Ojek Gaib: Trayek Penumpang Tanpa Bayangan

Bab 3: Bab 3 - Mencoba menghapus aplikasi ojeknya yang mulai b...

Pengaturan Membaca

Sinar matahari pagi yang menerobos ma**k melalui celah ventilasi kamar kosku terasa seperti ejekan. Aku duduk di tepi ka**r yang pernya sudah mulai menusuk punggung, menatap nanar ke arah meja kayu kecil di sudut ruangan. Di sana, di atas tumpukan tagihan rumah sakit ibu yang kian menebal, tidak ada lagi lembaran uang kuno bernilai jutaan rupiah. Yang tersisa hanyalah gundukan daun jati kering yang rapuh. Begitu aku menyentuhnya, daun-daun itu hancur menjadi debu kelabu, terbang tertiup angin dari kipas angin tua yang berderit.

"Sial," umpatku lirih. Suaraku parau, seolah tenggorokanku baru saja disumbat segenggam pasir.

Pikiranku berputar pada kejadian semalam. Pemakaman massal, penumpang yang tidak memiliki bayangan di bawah lampu jalan, dan rute-rute di peta aplikasi yang tidak pernah ada dalam denah kota Jakarta manapun. Itu bukan sekadar mimpi buruk akibat kelelahan. Bekas cakaran kecil di jok belakang motor matikkuβ€”hasil dari kuku tajam penumpang terakhirβ€”adalah bukti fisik yang nyata.

Aku merogoh saku jaket ojek online-ku yang kusam dan mengeluarkan ponsel. Layarnya retak di pojok kanan bawah, tapi benda itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah-olah ada sesuatu yang berdenyut di dalamnya.

Aku menekan tombol daya. Begitu layar menyala, ikon aplikasi ojek itu langsung muncul di barisan depan. Warnanya bukan lagi hijau segar yang akrab, melainkan hijau gelap yang pekat, hampir menyerupai warna lumut di batu nisan. Di atasnya, sebuah titik merah berkedip-kedip pada fitur 'Hidden Route'.

"C**up. Aku tidak mau g***," gumamku. Jariku gemetar saat menekan lama ikon tersebut.

Opsi *Uninstall* muncul. Tanpa ragu, aku menekannya. Sebuah dialog konfirmasi muncul: *Apakah Anda yakin ingin menghapus aplikasi ini?*

Aku menekan tombol 'Ya' dengan tenaga ekstra, seolah kekuatan jempolku bisa mengusir s**** yang bersembunyi di dalam sirkuit ponsel ini.

Layar ponselku tiba-tiba membeku. Gambar lingkaran pemrosesan berputar-putar selama beberapa detik, lalu menghilang. Namun, aplikasi itu tetap di sana. Masih diam, seolah menertawakan usahaku.

Aku mencobanya lagi. Sekali, dua kali, hingga lima kali. Setiap kali aku menekan 'Hapus', layar ponsel itu justru memberikan sensasi panas yang menyengat ujung jariku. Suhu perangkat itu meningkat drastis. Bau kabel terbakar mulai tercium samar di udara yang pengap.

"Ayo, hapus! Hapus, br******!" seruku frustrasi.

Tiba-tiba, ponsel itu bergetar hebat di genggamanku. Getarannya begitu kuat hingga telapak tanganku terasa kebas. Layarnya yang tadi normal mendadak berkedip-kedip liar, menampilkan kode-kode aneh dalam bahasa yang tidak kumengerti, berselang-seling dengan rona merah darah.

Aku mencoba mematikan paksa ponsel itu, tetapi tombol dayanya mati total. Dalam kepanikan, aku melempar ponsel itu ke atas ka**r. Benda itu terus bergetar, bergerak sendiri di atas sprei seolah-olah sedang kejang.

Lalu, sebuah notifikasi muncul dengan bunyi denting yang belum pernah kudengar sebelumnyaβ€”bunyi yang menyerupai dentang lonceng kematian di gereja tua.

Aku mendekat dengan waspada, jantungku berdegup kencang di balik tulang rusuk. Di layar yang retak itu, muncul sebuah kotak pesan dengan latar belakang hitam pekat. Tulisannya berwarna merah menyala, seolah-olah ditulis dengan tetesan darah yang masih segar.

*KONTRAK TELAH DITANDATANGANI DENGAN DARAH. PEMBATALAN SEPIHAK ADALAH KEMATIAN.*

Nafasku tertahan. "Apa-apaan ini?"

Sebelum sempat aku mencerna ancaman itu, pesan baru muncul di bawahnya:

*Sisa Hutang Medis Ibu: Rp 45.650.000.*

*Status Pembayaran: Menunggak.*

*HUTANG DARAH HARUS DIBAYAR.*

Darahku terasa membeku. Bagaimana aplikasi ini bisa tahu nominal pasti hutang rumah sakit ibuku? Bagaimana ia bisa tahu kelemahanku? Aku merasa seolah ada ribuan mata tak kasat mata yang sedang mengawasiku dari sudut-sudut kamar yang gelap.

Ponsel itu berhenti bergetar. Suasana menjadi sunyi senyap, menyisakan suara detak jam dinding yang entah sejak kapan terdengar lebih keras dari biasanya. Detik demi detik terasa seperti langkah kaki yang mendekat.

Tiba-tiba, layar ponsel kembali berganti. Kali ini, ia menampilkan peta navigasi. Sebuah titik penjemputan berwarna biru muncul tepat di posisi kos-kosanku saat ini. Dan nama penumpangnya membuat bulu kudukku berdiri tegak.

*Nama Penumpang: Melati.*

*Tujuan: Masa Lalu (10 Tahun Lalu - Area Kecelakaan).*

Tepat saat aku membaca nama itu, lampu kamarku berkedip mati. Dalam kegelapan yang mendadak, suhu udara turun drastis hingga napasku mengeluarkan uap putih. Aku menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.

*Tok. Tok. Tok.*

Tiga ketukan pelan namun mantap terdengar dari balik pintu. Tidak ada langkah kaki yang mendahuluinya. Tidak ada suara percakapan dari penghuni kos lain. Hanya sunyi yang mencekam dan aroma wangi bunga melati yang tiba-tiba menyeruak, menusuk indra penciumanku, bercampur dengan bau amis besi yang sangat menyengat.

"Rizky..." sebuah suara bisikan wanita terdengar, sangat dekat, seolah dia sedang berdiri tepat di belakang telingaku. "Ojeknya sudah sampai?"

Aku terlonjak mundur hingga punggungku menghantam lemari. Ponsel di ka**r kembali menyala, memancarkan cahaya ungu yang menyinari seisi ruangan. Di layar itu, status pesanan telah berubah menjadi: *PENUMPANG TELAH NAIK.*

Padahal, aku masih sendirian di dalam kamar yang terkunci. Namun, saat aku melirik ke arah cermin besar di pintu lemari, aku melihat sesuatu yang membuat jiwaku nyaris melompat keluar. Di pantulan cermin, aku duduk di tepi ka**r. Dan tepat di sampingku, ada sebuah lekukan di ka**r, seolah-olah ada seseorang yang duduk di sana.

Hanya lekukan. Tidak ada tubuh. Tidak ada bayangan.

"Ayo berangkat," bisik suara itu lagi, kali ini disert** dengan embusan angin dingin yang menerpa leherku. "Atau ibumu yang akan menggantikanku membayar hutang darah itu."

Aku menatap layar ponselku dengan tangan gemetar. Opsi untuk menolak pesanan telah hilang. Yang tersisa hanyalah tombol 'Mulai Perjalanan' yang berkedip-kedip merah, seolah-olah itu adalah satu-satunya jalan keluarβ€”atau pintu ma**k menuju neraka yang lebih dalam.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca