Dengung kipas CPU di Lab Komputer 3 malam ini terasa seperti detak jantung yang berpacu melawan waktu. Udara dari pendingin ruangan yang dipasang pada suhu 16 derajat terasa menusuk kulit lenganku yang hanya terbalut kardigan tipis, tapi aku tidak peduli. Mataku terpaku pada layar monitor, memindai ribuan baris data yang kacau balau. Angka-angka itu, yang dulunya adalah susunan rapi penuh logika, kini berantakan seperti kota yang baru saja dihantam badai.
Sarah benar-benar melakukan pekerjaan yang rapi dalam menghancurkan hidupku.
"Jangan dipelototi terus. Data itu tidak akan memperbaiki dirinya sendiri hanya karena kamu ingin menangis," suara berat itu memecah keheningan.
Aku menoleh. Reno duduk di meja sebelahku, kakinya yang panjang diselonjorkan dengan sant**. Dia baru saja menyesap kopi hitam dari gelas kertas yang sudah hampir penyok. Cahaya biru dari monitor memantul di kacamata berbingkai hitamnya, memberikan kesan dingin yang makin mempertegas garis rahangnya.
"Aku tidak menangis," sahutku ketus, meski aku tahu mataku merah karena kurang tidur dan frustrasi. "Aku sedang mencari *entry point* manipulasi yang dia lakukan. Dia mengubah nilai signifikansi di *database* pusat, bukan cuma di *file* mentahku."
Reno berdiri, melangkah mendekat hingga aromanyaβcampuran kopi pahit dan aroma samar detergenβmenyesaki ruang pribadiku. Dia membungkuk di sampingku, satu tangannya bertumpu pada sandaran kursiku, sementara tangan lainnya meraih *mouse* dari genggamanku. Jarinya yang dingin sempat bersentuhan dengan punggung tanganku, mengirimkan sengatan kecil yang membuatku menahan napas.
"Geser," perintahnya singkat.
Aku bergeser sedikit, memberinya ruang. Reno mulai mengetikkan rentetan perintah di kolom *syntax* dengan kecepatan yang membuatku pening. Dia tidak menggunakan menu standar SPSS; dia langsung ma**k ke dalam perut sistem lewat baris kode yang terlihat asing namun elegan.
"Kenapa kamu melakukan ini, Ren?" tanyaku pelan, memperhatikan profil samping wajahnya yang fokus. "Maksudku, kamu jenius. Aku melihat cara kamu menangani server fakultas minggu lalu. Kamu bukan sekadar teknisi lab yang bertugas memperbaiki kabel putus atau menginstal ulang Windows. Kamu jauh di atas itu."
Gerakan tangan Reno berhenti sejenak. Dia menatap layar hitam di depannya, di mana kursor putih berkedip-kedip menanti perintah selanjutnya.
"Dunia ini tidak kekurangan orang jenius, Lu. Dunia ini kekurangan orang yang tahu kapan harus berhenti," jawabnya tanpa menoleh.
"Itu bukan jawaban."
Reno menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang keras, lalu menatap langit-langit lab yang berdebu. "Aku dulu punya segalanya. Beasiswa penuh di MIT, tawaran kerja di Silicon Valley sebelum lulus, dan ambisi yang bisa membakar seluruh kota ini. Aku adalah orang yang percaya bahwa algoritma bisa menyelesaikan semua masalah manusia. Sampai suatu hari, algoritma yang kubuat digunakan untuk memanipulasi pasar saham oleh orang-orang yang kuberi kepercayaan. Ribuan orang kehilangan tabungan masa tua mereka karena 'kegeniusanku'."
Aku tertegun. Reno yang biasanya sinis dan tertutup kini tampak begitu rapuh di bawah sorot lampu neon yang remang.
"Jadi kamu memilih jadi teknisi lab di kampus medioker ini?" tanyaku hati-hati.
"Aku memilih untuk tidak lagi menjadi bagian dari mesin yang menghancurkan orang lain," Reno menoleh padaku, matanya menatap tajam ke dalam mataku. "Di sini, aku hanya berurusan dengan kabel dan mahasiswa yang lupa *password* mereka. Itu aman. Tidak ada risiko moral. Sampai aku bertemu mahasiswi keras kepala yang hobi bicara dengan angka seolah-olah mereka adalah teman baiknya."
Ada keheningan panjang yang menggantung di antara kami. Suasana lab yang tadinya terasa dingin dan asing, tiba-tiba berubah menjadi sangat intim. Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang hanya berjarak beberapa sentimeter dariku. Perasaan ini tidak ma**k akal. Tidak ada variabel dalam statistika yang bisa menjelaskan mengapa jantungku berdegup sekencang ini hanya karena tatapan seorang pria yang baru kukenal beberapa minggu.
"Reno..." gumamku, hampir menyerupai bisikan.
Dia tidak membalas, tapi tangannya perlahan kembali ke atas meja, tepat di samping tanganku. Untuk sesaat, aku merasa dia ingin menggenggam tanganku, tapi dia mengurungkan niat itu. Dia kembali menatap layar.
"Kita hampir sampai," katanya, suaranya kembali ke nada datar biasanya. "Aku menemukan log aktivitas di server. Sarah melakukan akses dari IP address yang bukan miliknya. Dia ma**k menggunakan akun asisten laboratorium milik... Rama."
Darahku seakan membeku. Nama itu. Nama pria yang dulu kusebut kekasih, pria yang katanya mencint**ku namun membiarkan rivalku menghancurkan masa depanku. Jadi, bukan hanya pengkhianatan cinta, tapi kolaborasi untuk menjatuhkanku secara akademik.
"Rama memberikan aksesnya pada Sarah?" tanyaku dengan suara bergetar.
"Lihat ini," Reno menunjuk ke sebuah baris kode yang baru saja dia panggil. "Bukan cuma akses. Rama yang mengunggah perubahan data itu. Sarah yang menyiapkan datanya, tapi Rama yang menekan tombol 'enter'."
Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah. Satu tetes mendarat di atas meja kayu yang lecet. Rasa sakitnya lebih tajam daripada saat aku memergoki mereka di kafe itu. Ini adalah upaya pembunuhan karakter secara sistematis.
Reno tiba-tiba memutar kursiku sehingga aku menghadapnya. Dengan gerakan yang sangat lembut, dia menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Sentuhannya hangat dan kasar, namun entah bagaimana, sangat menenangkan.
"Jangan menangis untuk kode yang rusak, Lu. Kita bisa men-debug ini," bisiknya. Wajahnya mendekat, membuat jarak di antara kami menguap begitu saja. Aku bisa merasakan napasnya di wajahku. "Kita akan menghancurkan mereka dengan cara yang tidak akan pernah mereka duga. Kamu siap bermain kotor?"
Aku menatap mata Reno, mencari keraguan di sana, namun yang kutemukan hanyalah tekad yang membara. Aku mengangguk perlahan, menyadari bahwa mulai malam ini, aku bukan lagi Lulu yang kaku dan patuh pada aturan.
Tepat saat itu, sebuah notifikasi muncul di layar monitor Reno dengan bunyi *ping* yang nyaring. Ada pesan ma**k di sistem log yang sedang kami retas. Pesan singkat yang ditujukan untuk admin server, dikirim dari akun Rama lima menit yang lalu.
*βHapus semua jejak log aktivitas minggu ini. Jangan ada yang tersisa.β*
Aku dan Reno saling berpandangan. Mereka tahu kami sedang berada di sini. Dan mereka baru saja mencoba menghapus barang bukti terakhir sebelum kami sempat menyimpannya.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!