Layar ponsel di genggamanku berkedip-kedip, memancarkan cahaya ungu pucat yang kontras dengan kegelapan pekat di area pabrik tekstil terbengkalai ini. Di sudut atas aplikasi, ikon tangki bensin yang biasanya berwarna hijau kini berubah menjadi simbol tengkorak kecil yang berdenyut merah darah.
*βBahan Bakar Jiwa: 2%. Segera lakukan pengisian untuk melanjutkan rute perjalanan waktu.β*
Aku menelan ludah, tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan pasir. Di belakangku, Melati duduk membisu. Sosoknya terlihat lebih transparan dari biasanya, seolah-olah angin malam yang kencang ini bisa menyapu keberadaannya kapan saja. Tangan dinginnya yang melingkar di pinggangku terasa seperti es yang menembus jaket ojekku.
"Kau yakin ini tempatnya?" bisikku. Suaraku gemetar, memecah kesunyian yang mencekam.
Melati menunjuk ke arah pohon beringin raksasa yang akarnya menjunt** seperti tentakel raksasa di tengah halaman pabrik. "Di bawah sana, Rizky. Ada sesajen yang baru diletakkan sore tadi oleh seseorang yang ingin meminta kekayaan. Minyak Sela Bumi yang ada di dalam mangkuk perunggu itu... hanya itu yang c**up kuat untuk mendorong motor ini menembus sekat sepuluh tahun lalu."
Aku mematikan mesin motor. Bunyi 'klik' dari kunci kontak terasa seperti ledakan di telingaku. Aku turun dengan kaki lemas, setiap langkahku di atas dedaunan kering terdengar seperti teriakan peringatan. Bau kemenyan yang menyengat mulai menusuk hidung, bercampur dengan aroma anyir yang tidak bisa kujelaskan.
"Kenapa tidak kau saja yang ambil?" tanyaku, berharap ada keajaiban.
Melati menggeleng lemah. "Aku sudah menjadi bagian dari 'sana'. Mengambil milik mereka tanpa izin akan membuatku terikat selamanya di akar itu. Kau masih memiliki detak jantung, Rizky. Kau punya hak untuk 'mencuri' dari alam bawah."
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungku yang mengg***. Aku berjalan mendekati beringin itu. Semakin dekat, udara terasa semakin berat, seolah-olah atmosfer di sekitar pohon itu memadat menjadi cairan yang sulit ditembus. Di antara akar-akar besar yang menonjol, aku melihatnya: sebuah nampan kuningan berisi kembang tujuh rupa, kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis, dan sebuah botol kecil berisi cairan hitam kental yang berkilau aneh.
Minyak Sela Bumi.
Saat tanganku terjulur, hanya beberapa senti dari botol itu, bulu kudukku berdiri tegak. Angin tiba-tiba berhenti berhembus. Hening yang mutlak menyergap, seolah seluruh dunia sedang menahan napas.
*Ggrrr...*
Suara geraman rendah itu bukan berasal dari telingaku, melainkan bergetar langsung di dalam dadaku. Dari balik batang pohon yang gelap, sepasang mata berwarna kuning menyala terbuka. Sosok itu perlahan muncul. Tingginya hampir tiga meter, dengan kulit hitam legam yang tampak seperti kulit pohon tua yang pecah-pecah. Tangannya panjang hingga menyentuh tanah, dengan kuku-kuku yang melengkung tajam seperti sabit karatan.
Banaspati Penjaga.
"Jangan menoleh, Rizky! Ambil sekarang!" teriak Melati, suaranya terdengar jauh dan bergema.
Aku tidak berpikir lagi. Tanganku menyambar botol minyak itu. Rasanya sangat panas, seolah-olah aku menggenggam bara api yang terbungkus kaca. Saat botol itu berpindah ke tanganku, makhluk itu mengeluarkan raungan yang membuat telingaku berdenging hebat. Ia melompat, gerakannya tidak ma**k akal cepatnya untuk ukuran sebesar itu.
Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga. "Melati, naik!" teriakku sambil terengah-engah.
Aku melompat ke atas sadel motor, mema**kkan kunci dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkannya. Di spion, aku melihat bayangan raksasa itu menerjang ke arah kami dengan mulut menganga yang dipenuhi deretan gigi hitam.
"Ayo, nyalakan!" Melati berteriak tepat di telingaku.
Aku memutar kunci, menekan tombol *starter*. Mesin terbatuk. Sekali, dua kali.
"Sial, ayolah!" aku memaki, keringat dingin mengucur deras di pelipisku.
Pada percobaan ketiga, mesin menderu, tapi bunyinya berbedaβlebih mirip raungan binatang buas daripada mesin Honda Vario. Tanpa membuang waktu, aku menuangkan Minyak Sela Bumi itu langsung ke lubang tangki bensin. Cairan hitam itu seolah tersedot ke dalam, dan seketika, lampu depan motorku memancarkan cahaya ungu yang sangat terang, membelah kegelapan pabrik.
Banaspati itu hanya berjarak beberapa meter saat aku menarik gas dalam-dalam. Motor melesat, tapi bukan ke arah jalan keluar. Ban motor seolah-olah melindas permukaan air, menciptakan riak-riak cahaya di udara kosong.
Tiba-tiba, ponsel yang terpasang di *holder* stang bergetar hebat. Sebuah notifikasi muncul dengan font merah yang menutupi seluruh layar:
*PERINGATAN: PELANGGARAN KONTRAK. SANG PENGAWAS TELAH MENYADARI KEBERADAAN ANDA. PROSES LOMPATAN WAKTU DIMULAI DALAM KONDISI TIDAK STABIL.*
"Rizky, pegangan!" teriak Melati.
Dunia di sekitarku mulai memutar dan memudar. Tembok pabrik tekstil itu tampak meleleh seperti lilin yang dipanaskan. Namun, di tengah pusaran cahaya ungu itu, aku melihat sesuatu yang membuat darahku membeku. Di belakang kami, bukan hanya Banaspati yang mengejar, melainkan sesosok jubah hitam tinggi tanpa wajah yang melayang tenang, memegang sebuah jam pasir yang retak.
Sang Pengawas.
Dan yang lebih buruk lagi, aku menyadari satu hal saat motor kami mulai terangkat ke udara: jarum speedometer motorku bukan menunjuk ke arah angka kecepatan, melainkan berputar mundur dengan sangat cepat, melewati tahun-tahun yang belum pernah ingin kukunjungi lagi.
"Melati, apa yang terjadi?!" teriakku di tengah deru angin yang m****akkan telinga.
"Kita tidak hanya melintasi waktu, Rizky," suara Melati terdengar ketakutan untuk pertama kalinya. "Kita sedang ditarik ma**k ke dalam ingatanku, dan Sang Pengawas tidak akan membiarkan kita keluar hidup-hidup!"
Pandanganku memutih. Hal terakhir yang kurasakan adalah sensasi jatuh yang tak berujung, tepat saat layar ponselku menampilkan angka tahun yang kucari: **2014**. Namun, di bawah angka itu, muncul pesan terakhir yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak: *'Biaya Perjalanan: Nyawa Pengemudi.'*
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!