Ojek Gaib: Trayek Penumpang Tanpa Bayangan

Bab 4: Bab 4 - Mencari tahu asal-usul fitur 'Hidden Route' dar...

Pengaturan Membaca

Uap panas mengepul dari gelas plastik berisi kopi hitam pekat di depanku, namun jemariku yang menggenggamnya terasa sedingin es. Di bawah lampu neon pudar Warkop "Pojok Malam" yang berkedip-kedip seperti jantung yang sekarat, aku kembali menatap layar ponselku. Ikon aplikasi ojek online itu tampak biasa saja, namun ada satu titik kecil berwarna ungu temaram di pojok bawahβ€”fitur *Hidden Route* yang sialnya masih aktif, seolah menatap balik ke arahku dengan tatapan kosong.

"Kau terlihat seperti baru saja melihat malaikat maut sedang memesan martabak, Ky."

Aku tersentak. Pak De, seorang driver veteran yang rambutnya sudah lebih banyak putih daripada hitamnya, menarik kursi kayu di depanku. Ia menyesap rokok kretteknya dalam-dalam, membiarkan asapnya menyelimuti wajahnya yang keriput. Pak De adalah legenda di pangkalan kami. Ia tahu setiap tikungan tikus di Jakarta dan setiap rumor yang beredar di aspal hitam.

"Pak De," suaraku serak, hampir tenggelam oleh deru motor yang lewat di kejauhan. "Pernah dengar tentang... fitur tambahan di aplikasi? Sesuatu yang tidak muncul di ponsel driver lain?"

Gerakan Pak De terhenti. Rokoknya tertahan di udara. Ia menyipitkan mata, menatapku dengan intensitas yang mendadak membuat suasana warkop yang bising terasa sunyi senyap. Ia tidak menjawab, melainkan meraih ponselku yang tergeletak di atas meja kayu yang lengket oleh sisa tumpahan sirup.

Begitu matanya menangkap titik ungu itu, Pak De langsung meletakkan ponsel itu seolah benda itu baru saja menyengatnya. Ia bergegas menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada driver lain atau penjaga warkop yang memperhatikan kami.

"Simpan itu, Rizky," bisiknya, suaranya kini seberat batu gerinda. "Simpan dan jangan pernah kau sentuh lagi kalau kau masih mau melihat matahari besok pagi."

Jantungku berdegup kencang, menghantam tulang rusukku dengan ritme yang menyakitkan. "Tapi Pak De, uangnya... maksudku, pembayarannya memang aneh, tapi nominalnya besar. Ibu butuh biaya cuci darah minggu depan. Aku tidak punya pilihan."

Pak De tertawa, sebuah tawa kering tanpa humor yang lebih mirip suara dahan patah. "Uang? Kau yakin itu uang? Coba kau cek lagi kantongmu saat fajar tiba. Berapa banyak daun kering yang kau kumpulkan malam ini?"

Aku terdiam. Lidahku kelu. Bagaimana dia bisa tahu?

"Dengarkan aku baik-baik," Pak De memajukan tubuhnya, aroma tembakau dan minyak pelumas tercium kuat. "Kau bukan yang pertama. Tiga tahun lalu, ada seorang anak muda bernama Indra. Sama sepertimu, rajin, tulang punggung keluarga, dan punya insting jalanan yang tajam. Suatu malam, dia pamer padaku tentang 'jalur emas' yang dia temukan di aplikasi. Katanya, penumpangnya royal meski tidak pernah bicara."

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti tersumbat pasir. "Lalu? Apa yang terjadi pada Indra?"

Pak De mematikan rokoknya ke asbak dengan gerakan kasar, seolah sedang menghancurkan sesuatu yang berbahaya. "Suatu malam, dia mendapat pesanan ke arah TPU Jeruk Purut. Dia berangkat dengan senyum lebar karena poinnya hampir tembus target mingguan. Tapi ponselnya... GPS-nya menunjukkan dia bergerak melingkar di area yang sama selama berjam-jam di layar server kantor. Dan setelah itu, hilang."

"Hilang? Maksudnya berhenti jadi driver?" tanyaku, mencoba mencari logika yang ma**k akal.

"Bukan berhenti, Ky. Hilang dari muka bumi," tekan Pak De. "Motornya ditemukan terparkir rapi di pinggir jalan setapak pemakaman. Kuncinya masih menggantung, jaketnya tergeletak di jok. Tapi Indra? Tidak ada jejak kaki, tidak ada rekaman CCTV yang menangkapnya keluar dari sana. Polisi bilang dia diculik, tapi kami yang lama di jalanan tahu kebenarannya. Dia tidak diculik manusia."

Tanganku mulai gemetar hebat. Aku teringat Melati, gadis tanpa bayangan yang duduk di jok belakangku tadi. Bagaimana dia menatapku melalui spion dengan tatapan yang seolah menarik sukmaku keluar.

"Indra bukan satu-satunya," lanjut Pak De, suaranya makin rendah. "Sebelum dia, ada dua orang lagi dalam kurun waktu lima tahun. Polanya selalu sama. Mereka yang sedang terdesak ekonomi, yang hatinya penuh keputusasaan, tiba-tiba mendapatkan fitur itu. Itu bukan *update* aplikasi, Rizky. Itu kontrak. Si 'Pengawas' sedang mencari kurir untuk urusan mereka yang belum selesai di dunia ini. Begitu kau ma**k ke 'Hidden Route', kau bukan lagi driver ojek. Kau adalah jembatan. Dan jembatan yang terlalu sering dilewati beban berat, lama-lama akan runtuh."

Tiba-tiba, ponselku di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala terang, membelah kegelapan warkop. Sebuah notifikasi muncul, namun tidak ada bunyi denting khas aplikasi ojek online yang biasanya. Suaranya lebih mirip bisikan wanita yang merintih.

*Pesanan Baru Ma**k. Titik Jemput: Samping Pohon Kamboja, Blok M-3. Tujuan: Masa Lalu (10 Tahun Silam).*

Di bawah det**l pesanan, muncul sebuah foto profil penumpang. Jantungku serasa berhenti berdetak. Itu bukan foto Melati yang sekarang. Itu foto seorang gadis remaja yang memakai seragam SMA, tersenyum cerah di depan sebuah rumah tua yang sangat aku kenali. Itu rumah di ujung gang tempatku tinggal dulu.

"Jangan diambil, Ky!" gertak Pak De, tangannya berusaha merebut ponselku.

Namun, layar ponsel itu seolah terkunci. Tombol 'Terima' berwarna ungu berkedip-kedip mengikuti detak jantungku yang kian tak beraturan. Di saat yang sama, hawa dingin yang luar biasa menusuk tengkukku. Aku menoleh ke belakang, ke arah kegelapan jalanan di luar warkop.

Di sana, di bawah lampu jalan yang remang, berdiri seorang pria tinggi besar mengenakan jubah hitam lusuh dengan wajah yang tertutup bayangan. Ia hanya berdiri diam, memegang sebuah jam pasir yang pasirnya mengalir ke atas, bukan ke bawah.

"Dia sudah di sini," bisikku pelan, hampir tak terdengar.

"Siapa?" Pak De bertanya dengan wajah pucat pasi. Ia melihat ke arah yang sama, tapi matanya hanya menangkap kekosongan. "Rizky, apa yang kau lihat?"

Ponselku bergetar sekali lagi, kali ini begitu kuat hingga gelas kopi di sampingnya retak. Sebuah pesan teks muncul di layar: *β€œHutang nyawa harus dibayar dengan waktu. Jemput dia, atau ibumu yang akan menggantikannya di kursi belakang.”*

Aku menatap Pak De dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih pada sosok gelap yang kini mulai mengangkat tangannya, menunjuk ke arahku. Aku tahu, menghilang seperti Indra bukanlah pilihan terburukku malam ini. Pilihan terburuknya adalah jika aku menolak, dan membiarkan 'Sang Pengawas' mengambil satu-satunya alasan kenapa aku masih bertahan hidup di kota ini.

Tanpa sadar, jemariku bergerak menyentuh layar yang dingin itu. *Klik.*

*Pesanan Diterima.*

Suara tawa melengking dari kejauhan membelah keheningan malam, tepat saat seluruh lampu di warkop itu padam total, menyisakan aku dalam kegelapan pekat bersama aplikasi yang kini mulai menuntun jalanku menuju sepuluh tahun yang lalu.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca