Dinginnya pendingin ruangan di Lab Komputer 3 lant** tiga hari ini terasa lebih menusuk tulang daripada biasanya. Padahal, ruangan itu penuh sesak oleh mahasiswa tingkat akhir yang ingin menyaksikan seminar proposal paling diantisipasi di angkatan kami. Bau kopi instan yang menguap dari gelas kertas di meja dosen penguji bercampur dengan aroma parfum mahal Sarah yang memenuhi udara.
Aku duduk di barisan paling belakang, sengaja memilih sudut gelap yang tidak akan menarik perhatian. Tanganku terkepal erat di bawah meja, kuku-kukuku menekan telapak tangan hingga meninggalkan bekas sabit yang dalam. Di depan sana, Sarah berdiri dengan blazer krem yang disetrika sempurna. Dia tampak seperti perwujudan kesuksesan akademik: rambut dikuncir kuda dengan rapi, senyum yang diperhitungkan, dan sorot mata yang memancarkan kepercayaan diri semu.
"Terima kasih kepada Dewan Penguji yang terhormat," suara Sarah mengalun tenang, penuh wibawa. "Hari ini, saya akan mempresentasikan penelitian saya yang berjudul 'Analisis Dinamika Loyalitas Konsumen Melalui Variabel Intervening Kepuasan Digital'."
Aku menahan napas saat slide pertama muncul di layar proyektor. Jantungku berdegup dengan frekuensi yang tidak beraturan, seolah-olah fungsi *Random Walk* sedang terjadi di dalam dadaku. Di sana, di layar putih itu, terpampang diagram jalur yang sangat kukenal. Itu adalah struktur logika yang kubangun selama berbulan-bulan. Setiap panah, setiap variabel kontrol, bahkan penamaan unik untuk indikator *latent* yang kugunakan—semuanya ada di sana.
Itu bukan sekadar mirip. Itu adalah jiwaku yang diproyeksikan ke dinding.
"Dalam data yang saya kumpulkan dari lima ratus responden," Sarah melanjutkan, jemari lentiknya menekan *laser pointer* ke arah tabel korelasi, "kita bisa melihat nilai signifikansi yang sangat kuat pada variabel kepercayaan. Perhatikan nilai *p-value* yang mencapai 0,001."
Darahku mendidih. Dia menyebut kata 'saya kumpulkan' dengan begitu mudahnya, seolah-olah dia tidak mencuri *database* itu dari folder pribadiku melalui akses komputer Rama. Aku teringat malam-malam tanpa tidur, bergelut dengan ribuan baris data mentah yang berantakan, melakukan *cleaning* data hingga mataku perih, hanya untuk melihat hasilnya dipanen oleh orang yang bahkan tidak tahu cara menghitung standar deviasi secara manual.
Aku melirik ke arah pintu ma**k. Reno berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu dengan tangan terlipat di dada. Teknisi lab itu tidak menatap ke arah panggung, dia menatapku. Tatapannya dingin, namun ada semacam sandi rahasia di matanya—pengingat akan percakapan kami di pojok lab tadi malam. *“Jangan biarkan emosi merusak logika kodemu, Lulu. Tunggu sampai dia merasa di atas angin,”* bisiknya saat itu.
Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan variabel emosiku.
"Data ini menunjukkan konsistensi yang luar biasa," kata Pak Darmawan, salah satu dosen penguji yang dikenal paling pelit memberi nilai A. Beliau membetulkan letak kacamatanya, tampak terkesan. "Jujur saja, Sarah, saya jarang melihat mahasiswa tingkat akhir bisa menghasilkan *Output* SPSS sebersih ini. Tidak ada masalah mult***linearitas sama sekali. Bagaimana Anda melakukan *treatment* terhadap data *outlier*?"
Sarah tersenyum manis, senyum yang biasanya dia gunakan untuk memikat Rama. "Saya menggunakan metode eliminasi bertahap, Pak. Saya memastikan setiap data yang tidak konsisten langsung dibuang agar tidak merusak model secara keseluruhan."
Bohong. Dia berbohong di depan semua orang. Aku tahu persis bahwa data itu tidak dieliminasi, melainkan dimanipulasi dengan algoritma *smoothing* yang sengaja kubuat untuk eksperimen pribadiku—sebuah algoritma yang memiliki 'lubang' tersembunyi yang hanya bisa dipicu oleh perintah tertentu.
Saat itu juga, aku merasakan ponsel di saku celanaku bergetar. Satu pesan singkat dari Reno: *Log-in sekarang. Pintu belakang sudah terbuka.*
Aku membuka laptop yang sejak tadi mendekam di pangkuanku, layarnya sengaja kuredupkan hingga batas minimum. Jemariku bergerak dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah terbiasa dengan bahasa mesin. Aku ma**k ke server lokal lab komputer, menyelinap melalui celah *firewall* yang sudah disiapkan Reno.
Di layar proyektor, Sarah sedang menjawab pertanyaan penguji lain dengan penuh kemenangan. Dia merasa di atas angin. Dia merasa telah berhasil mencuri masa depanku. Namun, dia tidak sadar bahwa data yang dia presentasikan saat ini sedang terhubung secara *real-time* dengan *file master* yang ada di server lab—file yang baru saja kukirimkan perintah 'perbaikan'.
Aku mengetikkan sebaris syntax di terminal: `run script_anomaly_detection.py --trigger_chaos`.
"Sebentar," suara interupsi datang dari Pak Darmawan. Beliau mengerutkan kening, menatap layar proyektor yang tiba-tiba berkedip. "Sarah, coba lihat tabel koefisien Anda. Kenapa angkanya berubah?"
Sarah menoleh ke belakang, tawanya yang tadi renyah mendadak mati. Angka-angka di layar mulai bergeser. Nilai 0,001 yang tadinya menunjukkan signifikansi sempurna, perlahan berubah menjadi 0,999. Tanda bintang yang melambangkan keakuratan data menghilang satu per satu, digantikan oleh pesan *Error 404: Logic Not Found* di pojok tabel.
"Lho, ini... ini pasti ada kesalahan teknis dengan proyektornya, Pak," gagap Sarah. Wajahnya yang tadi merona merah muda kini pucat pasi seputih kertas HVS.
"Ini bukan masalah proyektor," sahut dosen penguji lainnya dengan nada curiga. "Data Anda sedang melakukan kalkulasi ulang di depan mata kami. Lihat, nilai determinasinya menurun drastis. Jika data ini benar-benar hasil penelitian orisinal Anda, jelaskan kenapa variabelnya menjadi tidak stabil seperti ini?"
Sarah terpaku. Tangannya yang memegang *laser pointer* mulai gemetar hebat. Dia menatap layar, lalu menatap audiens dengan panik. Saat itulah, matanya bertemu dengan mataku.
Aku tidak tersenyum. Aku tidak bersorak. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar yang biasa kugunakan saat membaca baris kode yang gagal dieksekusi. Aku ingin dia tahu bahwa di dunia statistik, satu variabel pengganggu saja sudah c**up untuk menghancurkan seluruh hipotesis. Dan hari ini, aku adalah variabel pengganggu itu.
"Saya... saya tidak tahu, Pak. Tadi pagi datanya masih normal," suara Sarah mencicit, nyaris tidak terdengar.
"Seorang peneliti harus bertanggung jawab atas setiap angka yang dia sajikan," suara Pak Darmawan meninggi, suasana ruangan berubah mencekam. "Jika Anda tidak bisa menjelaskan mengapa data Anda berubah secara anomali, saya harus mempertanyakan integritas dari seluruh proposal ini."
Riuh rendah bisikan mahasiswa mulai memenuhi ruangan. Aku melihat Sarah mulai berkeringat dingin, matanya mencari-cari sosok Rama di antara kerumunan, namun pria itu tidak ada di sana untuk menyelamatkannya.
Aku menutup layar laptopku dengan gerakan pelan, hampir tanpa suara. Tugasku di sini selesai. Namun, saat aku berdiri untuk keluar dari ruangan, sebuah tangan menahan bahuku.
Aku menoleh dan menemukan Reno sudah berdiri di belakangku. Ekspresi sinisnya hilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih tajam.
"Lulu, tunggu," bisiknya, suaranya sangat rendah hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. "Ini baru permulaan. Lihat apa yang dilakukan Pak Darmawan sekarang."
Aku kembali menatap ke depan panggung. Pak Darmawan tidak lagi menatap layar, beliau sedang menatap sebuah folder fisik di mejanya—folder yang belum pernah kulihat sebelumnya. Beliau menarik keluar selembar kertas yang berisi *log* aktivitas server lab.
Jantungku berhenti berdetak sejenak. Jika Pak Darmawan memeriksa *log* itu, dia bukan hanya akan menemukan kecurangan Sarah. Dia juga akan menemukan jejak penyusupanku ke dalam sistem.
"Siapa yang ma**k ke sistem server sepuluh menit yang lalu?" suara Pak Darmawan menggelegar, merobek keheningan yang tersisa.
Aku membeku. Variabel tak terduga baru saja ma**k ke dalam perhitunganku. Dan kali ini, variabel itu bisa menghancurkan kami berdua.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!