Udara di laboratorium komputer lant** tiga ini selalu terasa lima derajat lebih dingin daripada suhu di luar, tapi malam ini, keringat dingin justru merembes di balik kemeja flanel yang kukenakan. Bunyi dengung konstan dari mesin-mesin server di pojok ruangan biasanya menjadi *white noise* yang menenangkan bagiku, seperti detak jantung yang stabil. Namun, malam ini, suara itu terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.
Aku menatap layar monitor di hadapanku. Cahaya birunya memantul di kacamataku, memperjelas kantung mata yang menghitam karena kurang tidur selama tiga hari terakhir. Di sampingku, Reno bersandar pada meja, menyilangkan tangan di depan dada. Jaket denimnya yang pudar dan aroma kopi pahit yang menguar darinya adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di tengah deretan angka dan baris kode yang mengabur.
"Lo yakin mau ngelakuin ini?" suara Reno berat, nyaris berbisik, memecah kesunyian lab yang mencekam. "Kalau sistem IT pusat mendeteksi ada *script* asing di server skripsi, mereka nggak bakal nanya motivasi lo apa. Lo bakal langsung didepak. Bukan cuma gagal skripsi, tapi DO dengan catatan kriminal."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa seperti baru saja menelan butiran pasir kering. Jariku gemetar di atas *keyboard*. "Sarah sudah memanipulasi dataku, Ren. Dia mengubah variabel signifikansi di database cadanganku. Kalau aku cuma diam dan nunggu dosen pembimbing percaya sama omong kosongnya, aku tetap bakal gagal."
Aku menatap Reno, mencari secercah keraguan atau justru dukungan di matanya yang tajam. "Data nggak boleh bohong. Dan aku nggak akan membiarkan pembohong menang karena mereka tahu cara menjilat sistem."
Reno menghela napas panjang, lalu menyodorkan sebuah *flashdisk* hitam metalik yang tampak sudah lecet di bagian ujungnya. "Ini bukan sekadar *script* statistik. Ini *backdoor*. Gue nyebutnya 'The Watchdog'. Begitu lo tanam di direktori server fakultas, dia bakal merekam setiap perubahan *metadata* secara *real-time*. Siapa yang ma**k, jam berapa, baris kode mana yang diubah, sampai IP address-nya."
Aku menerima *flashdisk* itu. Dinginnya logam terasa seperti sengatan listrik di telapak tanganku. "Risikonya?"
"Besar," Reno mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari layarku. "Gue udah enkripsi *script*-nya supaya terlihat seperti *log* pemeliharaan rutin. Tapi kalau admin server mereka lagi rajin dan melakukan *deep scan* malam ini... yah, kita berdua bakal berakhir di ruang Dekat dengan surat pemecatan."
Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan badai di dadaku. Logika analitisku biasanya bekerja seperti mesin, menimbang prob***litas keberhasilan dibandingkan kegagalan. Prob***litas tertangkap: 40%. Prob***litas membuktikan kecurangan Sarah: 95%. Secara statistik, ini adalah taruhan yang ma**k akal. Tapi hatiku, variabel kontrol yang selalu berusaha kuabaikan, berdenyut kencang karena ketakutan.
Aku mema**kkan *flashdisk* itu ke *port* USB. Bunyi *klik* kecilnya terasa seperti suara kokang senjata.
Layar terminal terbuka. Kursor putih berkedip-kedip, seolah menantangku untuk melangkah lebih jauh. Aku mulai mengetikkan perintah-perintah dasar untuk menembus proteksi awal. Jariku yang biasanya kaku dalam bersosialisasi, kini menari dengan lincah di atas *keyboard*. Baris-baris perintah *Linux* mengalir seperti puisi digital.
*sudo access --bypass --root*
"Lulu, tunggu," Reno tiba-tiba memegang pergelangan tanganku.
Aku tersentak, menoleh padanya. "Apa?"
"Lo tahu kan, kalau lo lakuin ini, lo nggak bisa balik jadi Lulu yang dulu? Lulu yang percaya kalau semua masalah bisa selesai cuma dengan duduk manis di depan SPSS?" Reno menatapku dalam, ada kilatan protektif yang jarang ia tunjukkan di balik sikap sinisnya. "Lo lagi main api sama orang-orang yang pegang kekuasaan di kampus ini."
"Aku sudah kehilangan semuanya, Ren," kataku dengan suara yang pecah. "Aku kehilangan Rama karena dia selingkuh dengan Sarah. Aku hampir kehilangan masa depanku karena Sarah mencuri pekerjaanku. Satu-satunya yang tersisa adalah kebenaran data ini. Kalau aku harus membakar diriku sendiri untuk menunjukkan mereka yang sebenarnya, aku rela."
Aku melepaskan tangannya dengan lembut namun tegas, lalu menekan tombol *Enter*.
Layar monitor langsung dipenuhi dengan baris kode hijau yang bergerak cepat. Proses *injection* dimulai. Jantungku berpacu seirama dengan barisan teks yang bergulir. 10%... 30%... 60%...
Tiba-tiba, lampu indikator di hub server pusat di ujung ruangan berkedip merah dengan frekuensi yang tidak wajar.
"Sial," umpat Reno pelan. Dia langsung meraih *keyboard* tambahan dan mulai mengetik dengan kecepatan g***. "Sistemnya mendeteksi lonjakan trafik yang nggak wajar. Admin pusat mungkin lagi bangun."
"Bisa dibatalkan?" tanyaku panik.
"Nggak bisa! Kalau diputus sekarang, datanya bakal korup dan jejak kita bakal tertinggal jelas di sana!" Reno berkeringat. "Terus mengetik, Lu! Selesaikan bagian *masking*-nya!"
Aku kembali fokus ke layar. Mataku perih, tapi aku menolak untuk berkedip. Aku harus menyembunyikan 'Watchdog' ini di dalam folder sistem yang paling dalam, di tempat yang tidak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun kecuali mereka mencari sampai ke inti *kernel*.
90%... 95%...
Tiba-tiba, suara langkah sepatu berat terdengar dari lorong di luar lab. Cahaya senter menyapu kaca pintu depan, membuat bayangan panjang yang mengerikan di dinding lab yang gelap.
"Satpam," bisik Reno. Dia segera mematikan monitornya sendiri, tapi proses di monitorku masih menyisakan beberapa detik lagi.
"Ren, sedikit lagi!" bisikku gemetar.
"Lulu, matikan!" Reno menarik bahuku, tapi aku bertahan. Aku melihat bilah progres itu merayap. 98%... 99%...
Pintu laboratorium terbuka dengan derit tajam. Cahaya senter itu menyapu ruangan, bergerak perlahan menuju barisan komputer di tempat kami bersembunyi. Aku menahan napas, menekan tombol *Enter* terakhir tepat saat layar menampilkan pesan: *Execution Successful. Script Hidden.*
Aku segera mencabut *flashdisk* dan mematikan monitor dalam satu gerakan kasar. Kegelapan total menyelimuti kami, hanya menyisakan aroma logam panas dari mesin komputer.
"Siapa di sana?" suara berat satpam itu menggema, langkah kakinya semakin mendekat ke meja kami.
Aku merasakan tangan Reno meraih tanganku di bawah meja. Telapak tangannya kasar dan hangat, sangat kontras dengan tanganku yang sedingin es. Dia meremas jemariku, sebuah isyarat bisu untuk tetap diam. Kami berdua meringkuk di celah sempit di bawah meja komputer, jantungku berdentum begitu keras sampai aku takut satpam itu bisa mendengarnya.
Cahaya senter itu lewat tepat di atas kepala kami, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara. Aku memejamkan mata, berdoa pada variabel apa pun yang mengatur keberuntungan manusia.
Lalu, sebuah suara notifikasi yang sangat kukenal memecah kesunyian. Itu suara pesan ma**k dari ponselku yang tertinggal di atas meja. Layarnya menyala terang di tengah kegelapan, menampilkan sebuah nama di baris notifikasi: *Rama.*
Dan pesan itu terbaca jelas di bawah sorotan lampu senter satpam: *"Lulu, aku tahu apa yang kamu rencanakan malam ini. Berhenti sekarang kalau kamu nggak mau hancur."*
Langkah kaki satpam itu berhenti tepat di depan meja kami. Sinar senter terkunci pada layar ponselku yang masih menyala. Di bawah meja, aku merasakan genggaman Reno mengencang, dan aku tahu, variabel ketidakpastian dalam hidupku baru saja meledak menjadi *error* yang fatal.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!