Cahaya biru dari layar monitor memantul di lensa kacamata, menciptakan bayangan redup di pipiku yang terasa kaku. Di depanku, barisan kode *syntax* menari-nari seperti deretan semut hitam yang siap menyerbu. Suasana laboratorium komputer lant** tiga sudah sepi; hanya ada dengung pendingin ruangan dan detak jam dinding yang terdengar seperti vonis mati.
"Kau yakin ingin melakukan ini? Begitu tombol *enter* ini ditekan, tidak ada jalan kembali, Lu."
Suara Reno yang serak memecah keheningan. Dia bersandar di meja sebelah, menyilangkan lengan di depan dada dengan ekspresi yang sulit dibaca. Matanya yang tajam menatap layar laptopku, lalu beralih ke wajahku.
Aku tidak langsung menjawab. Jemariku masih melayang di atas *keyboard*. Di dalam folder 'Draft_Seminar_Proposal_Sarah' yang berhasil kami 'pinjam' dari server fakultas, tersimpan presentasi yang dibangun di atas kebohongan. Sarah tidak hanya mencuri ide penelitianku; dia memanipulasi angka-angkanya agar terlihat sempurna secara statistik. Hasil *p-value* yang dia klaim sangat signifikan itu adalah fatamorgana.
"Data tidak pernah berbohong, Ren," bisikku, lebih kepada diriku sendiri. "Yang dia lakukan adalah penistaan terhadap ilmu pengetahuan. Aku hanya... mengembalikan kebenaran pada tempatnya."
"Dengan cara menyisipkan *script* yang akan meledakkan *output* statistiknya tepat di depan para penguji besok?" Reno mengangkat alis. "Itu bukan sekadar mengembalikan kebenaran. Itu sabotase elegan."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa kering. Rencananya sederhana namun mematikan. Aku telah merancang sebuah *loop* kecil dalam file SPSS yang tertanam di presentasinya. Saat Sarah mencoba menjalankan demonstrasi data secara *real-time*βhal yang selalu dia sombongkan untuk memukau dosenβ*script* buatanku akan menarik data asli yang belum dimanipulasi dari *cloud* cadanganku. Dalam hitungan detik, grafik cantiknya akan hancur berantakan, menunjukkan korelasi yang lemah dan bias yang nyata.
Dia akan dipermalukan. Gelar mahasiswi berprestasi yang dia banggakan akan rontok di hadapan dewan penguji.
"Lihat tanganmu," kata Reno tiba-tiba.
Aku menunduk. Jemariku bergetar hebat. Bukan karena kedinginan, melainkan karena gejolak yang tidak bisa dima**kkan ke dalam variabel kontrol mana pun. Ada rasa puas yang gelap, namun tertutup oleh lapisan keraguan yang tebal.
"Apakah ini membuatku sama buruknya dengan dia?" tanyaku lirih. "Dia memanipulasi data untuk menang. Aku memanipulasi sistemnya untuk menghancurkannya. Di mana bedanya dalam skala likert moralitas?"
Reno mendengus, sebuah tawa sinis yang pendek. Dia melangkah mendekat, aroma kopi pahit dan debu perangkat keras menguar dari kemejanya. "Bedanya adalah niat, Lulu. Dia berbohong untuk mencuri masa depanmu. Kau bertindak untuk melindungi integritas apa yang kau yakini. Tapi ya, secara teknis, kita sedang bermain di area abu-abu yang sangat gelap."
Aku menatap baris kode terakhir. *If (Sarah_Lie = 1) then (Truth_Output = 100)*. Sebuah logika sederhana yang sangat aku kuasai. Namun, logikaku yang biasanya sedingin es kini terasa panas membara. Aku teringat wajah Rama saat dia menghilang tanpa kabar, lalu bayangan Sarah yang tertawa sambil memegang draf skripsiku di kantin tempo hari.
Sakit itu bukan sekadar patah hati. Itu adalah perasaan ketika semestamu yang teratur diacak-acak oleh anomali yang tidak tahu diri.
"Jika aku tidak melakukan ini, dia akan lulus dengan predikat *cum laude* menggunakan hasil keringatku," ujarku, suaraku menguat. "Dunia tidak boleh bekerja seperti itu. Tidak ada toleransi untuk *error* sebesar ini."
"Kalau begitu, eksekusi sekarang. Sebelum petugas keamanan mengusir kita," desak Reno.
Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara laboratorium yang apek. Pikiranku berpacu menghitung segala kemungkinan. Jika aku tertangkap, aku bisa dikeluarkan. Reputasi lab Reno juga terancam. Risiko ini tidak rasional. Secara statistik, *cost-benefit analysis* dari tindakan ini sangatlah buruk.
Namun, ada satu variabel yang tidak pernah bisa aku ukur dengan SPSS: rasa haus akan keadilan.
Klik.
Suara tetikus itu terdengar seperti letusan senjata api di ruangan yang sunyi. Bilah progres di layar bergerak cepat, mengunggah *script* pengkhianat itu ke dalam file Sarah. Selesai. *Upload Successful.*
Aku menyandarkan punggung ke kursi, merasa lemas seketika. "Sudah."
Reno mengangguk pelan, matanya menatap layar dengan kilat kekaguman yang tersembunyi di balik sikap sinisnya. "Besok jam sepuluh pagi. Ruang Sidang Utama. Itu akan jadi pertunjukan paling jujur sepanjang sejarah fakultas ini."
Aku menutup laptop dengan gerakan lambat. Perasaan lega yang kuharapkan ternyata tidak datang. Justru, sebuah lubang kosong mulai terbentuk di ulu hatiku. Aku telah melewati garis batas. Aku bukan lagi sekadar pengamat data yang kaku. Aku telah menjadi pemain dalam permainan kotor yang selama ini aku benci.
Saat kami berjalan keluar dari laboratorium, menyusuri lorong kampus yang hanya diterangi lampu darurat, ponselku bergetar di saku. Sebuah notifikasi pesan ma**k. Namanya muncul di layar, membuat jantungku berdegup tidak keruan.
*Rama: Lu, kita perlu bicara. Aku tahu apa yang kau rencanakan untuk Sarah besok. Tolong, jangan hancurkan semuanya.*
Langkahku terhenti di ujung tangga. Bagaimana Rama bisa tahu? Aku menoleh ke arah Reno, yang berjalan beberapa langkah di depanku. Dia tidak menoleh, tapi bahunya tampak tegang.
Kegelapan di lorong itu tiba-tiba terasa lebih mencekam. Apakah ada variabel lain yang lupa aku hitung? Apakah pengkhianatan ini memiliki lapisan yang lebih dalam dari yang kubayangkan? Aku menatap layar ponselku, lalu ke arah Reno yang terus berjalan, meninggalkanku dalam ketidakpastian yang paling benci aku hadapi.
Besok bukan sekadar tentang seminar proposal. Besok adalah tentang siapa yang akan bertahan saat seluruh data kebohongan ini akhirnya menemui titik jenuhnya.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!