Cahaya biru dari monitor LED memantul di lensa kacamata milikku, menciptakan bayangan ganda yang membuat pusing. Di ruangan Lab Komputer 04 yang pengap ini, hanya ada deru kipas CPU dan bunyi tik-tik pelan dari ujung pulpen yang kutuk-ketukkan ke meja. Di sebelahku, Reno duduk dengan posisi merosot di kursi putar, menyilangkan kaki panjangnya seolah tempat ini adalah ruang tamunya sendiri.
"Berhenti melakukan itu, Lu. Kau membuat ritme jantungku berantakan dengan bunyi pulpenmu," tegur Reno tanpa mengalihkan pandangan dari baris-baris kode yang berkedip di depannya.
Aku menghentikan ketukanku seketika. "Maaf. Aku hanya tidak mengerti kenapa kita harus melakukan ini. Bukankah lebih mudah kalau kita langsung membawa file yang rusak itu ke Dekan?"
Reno mendengus, suara yang terdengar seperti tawa meremehkan. "Dan bilang apa? 'Pak, data saya berubah sendiri'? Mereka akan menganggapmu ceroboh karena tidak punya cadangan. Di dunia nyata, data tidak punya mulut untuk bersaksi. Kau harus memaksa jejak digitalnya untuk bicara."
Ia menarik kursi kerjanya lebih dekat ke arahku. Jarak kami kini hanya terpaut belasan sentimeter. Aku bisa mencium aroma kopi hitam yang pekat dan sisa wangi sabun cuci baju yang samar dari kaus hitamnya yang agak pudar. Jantungku memberikan peringatan *outlier*βsebuah lonjakan data yang tidak seharusnya ada dalam kurva normal ketenanganku.
"Perhatikan," Reno menunjuk ke layar dengan jari telunjuknya yang ramping. "Setiap file punya *metadata*. Ini adalah sidik jari digital. Kau lihat kolom *Modified Date* ini? Sarah pikir dia pintar dengan mengubah isi datamu, tapi dia lupa bahwa setiap akses ke server lab meninggalkan jejak IP dan ID pengguna."
Reno mulai mengetik dengan kecepatan yang membuatku terpana. Jemarinya menari di atas *keyboard* mekanik, menciptakan simfoni bunyi klik yang tegas. Dia tidak hanya mencari data; dia sedang membedah sebuah kebohongan.
"Coba kau ma**kkan perintah ini," katanya sambil menggeser *keyboard* ke arahku.
Aku ragu sejenak. Tanganku terasa dingin. Saat aku meraih *keyboard*, jemariku tanpa sengaja bersentuhan dengan punggung tangannya. Ada sengatan listrik statis yang kecil, namun c**up untuk membuatku menarik napas pendek. Reno tidak menjauhkan tangannya segera; dia membiarkannya tetap di sana selama dua detik yang terasa seperti satu jam dalam skala relativitas perasaanku.
"Ketik `grep`, lalu ma**kkan parameter waktu saat kau meninggalkan lab kemarin," instruksinya, suaranya kini sedikit lebih rendah, lebih serak.
Aku mencoba fokus. Fokus adalah satu-satunya variabel yang bisa kukendalikan. Aku mengetikkan perintah itu, merasakan tekstur tombol di bawah ujung jariku. "Begini?"
"Hampir benar. Kau kurang satu tanda petik di akhir. Kau ini mahasiswi statistika paling teliti, tapi kenapa sekarang jadi ceroboh?" Reno terkekeh pelan. Dia mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya kini berada di belakang kursiku, sementara tangan kirinya meraih *mouse* di sisi kanan tanganku.
Posisi ini membuatku seolah sedang dikurung oleh keberadaannya. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya menembus kemeja tipis yang kukenakan. Mataku terpaku pada layar, tapi seluruh sensor sarafku justru terfokus pada napasnya yang teratur di dekat telingaku.
"Data tidak pernah bohong, Lu. Tapi manusia yang mengelolanya bisa sangat kreatif dalam menipu," bisik Reno. Dia menekan tombol *Enter*.
Layar tersebut bergulir dengan cepat sebelum akhirnya berhenti pada satu baris teks berwarna merah terang. Sebuah alamat IP yang sangat kukenal. Terminal 12. Meja yang selalu digunakan Sarah setiap kali dia berada di lab ini. Dan waktu aksesnya? Pukul 19.45, tepat tiga puluh menit setelah aku pulang karena Rama meneleponku dengan alasan ingin merayakan hari jadi kami yang berakhir dengan dia yang tidak datang.
Rasa mual menyerang perutku. Bukan karena data itu, tapi karena korelasi yang tiba-tiba terbentuk sempurna di kepalaku. Rama meneleponku untuk menjauhkanku dari lab, supaya Sarah bisa ma**k dan menghancurkan pekerjaanku. Sebuah kolaborasi yang sistematis.
"Lihat itu? Itu namanya pengkhianatan dalam format heksadesimal," ujar Reno. Dia menoleh ke arahku, membuat wajah kami kini hanya berjarak hitungan sentimeter.
Aku menatap matanya. Di balik sikap sinis dan bicaranya yang ketus, aku melihat sesuatu yang lain. Tidak ada angka di sana, tidak ada algoritma yang bisa menjelaskan kilatan aneh di pupil matanya. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu mencari variabel kontrol. Aku hanya merasa... aman di tengah kekacauan ini.
"Kenapa kau membantuku, Ren?" tanyaku pelan. "Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya mahasiswi kaku yang lebih suka bicara dengan angka daripada manusia."
Reno terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Matanya turun ke bibirku sejenak, sebelum kembali mengunci tatapanku. Tangannya yang tadinya berada di belakang kursiku, kini perlahan bergerak menyentuh helaian rambut yang jatuh di wajahku, menyelipkannya ke belakang telinga.
"Mungkin karena aku benci melihat algoritma yang indah dirusak oleh orang-orang bodoh," jawabnya, suaranya kini kehilangan nada sarkastiknya. "Atau mungkin karena kau adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa kuprediksi di lab ini, Lulu."
Keheningan di antara kami terasa begitu padat, seolah udara di ruangan itu telah jenuh oleh partikel-partikel emosi yang tak terucapkan. Aku merasa dinding logikaku yang selama ini kubangun dengan rumus-rumus kaku mulai retak. Reno adalah sebuah anomali, sebuah *error* dalam sistem kehidupanku yang teratur, namun entah kenapa, aku tidak ingin memperbaikinya.
Tepat saat Reno mulai mencondongkan wajahnya lebih dekat, sebuah notifikasi muncul di layar monitor dengan bunyi denting yang nyaring.
Sebuah email ma**k ke kotak ma**kku. Subjeknya: *Permohonan Sidang Skripsi - DITOLAK*.
Aku terperanjat, menjauhkan diri dari Reno seolah baru saja tersengat listrik yang jauh lebih besar. Tanganku gemetar saat meraih *mouse* dan membuka email tersebut. Di sana, terlampir sebuah tangkapan layar hasil olah dataku yang telah dimanipulasiβyang kini telah dilaporkan secara anonim ke komisi etik fakultas sebagai tindakan plagiarisme dan pemalsuan data.
"Br******," desis Reno, matanya kembali menajam menatap layar. "Mereka tidak hanya ingin menghancurkan datamu, Lu. Mereka ingin membunuh masa depanmu."
Aku merasakan dingin yang luar biasa merayap dari ujung kaki hingga ke dadaku. Logicaku lumpuh. Namun, saat aku merasakan tangan Reno menggenggam tanganku yang gemetar di atas meja, sebuah amarah baru mulai menyala.
"Bantu aku, Reno," kataku dengan suara yang kini sekeras baja. "Bukan untuk memperbaiki data ini. Tapi untuk menghancurkan mereka dengan cara yang tidak akan pernah mereka lihat datangnya."
Reno menyeringai, sebuah senyum predator yang berbahaya namun entah bagaimana terlihat sangat menawan di mataku. "Sekarang kau mulai bicara dengan bahasaku. Mari kita buat mereka menyesal karena pernah menyentuh satu pun bit dari datamu."
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!