Aroma kopi arabika yang biasanya menenangkan kini terasa seperti polusi di indra penciumanku. Aku duduk di sudut kafe yang remang, jemariku mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu yang kasar, mengikuti irama detak jantungku yang tidak sinkron. Di hadapanku, sebuah cangkir latte yang sudah dingin menyisakan buih-buih yang pecah satu demi satu, persis seperti teori-teori tentang kesetiaan yang dulu sempat kuyakini.
Lalu, pintu kafe berdentang. Rama melangkah ma**k.
Dia masih menggunakan jaket denim favoritnya, rambutnya sedikit berantakan dengan gaya *effortless* yang dulu selalu berhasil membuatku luluh. Dia mengedarkan pandangan, dan saat matanya bertab**kan dengan mataku, dia melempar senyumβsenyum yang dulu kukategorikan sebagai variabel konstan dalam kebahagiaanku. Kini, senyum itu hanyalah *outlier*, data pencilan yang merusak seluruh distribusi normal dalam kepalaku.
"Lu, kamu sudah lama nunggu?" suaranya lembut, merambat halus seolah-olah tidak pernah ada pengkhianatan yang terjadi di antara kami.
Aku tidak menjawab. Aku hanya memperhatikan bagaimana dia duduk, bagaimana dia menggeser kursinya sedikit lebih dekat, dan bagaimana dia mencoba meraih tanganku di atas meja. Aku menarik tanganku sebelum kulit kami bersentuhan. Rasanya seperti menghindari sengatan listrik statis yang tidak menyenangkan.
"Lu, aku tahu kamu marah," Rama memulai, suaranya turun satu oktav menjadi nada bariton yang penuh penyesalan. "Tapi apa yang terjadi dengan Sarah... itu murni kecelakaan. Dia panik karena tekanan skripsi, Lu. Dia nggak bermaksud merusak data kamu secara sistematis."
Aku menatapnya datar. "Kecelakaan, Ram? Mengganti nilai signifikansi dalam puluhan file .sav milik orang lain itu bukan kecelakaan. Itu algoritma kebencian yang terencana."
Rama menghela napas panjang, sebuah gestur yang dulu kuanggap sebagai tanda dia sangat terbebani, namun kini kulihat sebagai upaya manipulasi udara di sekitar kami. "Dia melakukan itu karena dia merasa terancam dengan kejeniusanmu. Tapi tolonglah, kalau kamu lapor ke Dekanat, reputasi Sarah hancur. Dan bukan cuma dia, nama baik angkatan kita, fakultas kita... semuanya bakal kena imbas. Kamu nggak mau kan kita lulus dengan label 'angkatan curang'?"
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menyilangkan tangan di dada. Secara mental, aku sedang menjalankan fungsi *crosstabulation* di kepalaku. Aku memetakan setiap kata-katanya.
"Kamu ke sini untuk memintaku diam, atau untuk meminta maaf?" tanyaku dingin.
Rama meraih cangkir kopiku yang dingin, menyesapnya sedikit seolah mencoba berbagi beban denganku. "Aku ke sini karena aku peduli sama kamu, Lu. Aku kangen kita yang dulu. Ingat nggak pas kita begadang di perpus untuk ngerjain tugas Statistika Sosial kamu? Kita adalah tim yang hebat."
Seketika, sebuah memori terunduh secara otomatis dalam benakku. Malam itu di perpustakaan. Aku mengerjakan seluruh analisis datanya sementara dia tertidur di bahuku. Aku teringat lagi saat ujian tengah semester Makroekonomi; aku yang merangkumkan semua materi dan membuatkan rumus-rumus cepat untuknya.
Aku mulai melakukan pencarian data dalam memoriku. Tanggal 14 Februari tahun lalu: dia memberiku cokelat setelah aku menyelesaikan revisi makalahnya. Tanggal 20 Juni: dia mengajakku makan malam romantis tepat setelah aku meng-input data survei lapangannya yang berantakan.
Sebuah pola mulai muncul. Sebuah korelasi yang sangat kuat, dengan nilai R mendekati 1,0.
"Ram," suaraku bergetar, bukan karena sedih, tapi karena sebuah kesadaran yang menghantam telak. "Minggu depan itu tenggat akhir pengumpulan draf bab empat untuk konsentrasi Manajemen, kan?"
Rama tertegun sejenak. Matanya berkedip lebih cepat dari frekuensi normal. "Iya, kenapa emangnya?"
"Dan kamu belum menyentuh bagian analisis regresi linear bergandamu sama sekali?"
Dia mencoba tertawa, suara yang terdengar seperti transmisi radio yang terganggu cuaca buruk. "Ya, makanya... aku pikir mungkin kita bisa diskusi sekalian. Kamu kan jagonya. Sambil kita bicarakan soal Sarah, mungkin kamu bisa bantu aku sedikit..."
Duniaku mendadak hening. Semua kebisingan di kafe ituβdenting sendok, suara mesin espresso, obrolan orang-orangβseolah diredam oleh satu kesimpulan besar yang terpampang di layar logikaku.
Rama tidak pernah mencint**ku. Dia hanya mencint** kegunaanku.
Dia adalah parasit yang hidup di atas inangnya, dan aku adalah inang yang dengan bodohnya menyediakan nutrisi berupa angka-angka dan logika demi validasi kasih sayang yang semu. Dia merayuku kembali bukan untuk menyelamatkan hubunganku dengannya, bukan pula sepenuhnya untuk Sarah. Dia merayuku karena dia butuh 'mesin hitung' gratis untuk meloloskannya dari lubang kegagalan akademis.
"Kamu memanfaatkan aku, Ram," bisikku. Suaraku kini stabil, setajam mata pisau bedah.
"Lu, kok ngomongnya gitu? Aku tulusβ"
"Tulus apa?" aku memotongnya, berdiri dengan sentakan yang membuat beberapa orang di meja sebelah menoleh. "Tulus dalam memanfaatkan ketiadaan keterampilan sosialku? Kamu tahu aku sulit berinteraksi dengan orang lain, jadi kamu memberiku 'perhatian' sebagai imbalan atas pekerjaan otakku. Itu bukan hubungan, Rama. Itu transaksi. Dan sayangnya bagi kamu, nilai tukarku baru saja naik berkali-kali lipat."
Wajah Rama berubah. Kelembutan yang tadi dia pasang luntur, menyisakan garis wajah yang keras dan egois. "Lulu, jangan sok suci. Kamu juga butuh aku supaya nggak kelihatan kayak robot kesepian di kampus ini! Tanpa aku, siapa yang mau jalan sama cewek kaku kayak kamu?"
Kata-katanya tajam, tapi anehnya, tidak ada luka yang terbuka. Justru, aku merasa sebuah beban besar terangkat. Dia baru saja mengonfirmasi kebenaran hipotesisku.
"Kamu benar," kataku sambil meraih tas laptopku. "Aku mungkin kaku. Aku mungkin seperti robot. Tapi setidaknya, sistem operasiku tidak korup seperti punyamu."
Aku berbalik, melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. Di saku jaketku, ponselku bergetar. Sebuah pesan ma**k dari Reno.
*Reno: "Logic analyzer-nya sudah siap. Kamu mau eksekusi skripnya malam ini atau besok pagi? Sarah dan antek-anteknya nggak akan tahu apa yang menghantam mereka."*
Aku menatap layar ponsel itu, lalu menoleh sekilas ke arah Rama yang masih duduk di kafe dengan wajah merah padam. Aku menyadari satu hal: variabel kontrol dalam hidupku telah berubah. Aku bukan lagi objek yang dimanipulasi. Aku adalah sang programmer.
Jemariku dengan cepat mengetik balasan untuk Reno.
*Lulu: "Malam ini. Hapus semua toleransi. Kita bersihkan datanya sampai ke akar."*
Aku mendorong pintu kafe dan melangkah ma**k ke dalam udara malam yang dingin. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku tahu bahwa korelasi antara aku dan Rama telah mencapai titik nol. Tidak ada lagi hubungan. Yang tersisa hanyalah residu yang harus segera dihapus secara permanen.
Namun, di balik tekad itu, ada satu pertanyaan yang muncul di terminal pikiranku: jika aku menghapus semua orang yang memanfaatkanku, apakah aku benar-benar siap menghadapi variabel tak terduga yang bernama Reno? Seseorang yang membantuku tanpa menuntut input data apa pun sebagai imbalannya?
Langkahku terhenti di depan gerbang lab komputer. Di sana, Reno berdiri bersandar pada motornya, sebatang rokok yang tidak menyala terselip di jarinya, matanya yang sinis menatapku seolah dia sudah tahu hasil dari pertemuan tadi bahkan sebelum aku mengatakannya.
"Sudah selesai dramanya?" tanya Reno datar.
"Baru saja mulai," jawabku, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasakan senyumku sendiri bukan sebagai hasil dari sebuah perhitungan, melainkan sebagai sebuah reaksi spontan yang tidak terduga.
Konflik sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan ada satu pun *error* yang lolos dari pengawasanku.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!