Ojek Gaib: Trayek Penumpang Tanpa Bayangan

Bab 5: Bab 5 - Menjemput penumpang bernama Melati di lokasi ke...

Pengaturan Membaca

Udara malam di pinggiran Jakarta biasanya terasa gerah oleh sisa-sisa polusi siang hari, namun malam ini, saat ban motor matikku melintasi aspal retak menuju Jalan Anggrek Hitam, suhu udara merosot tajam. Kabut tipis merayap dari selokan, membelit mata kaki seolah mencoba menahan laju kendaraku. Aku melirik layar ponsel yang terpasang di stang. Aplikasi itu masih menyala, namun bukan dengan antarmuka hijau yang biasa kulihat. Warnanya berubah menjadi ungu gelap dengan ikon rute yang berdenyut pelan seperti detak jantung.

Satu notifikasi muncul: *Jemput Melati di Titik Nol.*

Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti diampelas. Titik Nol bukan sekadar koordinat; itu adalah tikungan tajam tempat pembatas jalan melengkung karena hantaman truk sepuluh tahun lalu. Lokasi itu kini ditumbuhi semak liar dan sebuah kamboja yang tumbuh miring, seolah enggan menatap aspal.

Cahaya lampu motorku menangkap sesosok figur yang berdiri memunggungi jalan. Ia mengenakan gaun putih tulang yang melambai ditiup angin, namun anehnya, lambaian kain itu tidak mengeluarkan suara. Aku menghentikan motor beberapa meter di belakangnya. Aroma melati yang sangat kuatβ€”manis namun busuk di ujungnyaβ€”langsung menyerbu rongga hidungku.

"Mbak Melati?" suaraku serak, hampir tenggelam dalam deru mesin motor yang tiba-tiba terdengar tidak stabil.

Perempuan itu berbalik pelan. Wajahnya cantik, namun pucat pasi dengan mata yang begitu redup, seolah cahaya di dalamnya telah lama dipadamkan. Ia tidak membawa tas, tidak memegang ponsel, dan yang paling membuat bulu kudukku berdiri: di bawah sorot lampu jalan yang remang, kakinya tidak menapak tanah, dan tanah di bawahnya bersih dari bayangan.

Tanpa sepatah kata pun, ia naik ke jok belakang. Berat badannya hampir tidak terasa, namun hawa dingin yang memancar darinya menembus jaket ojekku, membuat tulang punggungku kaku seketika.

"Sesuai aplikasi ya, Mbak? Tujuannya Pemakaman Umum Jeruk Purut?" tanyaku, mencoba bersikap profesional meski tanganku gemetar saat menarik tuas gas.

Ia tidak menjawab. Tangannya yang dingin seperti es menyentuh pundakku. Aku segera memacu motor, berusaha menyelesaikan pesanan ini secepat mungkin. Pikiranku terbayang pada wajah ibu yang terbaring di rumah sakit. Uang kuno dari penumpang-penumpang ini, meski nanti akan berubah jadi daun kering di pagi hari, adalah satu-satunya alasan aplikasi ini memberiku 'poin nyawa' untuk memperpanjang pengobatan ibu.

Sepanjang jalan, suasana terasa janggal. Jalanan yang seharusnya ramai oleh anak muda yang nongkrong atau pedagang nasi goreng, kini sunyi senyap. Toko-toko di pinggir jalan terlihat seperti bangunan tua yang sudah ditinggalkan berpuluh-puluh tahun. Navigasi di layar ponselku mulai berkedip liar. Garis rute ungu itu bergeser, berputar-putar, dan akhirnya membentuk lingkaran s****.

"Mbak, kita sudah sampai di depan gerbang makam," kataku sambil mengerem perlahan di depan gerbang besi yang berkarat.

Namun, Melati tidak bergerak. Ia tetap duduk di belakangku, jemarinya yang pucat kini mencengkeram kain jaketku lebih erat.

"Mbak? Sudah sampai," ulangku, kali ini dengan nada yang sedikit lebih tinggi. Aku menoleh ke belakang melalui spion. Melati tidak menatap gerbang makam. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah jalanan gelap yang menuju ke arah kota tua.

"Jangan berhenti, Rizky," suaranya lirih, namun terdengar sangat jelas di dalam kepalaku, bukan melalui telinga.

"Tapi Mbak, rutenya berakhir di sini. Peraturannya jelas, saya harus menurunkan penumpang di titik tujuan supaya kontraknya selesai," sahutku panik. Bayangan 'Sang Pengawas'β€”entitas berjubah hitam yang sering mengint** di sudut mataku jika aku melanggar aturan aplikasiβ€”mulai membayangi pikiran.

"Terus jalan," perintahnya lagi. Kali ini nadanya mengandung kepedihan yang sangat dalam, sebuah nada yang membuat sisi empatiku berdenyut sakit. "Tempat itu bukan tujuanku. Itu hanya tempat mereka membuang ragaku."

"Mbak, tolong... saya punya keluarga. Saya tidak bisa sembarangan melanggar rute Hidden Route ini," aku memohon, tanganku mulai berkeringat dingin di dalam sarung tangan.

Melati condong ke depan, wajahnya kini tepat di samping telingaku. Aroma melati itu semakin menyesakkan. "Kau tahu rasanya mati dalam keadaan membawa rahasia yang paling ingin kau sampaikan pada dunia? Kau tahu rasanya terjebak dalam satu malam yang sama selama sepuluh tahun?"

Tiba-tiba, mesin motorku meraung sendiri. Tanpa kusentuh, tuas gas tertarik dalam-dalam. Motor itu melesat menjauhi pemakaman, meluncur membelah kegelapan dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Aku mencoba menarik rem, tapi tuasnya keras seperti membatu. Layar ponselku retak dari tengah, memunculkan tulisan merah yang berkedip: *PELANGGARAN KONTRAK: RUTE TIDAK TERDETEKSI.*

"Mbak, berhenti! Kita mau ke mana?!" teriakku melawan angin yang menderu.

"Ke tempat semuanya bermula," bisik Melati.

Di depan sana, pemandangan kota mulai berubah. Gedung-gedung modern yang kukenal perlahan memudar, digantikan oleh bangunan-bangunan yang tampak lebih baru, namun bergaya sepuluh tahun lalu. Papan iklan berubah, model mobil yang terparkir di pinggir jalan berubah menjadi model lama.

Aku menyadari satu hal yang mengerikan. Jarum jam di dashboard motorku berputar mundur dengan kecepatan g***. Angka di layar ponselku terus berganti: 2023... 2020... 2018...

"Mbak Melati, apa yang Mbak lakukan?" suaraku tercekat.

"Kau punya navigasi yang luar biasa, Rizky. Kau bisa menemukan jalan ke mana saja," Melati menggenggam pundakku begitu kuat hingga aku merasa tulangku akan remuk. "Sekarang, temukan jalan ke malam tanggal 14 Mei sepuluh tahun lalu. Bawa aku ke sana, atau kita berdua akan selamanya terjebak di antara waktu yang pecah ini."

Tiba-tiba, lampu jalan di depan kami meledak satu per satu saat kami melintas. Di kejauhan, di tengah kegelapan rute yang tidak ma**k akal itu, aku melihat sesosok bayangan raksasa dengan mata merah menyala berdiri di tengah jalan, memegang sebuah sabit besar yang berkilauan. Sang Pengawas telah datang untuk menjemput pelanggar aturan.

Pilihannya hanya dua: menab**k sang maut, atau menuruti permintaan g*** penumpang tanpa bayangan ini. Tanganku memegang kemudi dengan gemetar, sementara jantungku berdegup kencang, seirama dengan peringatan bahaya yang meraung-raung dari aplikasi di ponselku.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca