Angin malam menusuk jaket hijauku yang sudah mulai menipis di bagian siku, tapi rasa dingin yang paling tajam justru berasal dari jok belakang. Melati duduk di sana, begitu ringan hingga motor matikku nyaris tak merasakan bebannya, namun kehadirannya terasa lebih berat dari tumpukan hutang di rumah sakit. Aroma bunga melati yang layuβmanis tapi memuakkanβterus menguar dari gaun putihnya yang lusuh.
Aku melirik spion kiri. Wajahnya pucat, nyaris transparan di bawah siraman lampu jalan yang berkedip-kedip. Dia tidak menatap jalanan; matanya yang sayu terpaku pada punggungku seolah aku adalah satu-satunya kompas di dunia yang sudah dia lupakan.
"Melati," suaraku serak, tenggelam oleh deru mesin motor. "Kita sudah keliling tiga kali di area yang sama. Kamu bilang mau ke rumah lama, tapi koordinat di aplikasi ini terus-terusan berputar. Apa yang sebenarnya kamu cari?"
Melati tidak langsung menjawab. Keheningan di antara kami terasa seperti karet yang ditarik kencang, siap putus kapan saja. "Waktu, Rizky," bisiknya. Suaranya bukan terdengar di telingaku, melainkan menggema langsung di dalam kepalaku, dingin dan bergetar. "Aku mencari waktu yang dicuri dariku sepuluh tahun lalu. Kamu punya kuncinya. Aplikasi itu... itu bukan cuma peta jalan."
Aku mencengkeram stang motor lebih erat hingga buku jariku memutih. "Aku cuma driver ojek, Mel. Aku butuh uang untuk ibu, bukan untuk main-main dengan sejarah. Melintasi waktu itu mustahil. Itu melanggar... entahlah, melanggar takdir?"
"Takdir adalah penjara bagi mereka yang tidak berani mendob**knya," balasnya pelan. Dia sedikit mencondongkan tubuh, dan aku bisa merasakan suhu udara di sekitarku anjlok drastis. "Sepuluh tahun lalu, di malam itu, ada sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang membuatku terjebak di antara dua dunia. Tolong aku, Rizky. Hanya kamu yang bisa ma**k ke rute itu."
Tiba-tiba, layar ponsel yang terpasang di stang motorku berkedip merah terang. Aplikasi ojek itu mengeluarkan suara statis yang menyakitkan telinga, lalu muncul sebuah peringatan dengan font kuno yang belum pernah kulihat sebelumnya: **[DETEKSI ANOMALI: KESEIMBANGAN TERANCAM]**.
Lalu, suasana berubah.
Keheningan yang tadi terasa sunyi kini berubah menjadi senyap yang m****akkan. Klakson kendaraan lain, suara jangkrik, bahkan deru angin malam mendadak hilang. Jalan Raya Bogor yang biasanya padat, bahkan di jam dua pagi sekalipun, tiba-tiba kosong melompong. Aspal di depanku tampak memanjang, seolah jalanan ini tidak memiliki ujung.
"Rizky, jangan berhenti," bisik Melati. Nada suaranya kini berubah dari memohon menjadi penuh ketakutan. "Dia datang."
"Siapa?" tanyaku, jantungku mulai berdegup kencang melawan tulang rusuk.
Aku melihat ke spion lagi. Di kejauhan, di antara keremangan lampu jalan yang satu per satu padam seperti sumbu lilin yang ditiup, muncul sebuah bayangan. Awalnya kukira itu hanya gumpalan asap hitam, tapi ukurannya terus membesar. Sosok itu tingginya hampir mencapai kabel listrik, menyerupai manusia tetapi dengan proporsi yang salahβlengan yang terlalu panjang hingga menyentuh aspal dan jubah yang seolah terbuat dari kegelapan murni.
Itu adalah Sang Pengawas.
"Lari, Rizky! Cepat!" teriak Melati.
Aku memutar gas dalam-dalam. Motor matikku meraung protes, jarum speedometer melonjak melewati angka delapan puluh, sembilan puluh. Namun, sosok hitam di belakang kami tidak berlari. Ia bergerak dengan cara yang mustahil, meluncur di atas aspal seperti bayangan yang mengejar cahaya. Setiap kali kakinya yang tak terlihat menyentuh tanah, aspal di sekitarnya retak dan menghitam.
Rasa takut yang dingin mulai merayap dari kakiku. Aku bisa merasakan tatapan sosok itu, meski ia tidak memiliki wajah yang jelas. Itu bukan sekadar rasa takut ditab**k atau dijambret; itu adalah ketakutan purba saat mangsa menyadari predatornya bukanlah makhluk dari dunia ini.
"Kenapa dia mengejar kita?!" teriakku sambil bermanuver menghindari lubang jalan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Karena aku meminta hal yang terlarang!" Melati memeluk pinggangku. Tangannya sedingin es, menembus jaket dan kaosku, langsung ke kulit. "Dia adalah penyeimbang. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh masa lalu!"
Suara dentuman keras terdengar dari belakang. Sebuah tiang listrik tumbang, dihantam oleh lengan raksasa Sang Pengawas. Percikan api menyambar di spionku, menciptakan siluet mengerikan dari sosok itu yang kini hanya berjarak lima puluh meter di belakang. Udara di sekitarku mulai terasa berat, seolah oksigen dihisap keluar oleh keberadaan makhluk itu.
Ponselku bergetar hebat. Navigasi di layar kini berubah menjadi garis merah darah yang meliuk-liuk tak karuan. **[RUTE DARURAT DIAKTIFKAN: MA**KI AREA TAK TERPETAKAN]**.
"Di depan! Belok kiri ke gang kecil itu!" tunjuk Melati.
"Itu jalan buntu, Mel! Itu tembok pemakaman!" teriakku panik.
"Percaya padaku! Kalau kita tidak ma**k sekarang, dia akan menyeret jiwamu ke kedalaman yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan!"
Aku melihat ke belakang sekilas. Sang Pengawas mengangkat tangannya yang besar, dan kegelapan di sekitarnya seolah memadat menjadi tombak hitam yang siap dilemparkan. Tidak ada pilihan lain. Aku mengarahkan stang motor ke kiri, menuju tembok beton tinggi yang menandai batas pemakaman umum.
Aku memejamkan mata, mempererat pegangan pada gas, dan mempersiapkan diri untuk benturan yang akan menghancurkan tulang-tulangku. Di belakangku, raungan Sang Pengawas terdengar seperti ribuan jeritan yang disatukan, menggetarkan seluruh kota yang tertidur.
"Sekarang!" teriak Melati.
Tepat sebelum roda depan motorku menghantam beton, hawa dingin yang luar biasa menyelimutiku, dan suara bising dunia mendadak lenyap sepenuhnya. Namun, saat aku membuka mata, aku tidak berada di rumah sakit atau di kantor polisi. Aku berada di tempat yang jauh lebih mengerikan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!