Korelasi Hati: Antara SPSS, Pengkhianatan, dan Syntax Cinta

Bab 1: Bab 1 - Memperkenalkan obsesi Lulu pada SPSS dan hubung...

Pengaturan Membaca

Kursor itu berkedip-kedip, seolah-olah mengejek detak jantungku yang tidak beraturan. Di layar monitor berukuran empat belas inci itu, deretan angka dalam kolom *Data View* perangkat lunak SPSS tampak jauh lebih menarik daripada pantulan wajahku di cermin lemari yang buram. Bagiku, tidak ada yang lebih jujur daripada hasil uji regresi linear berganda. Jika nilai signifikansinya di bawah 0,05, maka hasilnya valid. Titik. Data tidak memiliki agenda tersembunyi, tidak punya alasan untuk berbohong, dan yang paling penting, data tidak memiliki perasaan yang bisa berubah dalam semalam.

Aku menyesap kopi instan yang sudah mendingin, meninggalkan rasa pahit yang menempel di langit-langit mulut. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Jemariku bergerak lincah di atas *touchpad*, mengklik menu *Analyze*, lalu ma**k ke bagian *Correlate*. Aku sedang mencoba mencari hubungan antara jam belajar mahasiswa tingkat akhir dengan tingkat stres mereka. Hipotesis pribadiku? Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menatap layar, semakin tinggi kemungkinan seseorang kehilangan kewarasan.

Ponselku yang tergeletak di samping laptop bergetar pelan. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul, menerangi tumpukan jurnal cetak yang berserakan di atas meja belajar.

**Rama:** *Sayang, maaf banget. Kayaknya malam ini aku nggak bisa jemput.*

Aku menghentikan gerakan jemariku. Mataku terpaku pada layar ponsel, lalu kembali ke layar laptop. Ada sebuah anomali dalam dadaku yang tidak bisa kujelaskan dengan rumus statistik mana pun. Aku menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-paruku yang terasa sesak oleh aroma debu buku.

Ini adalah ketiga kalinya dalam minggu ini. Jika ini adalah sebuah tren dalam grafik, maka garisnya sedang menukik tajam menuju titik nol. Aku mengetik balasan dengan tangan yang sedikit kaku.

**Lulu:** *Kenapa lagi? Kita kan sudah janjikan mau makan malam di tempat biasa jam 7.30.*

Sambil menunggu balasan, aku kembali ke SPSS. Aku mencoba memfokuskan diri pada variabel-variabel di depanku. Namun, konsentrasiku buyar. Bayangan Rama—dengan senyumnya yang selalu tampak meyakinkan dan janji-janji manis yang biasanya terdengar seperti melodi indah—kini mulai terasa seperti *outlier* dalam hidupku. Sesuatu yang mengganggu distribusi normal keseharianku.

Ponselku bergetar lagi.

**Rama:** *Dosen pembimbingku mendadak minta revisi bab 4 malam ini juga. Deadline-nya besok pagi buat sidang. Kamu tahu kan betapa krusialnya ini buat kelulusanku? Jangan marah ya, Lu. Love you.*

Aku meletakkan ponsel itu dengan posisi layar menghadap ke bawah. Aku tidak ingin melihat kata "Love you" itu. Secara statistik, validitas kata-kata Rama mulai mendekati nol. Aku tahu persis bagaimana rasanya dikejar *deadline* skripsi, tapi aku juga tahu bahwa Rama bukan tipe orang yang akan merelakan malam Sabtu demi tumpukan kertas jika tidak ada sesuatu yang lebih menarik di sana.

"Logika, Lulu. Gunakan logikamu," bisikku pada diri sendiri.

Aku bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela kamar kosku yang sempit. Di luar, lampu-lampu jalanan mulai menyala, memantulkan cahaya di atas aspal yang basah karena sisa hujan sore tadi. Dunia di luar sana penuh dengan variabel yang tidak terkontrol. Manusia berinteraksi, berbohong, berselingkuh, dan saling menyakiti, semuanya tanpa pola yang jelas. Itulah alasan mengapa aku lebih memilih menghabiskan malamku dengan *syntax* dan *output* data. Di dalam SPSS, jika ada kesalahan, program akan memberitahumu dengan kode *Error*. Di dunia nyata, pengkhianatan seringkali datang tanpa peringatan sistem.

Aku kembali duduk dan mencoba melanjutkan pekerjaanku. Aku membuka *file* data penelitian skripsiku yang sebenarnya—bukan sekadar latihan korelasi stres tadi. Ini adalah proyek besarku: Analisis Perilaku Konsumen terhadap Produk Digital. Aku telah mengumpulkan hampir empat ratus responden. Datanya bersih, *coding*-nya rapi, dan aku sudah hampir mencapai tahap kesimpulan.

Namun, saat aku membuka folder "Data_Final_Skripsi", ada sesuatu yang aneh.

Aku mengerutkan kening. Ukuran *file*-nya berubah. Tanggal modifikasi terakhir menunjukkan pukul empat sore tadi, saat aku sedang berada di perpustakaan tanpa membawa laptop. Perasaan tidak enak mulai merayap di tengkukku, seperti dinginnya es yang ditempelkan ke kulit secara tiba-tiba.

Aku membuka *file* tersebut. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat kolom-kolom desimal di sana. Angka-angkanya tampak... terlalu sempurna. Terlalu seragam. Distribusinya menunjukkan kurva normal yang sangat ideal, hampir mustahil untuk data primer yang diambil dari manusia sungguhan.

"Ini bukan dataku," gumamku pelan. Suaraku bergetar.

Aku mencoba melakukan pengecekan *syntax*. Benar saja, seseorang telah ma**k ke akun *cloud* milikku atau secara fisik menyentuh laptop ini dan mengubah angka-angkanya. Siapa pun itu, dia melakukannya dengan sangat sistematis. Dia tidak hanya menghapus, tapi memanipulasi—mengganti jawaban responden yang acak menjadi pola yang mendukung hipotesisku secara berlebihan. Di dunia akademis, ini adalah dosa besar. Jika aku menyerahkan data ini pada dosen pembimbingku, aku tidak hanya akan gagal lulus, tapi juga bisa dikeluarkan karena pemalsuan data.

Tanganku gemetar saat meraih ponsel. Aku ingin menelepon Rama. Aku butuh seseorang untuk meyakinkanku bahwa ini hanya kesalahan sistem. Namun, saat jariku hendak menekan tombol panggil, sebuah pesan ma**k dari sebuah nomor yang tidak kukenal.

Pesan itu berisi sebuah foto.

Foto itu diambil dari sudut yang agak jauh, memperlihatkan sebuah kafe remang-remang yang jaraknya hanya sepuluh menit dari kosku. Di sana, di salah satu meja pojok, duduk seorang pria dengan jaket denim yang sangat kukenali. Di depannya, seorang perempuan dengan rambut panjang tergerai tertawa sambil menyentuh lengan pria itu dengan mesra.

Pria itu adalah Rama. Dan perempuan itu... Sarah? Rival akademis yang selalu bersaing denganku untuk mendapatkan beasiswa penelitian?

Di bawah foto itu, ada satu baris kalimat yang membuat seluruh duniaku yang tertata rapi runtuh seketika:

*Check your SPSS data, Lulu. Numbers don't lie, but people do. Welcome to the real world.*

Aku terpaku. Layar laptop di depanku masih menampilkan grafik yang sempurna, sementara di dalam dadaku, variabel kepercayaan baru saja mengalami korelasi negatif yang menghancurkan. Angka-angka itu tidak lagi terlihat cantik. Mereka terlihat seperti belati yang siap menusuk masa depanku.

Tepat saat itu, lampu di kamarku berkedip dan padam. Kegelapan menyergap, menyisakan hanya cahaya biru pucat dari layar laptop yang menampilkan *output* penuh kebohongan. Di tengah kesunyian yang mencekam, suara notifikasi dari laptop berbunyi—sebuah *system error* yang panjang, tajam, dan m****akkan telinga.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca