Layar monitor di depan mataku berkedip pelan, memantulkan cahaya biru yang membuat mataku perih. Jam digital di pojok kanan bawah menunjukkan pukul 02.14 pagi. Di dalam laboratorium komputer yang sunyi ini, hanya suara dengung halus dari CPU dan detak jantungku yang terdengar. Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma sisa kopi instan dan debu elektronik memenuhi paru-paruku.
Di layar, slide presentasiku tampak sempurna. Grafik batang dan garis menunjukkan tren yang logis, koefisien korelasi yang signifikan, dan nilai *p-value* yang jauh di bawah 0,05. Secara akademis, ini adalah mahakarya. Namun, di balik tumpukan data yang terlihat bersih ini, tersimpan sebuah 'bom' digital yang telah kurakit bersama Reno selama seminggu terakhir.
"Lu, coba jalankan lagi *syntax*-nya. Bagian terakhir," suara serak Reno memecah keheningan. Ia duduk di kursi sebelahku, menyandarkan punggungnya yang tampak lelah. Kaos hitamnya tampak kusut, dan ada bayangan gelap di bawah matanya yang biasanya tajam.
Aku mengangguk patuh. Jemariku menari di atas papan ketik, memanggil baris-baris kode yang tidak tercantum dalam buku panduan statistik mana pun. Ini bukan sekadar perintah untuk mengolah data. Ini adalah skrip pelacak. Begitu Sarah atau siapa pun mencoba memanipulasi data mentah di server fakultas saat presentasiku berlangsung besok, skrip ini akan merekam jejak digital mereka secara *real-time* dan menampilkannya langsung di layar proyektor.
"Sudah siap," bisikku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiriβdingin dan penuh perhitungan. "Begitu dia mencoba ma**k ke *database* untuk mengubah variabel kontrol seperti yang dia lakukan sebelumnya, log aktivitasnya akan muncul sebagai *pop-up* di tengah presentasiku. Semua penguji akan melihat alamat IP dan akun pengguna yang melakukannya."
Reno tidak langsung menyahut. Ia memperhatikan baris kode itu dengan dahi berkerut. Tangannya yang besar bergerak gelisah, memutar-mutar sebuah obeng kecil yang entah sejak kapan ia pegang.
"Lulu," panggilnya pelan. "Kau tahu kan, ini pedang bermata dua?"
Aku menoleh, menatapnya dengan alis bertaut. "Maksudmu?"
"Kalau ini berhasil, Sarah tamat. Tapi kalau sistem fakultas mendeteksi ada skrip ilegal yang kau tanam di server mereka sebelum sidang dimulai... kau bisa dianggap melakukan sabotase. Mereka tidak akan peduli siapa yang mulai duluan. Mereka hanya akan melihat kau meretas sistem." Reno memutar kursinya agar menghadapku sepenuhnya. Tatapannya tidak lagi sinis seperti biasanya; ada kecemasan yang nyata di sana.
"Data tidak pernah berbohong, Ren. Sarah yang memulainya dengan memanipulasi skripsiku melalui akses admin yang dia curi dari kantor jurusan," balasku sengit. Aku bisa merasakan suhu tubuhku meningkat. "Aku hanya mengembalikan kebenaran ke tempatnya. Itu bukan sabotase. Itu validasi."
"Masalahnya, birokrasi kampus tidak bekerja berdasarkan logika statistikmu!" Reno sedikit menaikkan nadanya, membuatku tersentak. Ia segera merendahkan suaranya lagi, menyadari betapa sunyinya ruangan ini. "Lulu, kau punya masa depan yang cerah. Kau jenius. Kau bisa saja mengulang pengambilan data, lulus terlambat sedikit, tapi tetap bersih. Dengan rencana ini, kau mempertaruhkan seluruh gelarmu. Hanya untuk membalas dendam pada seorang pengkhianat dan cowok br****** seperti Rama?"
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak, seolah ada variabel pengganggu yang menyelinap ma**k ke dalam sistem pertahananku. Aku teringat wajah Rama yang tersenyum manis saat membohongiku, dan teringat bagaimana Sarah dengan angkuh mengkritik hasil olah dataku di depan dosen pembimbing, padahal dialah yang merusak angka-angka itu.
"Ini bukan cuma soal dendam," kataku dengan suara yang bergetar namun tegas. Aku mengepalkan tangan di atas meja. "Ini soal integritas. Jika aku membiarkan mereka menang, maka semua angka yang kupelajari selama empat tahun ini tidak ada gunanya. Jika kebenaran bisa diubah-ubah semudah mengetik angka di Excel, lalu untuk apa kita melakukan penelitian?"
Reno menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar seperti kekalahan. Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekat hingga aku bisa mencium aroma tipis oli dan parfum maskulin yang mulai memudar. Ia meletakkan tangannya di sandaran kursiku, mengurungku dalam ruang pribadinya yang intens.
"Kau terlalu kaku, Lu. Dunia ini penuh dengan *outliers* yang tidak bisa kau buang begitu saja hanya supaya grafikmu terlihat cantik," bisiknya, tepat di samping telingaku. "Aku takut... saat bom ini meledak besok, kau juga ikut hancur di dalamnya."
Aku menengadah, menatap matanya yang berwarna cokelat gelap. Di sana, aku tidak menemukan sinisme yang biasa ia tunjukkan pada dunia. Aku menemukan kekhawatiran yang tulusβsebuah variabel yang tidak pernah kuprediksi akan muncul dalam eksperimen ini. Selama ini, aku menganggap Reno hanya sebagai teknisi yang membantuku karena dia juga membenci sistem. Aku tidak pernah memperhitungkan kemungkinan bahwa dia... peduli padaku melebihi batas profesionalisme kami.
Jariku gemetar saat aku kembali menyentuh tetikus. "Aku sudah menghitung risikonya, Reno. Prob***litas kegagalannya hanya dua belas persen."
"Dan bagaimana dengan delapan puluh delapan persen sisanya?" Reno bertanya, suaranya kini terdengar sangat dekat. "Apakah kau sudah menghitung bagaimana perasaanku kalau aku harus melihatmu keluar dari ruang sidang itu dengan surat drop-out, bukannya ijazah?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat daripada semua teori prob***litas yang pernah kupelajari. Aku tidak punya jawaban. Komunikasi interpersonal memang selalu menjadi kelemahanku, dan saat ini, algoritma di kepalaku mengalami *runtime error*.
Aku memalingkan wajah kembali ke layar, mencoba memfokuskan diri pada grafik-grafik dingin yang tidak menuntut jawaban emosional. Namun, bayangan Reno di pantulan monitor membuat fokusku buyar.
"Besok jam sembilan pagi," kataku, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sidang dimulai. Aku butuh kau di ruang kontrol lab, memastikan koneksi stabil saat aku menjalankan skripnya."
Reno diam untuk waktu yang lama, hingga aku mengira dia akan menolak. Akhirnya, ia menepuk bahuku sekaliβsebuah sentuhan singkat yang meninggalkan rasa hangat yang aneh.
"Aku akan di sana," katanya pelan. "Tapi ingat satu hal, Lulu. Jika semuanya mulai kacau... aku akan menarik kabel servernya. Aku lebih baik melihatmu gagal sidang karena gangguan teknis daripada melihatmu menghancurkan dirimu sendiri."
Reno berbalik dan berjalan menuju pintu keluar lab, meninggalkanku sendirian dengan cahaya biru monitor yang kian terasa dingin. Aku menatap ikon 'Execute' di layar. Besok, aku tidak hanya akan mempresentasikan hasil penelitianku. Aku akan menekan tombol yang akan mengubah hidupku selamanya.
Tanganku bergerak menuju tas, lalu aku menyentuh sebuah amplop cokelat di dalamnya. Itu adalah data cadangan yang asliβa**ransi terakhirku. Namun, saat aku melihat jam di dinding yang terus berdetak, aku menyadari bahwa kecemasanku bukan lagi soal Sarah atau Rama.
Kecemasanku adalah... bagaimana jika Reno benar? Bagaimana jika dalam usahaku mencari keadilan lewat angka, aku justru kehilangan satu-satunya variabel yang mulai terasa nyata di hidupku?
Aku menekan tombol 'Save' untuk terakhir kalinya. Di luar, langit mulai berubah menjadi abu-abu pucat, pertanda fajar segera tiba. Esok adalah hari di mana semua korelasi akan terbukti, atau justru hancur menjadi sekadar *error* yang tidak termaafkan.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!