Embusan angin malam di Puncak Cumbri terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah oksigen di sekitarku telah tersedot habis oleh kehadiran sosok di jok belakang motorku. Aku melirik spion. Kosong. Hanya ada bayangan aspal yang temaram tertimpa lampu jalan yang berkedip-kedip. Namun, beban di pundakku dan aroma melati yang menusuk hidung menegaskan bahwa dia masih di sana. Melati belum mau turun, padahal titik tujuan di aplikasi sudah terlewati sejak sepuluh menit yang lalu.
Layar ponselku yang retak di stang motor bergetar hebat. Aplikasi ojek itu memancarkan cahaya biru neon yang tidak wajar, menampilkan peringatan merah menyala: *PENUMPANG MASIH DALAM PERJALANAN. DURASI MELEBIHI BATAS. RISIKO JIWA DIBAYAR DI MUKA.*
"Melati," suaraku serak, hampir tenggelam oleh deru mesin motor tua ini. "Gue cuma driver. Tugas gue cuma nganter dari titik A ke titik B. Lu udah nyampe di rumah lama lu. Turunlah, sebelum 'Mereka' datang."
Aku bisa merasakan hawa dingin merambat dari arah belakang, membelai tengkukku. "Rumah ini cuma tumpukan bata kosong, Rizky," bisiknya. Suaranya tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergema langsung di dalam kepalaku. "Kematianku bukan di sini. Dan jiwaku nggak akan pernah tenang selama ba****** itu masih menghirup udara yang sama denganku."
Aku menelan ludah. Jaket ojekku yang lusuh tak mampu menahan gig***n yang mulai menjalar. "Gue nggak bisa bantu lebih dari ini. Aplikasi ini punya aturan. Gue bisa mati kalau melanggar protokol."
"Kau takut mati?" Melati tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan dahan kering di atas nisan. "Aku sudah mati, Rizky. Dan rasa takut itu jauh lebih mengerikan saat kau tahu bahwa kau mati demi menutupi dosa orang lain."
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang, menghantam rusuk seirama dengan peringatan di layar ponsel. Di kejauhan, aku melihat kabut hitam mulai menggumpal di antara pepohonan. Sang Pengawasβentitas yang menjaga agar arwah tetap pada jalurnyaβmulai mencium adanya anomali.
"Dua belas November, sepuluh tahun yang lalu," Melati melanjutkan, kali ini suaranya bergetar oleh amarah yang murni. "Hujan deras di depan Gedung Cakrawala. Semua orang mengira itu kecelakaan tab**k lari biasa. Seorang gadis panti a**han yang malang, tertab**k truk pengangkut pasir. Ka**s ditutup dalam semalam."
Aku mengerutkan kening. Gedung Cakrawala adalah pusat kekuasaan di kota ini. Milik keluarga Mahendra, donatur terbesar panti a**hanku duluβtempat aku tumbuh besar. "Itu kecelakaan, kan?" tanyaku ragu.
"Bukan truk itu yang membunuhku, Rizky. Truk itu datang setelah tubuhku dilempar dari lant** lima. Aku melihat wajahnya sebelum pandanganku gelap. Hendra Mahendra."
Nama itu menghantamku seperti godam. Hendra Mahendra bukan sekadar orang kaya; dia adalah sosok yang fotonya terpajang di baliho raksasa di pusat kota sebagai calon Gubernur. Dia adalah orang yang memberikan beasiswa untuk adikku sebelum ia jatuh sakit.
"Dia melakukan ritual, Rizky. Bisnisnya hampir bangkrut saat itu, dan dia butuh 'tumbal perawan' untuk mengembalikan kejayaannya. Aku bukan satu-satunya, tapi aku adalah yang terakhir sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau," lanjut Melati. Tangannya yang pucat dan semi-transparan kini terlihat di pundakku. Sentuhannya tidak dingin lagi, tapi terasa panas seperti luka bakar.
"Kenapa lu ngasitahu gue? Gue cuma tukang ojek yang punya utang numpuk!" teriakku frustrasi. Aku memacu motor lebih kencang, mencoba lari dari kenyataan yang baru saja dilemparkan ke pangkuanku.
"Karena aplikasi itu bukan cuma navigasi jalanan, Rizky. Kau tahu fitur 'Hidden Route' itu? Itu bukan cuma soal membelah ruang, tapi juga membelah waktu. Aku ingin kau membawaku kembali ke malam itu. Sebelum truk itu melindas tubuhku. Aku ingin dunia melihat siapa dia sebenarnya."
Aku mengerem mendadak hingga ban belakang motorku berdecit keras di atas aspal basah. Napasku memburu. "Lu g***? Perjalanan lintas waktu? Itu mustahil! Sang Pengawas bakal nyeret jiwa gue ke dasar neraka kalau gue berani ngerubah sejarah!"
"Hanya sepuluh menit sebelum kejadian," mohon Melati. Kini dia menampakkan diri sepenuhnya di sampingku. Wajahnya yang cantik terlihat pucat pasi, dengan mata hitam pekat yang mengalirkan air mata berwarna kemerahan. "Kalau kau melakukannya, aku akan memberimu bayaran yang takkan berubah menjadi daun kering saat subuh. Aku tahu di mana Hendra menyembunyikan b**nkas gelapnya. C**up untuk melunasi utang ibumu dan membawa adikmu operasi ke luar negeri."
Aku tertegun. Dilema itu menghantamku telak. Di satu sisi, ada keselamatan jiwaku yang terancam oleh kemarahan Sang Pengawas. Di sisi lain, wajah pucat ibuku di ruang ICU dan tagihan rumah sakit yang terus membengkak menari-nari di pelupuk mata.
Tiba-tiba, suhu di sekitar kami turun drastis hingga napasku mengeluarkan uap putih. Dari arah hutan di pinggir jalan, muncul sosok tinggi kurus tanpa wajah, mengenakan jubah hitam yang menjunt** hingga menyentuh tanah. Tangannya yang panjang memegang sebuah lampion yang memancarkan cahaya ungu redup.
"Sang Pengawas..." bisikku dengan suara bergetar.
Sosok itu tidak berjalan, ia meluncur mendekat dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Tekanan atmosfer di sekitarku terasa begitu berat hingga aku sulit untuk sekadar menarik tuas gas.
"Pilih, Rizky!" seru Melati, suaranya kini mendesak. "Buka rute itu sekarang, atau kita berdua akan tamat di sini!"
Tanganku yang gemetar meraih ponsel di stang. Jariku melayang di atas ikon jam pasir yang tiba-tiba muncul di pojok aplikasiβfitur yang selama ini terkunci dan berwarna abu-abu, kini menyala terang dengan warna emas yang menyilaukan.
*AKTIFKAN PINTU KRONOS?*
*PERINGATAN: TINDAKAN INI BERSIFAT IRREVERSIBLE DAN DAPAT MENYEBABKAN PARADOKS EKSISTENSIAL.*
Aku melirik ke arah Sang Pengawas yang kini hanya berjarak beberapa meter. Lampion ununya mulai berpendar terang, siap untuk menghisap apa pun yang melanggar hukum alam. Di saat yang sama, aku teringat ucapan dokter tadi siang tentang sisa waktu ibuku yang tak banyak lagi.
Dengan memejamkan mata dan keputusasaan yang meluap, jempolku menekan layar itu.
Seketika, aspal di bawah roda motorku seolah mencair. Dunia di sekelilingku berputar hebat, warna-warna menyatu menjadi garis-garis cahaya yang memusingkan. Suara raungan Sang Pengawas terdengar membahana di belakangku, penuh kemarahan yang bisa meruntuhkan gunung.
Lalu, segalanya menjadi gelap total.
Hening.
Bau pertama yang ma**k ke indra penciumanku adalah aroma aspal basah dan polusi kota. Aku membuka mata. Langit di atasku tidak lagi gelap sunyi seperti di Puncak Cumbri, melainkan kelabu pekat oleh awan mendung. Di depanku, berdiri megah Gedung Cakrawala dengan lampu-lampu yang masih menyala terang.
Aku melihat ke arah spion. Melati masih di sana, tapi kali ini dia tampak lebih nyata, lebih hidup. Wajahnya tidak lagi pucat pasi, melainkan penuh ketakutan.
"Kita sampai," bisiknya lirih.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari lant** atas gedung. Aku mendongak dan melihat sekelebat bayangan jatuh dari ketinggian. Di saat yang sama, lampu sorot dari sebuah truk besar di ujung jalan mulai mendekat dengan kecepatan tinggi.
Aku tersadar. Ini bukan hanya perjalanan melihat masa lalu. Aku baru saja ma**k ke dalam pusaran maut yang seharusnya sudah selesai sepuluh tahun yang lalu. Dan kali ini, akulah yang memegang kemudinya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!