Paru-paruku terasa seperti terbakar. Udara yang kuhirup bukan lagi oksigen, melainkan kabut dingin yang menusuk hingga ke tulang rawan. Di belakangku, suara gemerincing rant** yang terseret di atas aspal terdengar semakin dekat, beradu dengan suara detak jantungku yang mengg***. Sang Pengawas tidak berlari, ia hanya melangkah pelan, namun setiap langkahnya seolah memangkas jarak ruang dan waktu di antara kami.
"Mas, ke sana! Bengkel itu!" Suara Melati terdengar parau, nyaris seperti bisikan angin.
Aku menoleh sekilas ke arah yang ditunjuknya. Sebuah bangunan tua dengan atap seng yang sudah berkarat berdiri miring di pojok gang buntu. Papan namanya nyaris lepas, hanya menyisakan tulisan samar: *BENGKEL BERKAH β SPESIALIS MESIN MATI*. Tanpa pikir panjang, aku menggeber gas motorku sekuat tenaga. Mesin Beat-ku mengerang protes, mengeluarkan bunyi batuk-batuk logam sebelum akhirnya kami meluncur ma**k ke dalam kegelapan bengkel tersebut.
Begitu roda depan melewati garis pintu, suasana berubah drastis. Suara gemerincing rant** di luar sana mendadak senyap, seolah-olah dunia di belakangku baru saja ditekan tombol *mute*-nya.
Aku mengerem mendadak, membuat ban belakang selip dan hampir menjatuhkan kami berdua. Napas kami memburu dalam keheningan yang janggal. Bau oli bekas bercampur dengan aroma dupa yang menyengat memenuhi indra penciumanku.
"Kita aman?" tanyaku dengan suara bergetar. Tanganku masih mencengkeram stang motor begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih.
Melati turun dari boncengan. Sosoknya tampak lebih transparan dari biasanya, seolah-olah eksistensinya sedang digerogoti oleh kegelapan di luar sana. "Untuk sementara, ya. Ini daerah netral. Mereka tidak bisa ma**k tanpa izin."
Aku menyeka keringat dingin di dahi, lalu mencoba melihat sekeliling. Bengkel ini tidak sesempit kelihatannya dari luar. Di dalamnya, berderet motor-motor tua dengan model yang belum pernah kulihat sebelumnyaβbeberapa memiliki tangki bensin berbahan kuningan, yang lain tampak memiliki ukiran aksara kuno pada rangkanya. Di sudut ruangan, sebuah lampu bohlam kuning redup bergoyang pelan, meski tidak ada angin yang berembus.
"Tempat apa ini sebenarnya?" tanyaku sambil melangkah mendekati sebuah meja kerja yang penuh dengan baut-baut berkarat dan lembaran uang kuno yang sudah berubah menjadi daun kering.
"Ini *Safe House*," sebuah suara berat menyahut dari kegelapan di balik tumpukan ban bekas.
Aku tersentak dan refleks memasang posisi waspada. Seorang pria tua dengan kaus singlet kumal dan celana kargo muncul. Wajahnya penuh kerutan, dan matanya sebelah kiri tertutup selaput putih katarak, namun mata kanannya bersinar dengan ketajaman yang tidak wajar. Di lehernya melingkar sebuah kalung dengan liontin berbentuk logo aplikasi ojekku, tapi berwarna emas kusam.
"Driver baru, ya?" pria itu mendengus, sambil mengelap tangannya yang berlumuran oli hitam dengan kain perca. "Namaku Jarot. Aku yang menjaga lubang tikus ini."
"Rizky," jawabku pendek. "Tadi... ada sesuatu yang mengejar kami. Sesuatu dengan rant**."
Jarot tertawa kering, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas. "Sang Pengawas. Kau pasti sudah melakukan pelanggaran berat sampai dia turun tangan sendiri. Membawa penumpang tanpa bayangan keluar dari rute resmi adalah tiket satu arah menuju kehancuran, Nak."
Aku terdiam, menatap Melati yang berdiri di dekat pintu yang tertutup rapat. "Aku hanya mencoba menolongnya."
"Menolong di dunia ini sama saja dengan memindahkan beban orang mati ke pundakmu sendiri," Jarot berjalan menuju sebuah jam dinding besar di sudut ruangan.
Aku mengikuti arah pandangnya. Jam itu tidak memiliki angka. Hanya ada dua jarum yang berputar berlawanan arah dengan kecepatan yang tidak konsisten. Kadang bergerak sangat cepat, lalu tiba-tiba berhenti total.
Aku merogoh saku, mengambil ponselku untuk melihat jam digital. Layarnya menyala, tapi jantungku nyaris berhenti saat melihat apa yang tertulis di sana. Tidak ada jam. Tidak ada sinyal. Hanya ada satu kata yang berkedip-kedip di tengah layar yang berwarna abu-abu statis: **LIMBO**.
"Pak Jarot... kenapa HP-ku begini?" suaraku mengecil.
Jarot berhenti mengelap tangannya. Ia menatapku dengan iba yang dingin. "Kau belum sadar juga? Kau tidak sedang berada di Jakarta lagi, Rizky. Begitu kau melewati gerbang pemakaman tadi dan mengaktifkan rute tersembunyi dengan emosi yang tidak stabil, kau menarik dirimu sendiri keluar dari realita."
Aku melangkah mundur, menab**k motorku sendiri. "Maksudnya?"
"Kita berada di dimensi antara," Melati menyela, suaranya terdengar sangat sedih. "Tempat di mana waktu tidak mengalir ke depan maupun ke belakang. Tempat di mana kenangan dan kenyataan bercampur menjadi satu. Kita terjebak di sini, Rizky. Di sela-sela dunia manusia dan dunia setelahnya."
Aku mendekat ke jendela bengkel yang tertutup debu tebal. Dengan tangan gemetar, aku menyeka debu itu sedikit untuk melihat ke luar.
Duniaku telah hilang.
Di luar sana, tidak ada jalan aspal gang buntu tadi. Yang ada hanyalah hamparan kabut abu-abu yang tak berujung. Bangunan-bangunan di kejauhan tampak seperti sketsa pensil yang belum selesai, melayang-layang tanpa fondasi. Langit di atas sana tidak berwarna hitam atau biru, melainkan berwarna ungu lebam dengan kilatan cahaya merah yang sesekali muncul seperti urat saraf yang terbakar.
Rasa mual menghantam perutku. Aku terjebak di dimensi ini bersama seorang arwah yang ingin mengubah masa lalu, sementara di luar sana, seorang algojo mistis sedang menunggu celah untuk menyeretku ke pengadilan alam baka.
"Bagaimana cara keluar dari sini?" tanyaku, suaraku nyaris pecah. "Ibuku... dia menungguku di rumah. Aku harus menebus obatnya besok pagi."
Jarot mendengus, lalu melemparkan kain percanya ke meja. "Hanya ada satu cara. Selesaikan pesananmu. Antar gadis itu ke tujuannya, apa pun risikonya. Tapi ingat satu hal, Driver..."
Jarot mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Bau tanah basah menguar dari napasnya. "Di Limbo, apa yang kau lihat bukan selalu kenyataan. Dan apa yang kau sentuh, bisa mencuri bagian dari jiwamu sebagai bayarannya."
Tiba-tiba, pintu bengkel yang terbuat dari besi tebal itu berdentang keras. *BAM!* Seolah ada sesuatu yang sangat besar menghantamnya dari luar. Pintu itu melengkung ke dalam, memperlihatkan bekas hantaman rant** yang membara.
"Dia menemukannya," bisik Melati ketakutan.
Aku menelan ludah, melihat ke arah pintu yang mulai retak. Tanganku kembali memegang stang motor. Tidak ada jalan kembali. Aku harus memacu motorku menembus kabut itu, atau aku akan menjadi bagian dari koleksi mesin mati di bengkel ini selamanya.
"Naik, Melati," perintahku tegas, meski kakiku masih gemetar saat menendang *kick starter*. "Kita selesaikan ini sekarang."
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!