetar, menyadari bahwa mulai malam ini, jalanan yang kutempuh bukan lagi tentang mencari nafkah, melainkan tentang bertahan hidup di antara dua dunia yang mulai tumpang tindih.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!