Lant** tiga gedung Fakultas Ekonomi pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya persepsiku karena suhu pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Aku meremas tali tas ranselku, merasakan beban laptop seberat tiga kilogram yang terasa seperti membawa bongkahan beton. Di dalam sana, tersimpan file skripsi yang selama dua minggu terakhir tidak menunjukkan pergerakan berarti. Kursor yang berkedip di layar SPSS-ku seolah mengejek, mengingatkanku bahwa variabel-variabel dalam hidupku sedang mengalami *error* sistemik.
Aku mengetuk pintu kayu jati dengan papan nama "Dr. Hendra, M.Si." Suara ketukan itu terdengar rapuh.
"Ma**k," suara berat itu terdengar dari dalam.
Pak Hendra duduk di balik meja besarnya yang penuh dengan tumpukan jurnal. Beliau adalah pria yang menghargai presisi di atas segalanya. Biasanya, aku adalah mahasiswa kesayangannya karena aku bicara dalam bahasa angka yang dia cint**. Namun hari ini, tatapannya di balik kacamata minus tebal itu tidak sehangat biasanya.
"Lulu, duduk," ujarnya tanpa basa-basi. Beliau menggeser sebuah map transparan ke arahku. "Saya sudah membaca draf revisi bab empat yang kamu kirim lewat email semalam. Atau lebih tepatnya, draf yang *kosong* di bagian pembahasan."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan butiran pasir kering. "Saya sedang melakukan pembersihan data ulang, Pak. Ada inkonsistensi dalam uji heteroskedastisitas yang..."
"Inkonsistensi?" Pak Hendra memotong kalimatku, suaranya naik satu oktav. "Masalahnya bukan lagi soal statistik, Lulu. Masalahnya adalah integritas. Kamu sudah berjalan di tempat selama hampir sebulan. Sebagai calon lulusan terbaik, stagnasi ini bukan hanya mengganggu jadwal yudisium kamu, tapi juga mempertanyakan apa yang sebenarnya kamu lakukan di lab selama ini."
Aku ingin menjelaskan tentang Sarah. Tentang bagaimana file mentahku di folder awan tiba-tiba berubah angkanya secara misterius. Tentang bagaimana aku merasa ada seseorang yang sedang mengutak-atik *syntax* yang sudah kurakit dengan susah payah. Tapi, bagaimana aku bisa mengatakannya tanpa terdengar seperti pecundang yang mencari kambing hitam? Di mata Pak Hendra, hanya data yang valid yang diakui. Perasaan dan kecurigaan adalah variabel pengganggu yang harus dieliminasi.
"Maaf, Pak. Saya akan memperbaikinya dalam tiga hari," ucapku lirih, meski aku sendiri tidak yakin bagaimana caranya.
Baru saja Pak Hendra hendak menjawab, pintu kantornya diketuk dengan ritme yang ceria. Tanpa menunggu izin yang pantas, pintu itu terbuka. Sarah berdiri di sana, mengenakan blus satin berwarna *peach* yang tampak sangat kontras dengan wajahku yang kusam karena kurang tidur. Dia membawa sebuah map biru dengan senyum yang dipoles sempurnaβsenyum yang dulu sempat membuatku percaya bahwa kami adalah teman baik, sebelum aku tahu dia membagi tempat tidur dengan Rama.
"Oh, maaf Pak Hendra. Saya tidak tahu kalau Lulu sedang di dalam," suara Sarah terdengar sangat menyesal, namun matanya yang berkilat menunjukkan hal sebaliknya.
"Ma**k saja, Sarah. Kebetulan ada hal yang perlu saya konfirmasikan dengan kalian berdua," ujar Pak Hendra. Atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi medan magnet yang saling tolak-menolak.
Sarah berjalan mendekat, aroma parfum melatinya yang kuat memenuhi ruangan, membuat mual di perutku semakin menjadi-jadi. Dia meletakkan map birunya di atas meja, tepat di samping laptopku yang tertutup.
"Sebenarnya, Pak..." Sarah memulai, suaranya merendah seolah dia sedang mengutarakan rahasia negara yang menyakitkan. "Saya merasa sangat tidak enak harus mengatakan ini. Tapi sebagai sesama bimbingan Bapak, saya merasa punya kewajiban moral untuk menjaga nama baik fakultas."
Aku mengernyit. Firasat buruk mulai merayap di tengkukku. "Apa maksudmu, Sarah?"
Sarah menoleh padaku dengan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Lulu, aku tahu kamu sedang stres berat karena datamu banyak yang *outlier*. Tapi, mengambil jalan pintas dengan memfabrikasi angka-angka di kuesioner bukan solusinya."
Jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat. "Fabrikasi? Apa yang kamu bicarakan?"
Sarah menoleh kembali pada Pak Hendra. "Pak, kemarin saya tidak sengaja melihat Lulu di lab komputer sedang menggunakan *software* generator angka acak untuk mengisi sel-sel kosong di data penelitiannya. Saya punya bukti tangkapan layar dari riwayat komputer lab yang dia gunakan kemarin sore."
Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas hasil cetakan dari map birunya. Di sana, tertera log aktivitas akun lab atas namaku, mengakses situs-situs manipulasi data statistik. Darahku mendidih. Aku tidak pernah menyentuh situs itu. Kemarin sore aku bahkan tidak berada di lab; aku sedang berada di gudang belakang bersama Reno, mencoba melacak jejak penyusup di server pribadiku.
"Ini fitnah," suaraku bergetar karena amarah yang tertahan. "Pak Hendra, saya tidak pernah melakukan itu. Angka-angka saya murni hasil survei lapangan."
Pak Hendra mengambil kertas-kertas itu, mempelajarinya dengan dahi yang berkerut dalam. "Lulu, log ini menggunakan akun login pribadimu. Jamnya tepat pukul empat sore. Di mana kamu jam empat sore kemarin?"
Aku membeku. Aku tidak bisa mengatakan aku bersama Reno. Reno adalah teknisi lab yang dianggap 'bermasalah' oleh dekanat karena sikap sinisnya, dan keberadaanku bersamanya di gudang peralatan bisa menimbulkan skandal lain.
"Saya... saya sedang di luar, Pak," jawabku terbata.
"Di luar? Tapi akunmu aktif di Lab A," sela Sarah cepat, nadanya tajam seperti sembilu. "Lulu, jujur saja. Kita semua tahu kamu perfeksionis. Kamu tidak bisa menerima kenyataan kalau hipotesismu ditolak oleh data riil, kan? Jadi kamu memanipulasinya agar hasilnya signifikan."
"C**up!" Pak Hendra menggeb**k meja, membuat pulpen di atasnya meloncat. "Lulu, ini tuduhan yang sangat serius. Jika ini benar, bukan hanya skripsimu yang saya batalkan, tapi saya akan merekomendasikan sanksi akademik berat. Kamu tahu apa artinya itu?"
Duniaku rasanya runtuh. Gelar lulusan terbaik, beasiswa S2 yang sudah di depan mata, semuanya buram dalam sekejap. Aku melihat Sarah, dan di sudut bibirnya, ada seringai tipis yang hanya bisa kulihat. Dia menang. Dia tidak hanya mengambil Rama, dia ingin menghancurkan satu-satunya hal yang memberiku harga diri: integritas ilmiahku.
Aku berdiri, tanganku mengepal hingga kuku-kukuku memutih. "Saya butuh waktu untuk membuktikan bahwa data ini bukan milik saya."
"Saya beri waktu sampai besok pagi," ujar Pak Hendra dingin, tidak lagi menatap mataku. "Jika kamu tidak bisa membuktikan akunmu diretas atau log ini salah, saya sendiri yang akan membawa ka**s ini ke sidang komisi etik."
Aku keluar dari ruangan itu dengan langkah limbung. Lorong fakultas terasa seperti labirin yang menyempit. Di ujung koridor, aku melihat Sarah menyusulku. Dia berjalan sant**, lalu berbisik tepat di samping telingaku.
"Data memang tidak pernah bohong, Lulu. Tapi manusia bisa membuat data itu bicara apa saja yang mereka mau. Kamu terlalu kaku untuk permainan ini."
Dia berlalu dengan tawa kecil yang menusuk. Aku bersandar pada pilar beton yang dingin, mencoba mengatur napas yang memburu. Logikaku buntu. Variabel kontrolku hilang. Hanya ada satu orang yang bisa membantuku meretas balik permainan kotor ini.
Aku meraba ponsel di saku, jemariku yang gemetar mengetik satu nama: *Reno. Aku butuh bantuanmu sekarang. Mereka menjebakku lewat sistem.*
Aku tahu, mulai detik ini, aku tidak bisa lagi menjadi pengamat data yang pasif. Jika mereka ingin bermain dengan kode dan manipulasi, maka aku akan menunjukkan pada mereka bahwa *error* yang paling fatal adalah ketika mereka meremehkan seorang analis yang tidak lagi punya pilihan selain melawan.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!